Olahraga

US Open di Shinnecock Hills jadi pelajaran penting: golf harus siaga cegah perilaku buruk

×

US Open di Shinnecock Hills jadi pelajaran penting: golf harus siaga cegah perilaku buruk

Sebarkan artikel ini
US Open shows why golf is on guard against bad behaviour
Ilustrasi: US Open at Shinnecock Hills shows why golf on guard against bad behaviour

jurnalistik.co.id – US Open di Shinnecock Hills pekan lalu tidak hanya menguji ketepatan pukulan, tetapi juga ketahanan mental dan etika para pemain. Turnamen itu menjadi pengingat bahwa golf perlu “siaga” terhadap perilaku buruk, baik di dalam maupun di luar lapangan.

Wyndham Clark keluar sebagai juara pada hari Minggu, di arena Shinnecock Hills. Ia meraih gelar keduanya setelah sukses pula pada 2023. Namun, edisi ini diingat sama kuatnya oleh sisi yang kurang sedap: standar perilaku yang menurun dan terasa mendominasi jalannya kejuaraan.

Sejak awal, lapangan disiapkan dengan gaya tradisional US Open. Tantangannya menuntut “spektrum penuh” jenis pukulan, menghukum setiap kekurangan hingga milimeter terakhir. Di hari penentuan, Clark memang “limped home”, tetapi tetap mampu menjaga performa untuk mengunci kemenangan.

Meski mampu menang, Clark tidak menikmati dukungan seperti yang diharapkan. Ia lebih sering menerima ejekan daripada sorak sorai, saat menahan perlawanan Sam Burns dan Scottie Scheffler yang berstatus nomor satu dunia. Dalam atmosfer seperti itu, pertandingan tetap dramatis, namun nuansa “uji mental” berubah menjadi cermin masalah yang lebih luas.

Salah satu alasan ketidakpopuleran Clark disebut berasal dari tindakannya yang marah ketika gagal melewati cut di US Open tahun lalu. Setelah kejadian itu, Clark merusak dua pintu locker tua di clubhouse Oakmont secara “furious”, tindakan yang digambarkan sebagai vandalisme tak terkendali.

Menurut uraian yang sama, peristiwa tersebut dianggap menyiratkan rasa “entitlement” yang dirasakan menyebar di lapisan atas permainan golf putra. Padahal, para pemain kini disebut menikmati kondisi yang jauh lebih baik: lebih kaya, lebih dipamper, tetapi justru tampak lebih tidak menarik dalam kemarahan.

Contoh lain yang disorot adalah dinamika permintaan maaf di televisi. Setiap siaran, disebut “terisi” komentator yang dipaksa menyampaikan permintaan maaf atas bahasa buruk para pemain, dan ironisnya yang melakukan apologinya justru penyiar, bukan golfer itu sendiri. Situasi ini dipandang menunjukkan kurangnya akuntabilitas.

Gelombang kekhawatiran tersebut mendorong para “majors” memperkenalkan kode etik perilaku baru. Dampaknya langsung terlihat pekan lalu ketika Joaquin Niemann menjadi pemain pertama yang menerima penalti dua pukulan karena melempar stik.

Kejadian itu berlangsung saat Niemann juga mencatat angka 9 di hole par-4 keenam pada ronde pertamanya. Angka sembilan tersebut kemudian “menjadi 11” setelah penalti dua pukulan diberlakukan. Niemann disebut tetap memulihkan ritme dan akhirnya berhasil membuat cut serta finis tied for seventh.

Uraian yang sama menambahkan bahwa Niemann akan berada di peringkat ketiga jika penalti tersebut tidak terjadi, yang juga berarti ia akan memperoleh undangan Masters yang sudah terjamin. USGA juga disebut memilih jalan yang lebih “mengena”: tindakan tersebut memengaruhi scorecard, bukan sekadar denda yang dianggap tidak berarti pada neraca keuangan.

Sejumlah pihak menilai tindakan tegas semacam itu secara umum terlambat, namun tetap dianggap sepadan. Mantan kapten Eropa Ryder Cup, Paul McGinley, menyampaikan pandangan pada penonton Golf Channel dengan nada yang mendukung kebijakan itu.

Dalam kutipan yang disajikan, McGinley berkata, “I really like what’s happening here,”. Ia melanjutkan bahwa golf adalah permainan yang memperlihatkan begitu banyak hal “in favour of the players”, termasuk soal entitlement, uang, dan kontrol. Ia juga menegaskan, “The powers that be, the R&A and USGA, along with Augusta National, are making a very strong stance here about codes of conduct.”

McGinley menambahkan bahwa “And about boundaries. And I think those boundaries have been stretched too far over the years. And its really good and refreshing to see those boundaries coming in.” Intinya, ia melihat batas yang selama ini terkikis perlu ditegakkan kembali agar nilai permainan dan integritasnya tidak tergerus.

Meski demikian, penalti Niemann juga menciptakan pertanyaan besar tentang konsistensi penegakan. Disebutkan bahwa preseden ini akan sulit diberlakukan secara adil, karena tiap pemain bisa mendapatkan tingkat pengawasan yang berbeda. Konsekuensinya bisa menyentuh papan klasemen, cut, hingga lintasan karier.

Musim berikutnya akan membawa sorotan lebih dekat ke aturan perilaku. Nantinya, perhatian akan jatuh pada Open Championship bulan Juli di Royal Birkdale. Mark Darbon, chief executive R&A, dilaporkan mengatakan bahwa ia siap memberi penalti shot untuk perilaku buruk.

Darbon menyampaikan, “You want passion from players, you want passion from spectators, but there’s a fine line, and one of the amazing things about this sport are the values and integrity that underpin it,”. Ia menutup dengan, “So we will watch that line very closely.”

Dari sisi implementasi, disebutkan bahwa setiap grup di The Open memiliki juru pemeriksa (referee) individual. Mekanisme itu diharapkan membuat penegakan kode etik berlangsung dengan konsisten. Sementara itu, tur-tur utama masih merampungkan protokol yang dianggap bisa diterima oleh “bos” paling akhir, yakni para pemain.

Di luar lapangan, pengelolaan perilaku juga harus dilakukan dengan cermat, karena turnamen dimainkan dalam arena yang “intim”. Ada kerumunan penonton (galleries of fans) yang memiliki akses untuk berada dekat dengan pemain, sehingga ruang untuk respons spontan sangat terbuka.

Dalam uraian itu, disebutkan adanya individu yang berperilaku “boorish”, yang berulang kali terdengar berteriak dengan kalimat yang tidak lucu, bahkan menjadi bentuk pelecehan yang sengaja dirancang untuk memengaruhi hasil. Contoh yang disebut adalah seruan yang diterima Clark saat ia sedang memimpin.

“Don’t choke Wyndham,” disebut menjadi kalimat terakhir yang Clark butuhkan saat keunggulan enam pukulannya sedang “whittling away” pada hari Minggu lalu. Namun, sentimen semacam itu disebut terus terdengar di telinga Clark sepanjang final day. Kondisi seperti ini menggambarkan betapa pemain tidak punya “escape”, seolah permainan merayap menuju titik di mana orang bisa mulai meneriakkan sesuatu tepat saat backswings untuk mengganggu konsentrasi saat pukulan dilakukan.

Faktor lain yang turut disebut sebagai penguat suasana adalah berkembangnya perjudian dalam industri golf, baik di sisi Atlantik mana pun. Disebutkan bahwa hal itu tidak membantu memperbaiki situasi. Dampak kerumunan yang “partisan” juga pernah terlihat pada Ryder Cup musim gugur lalu di Bethpage, ketika pelecehan terhadap bintang Eropa disebut sebagai “absolute disgrace”.

Setelah itu, top level golf disebut kembali ke Long Island pekan lalu. Namun beberapa anggota kerumunan New York kembali dinilai “hidup” sesuai standar yang menurun. Ketika The Open akan kembali ke Inggris barat laut, uraian itu mengingatkan bahwa perilaku serupa pernah muncul sebelumnya.

Contoh yang disorot adalah Brian Harman yang memenangkan Open 2023 di Hoylake ketika kejuaraan terakhir kali berada di kawasan tersebut. Harman dan Clark disebut memiliki banyak kesamaan: sama-sama mengalami hal-hal yang mendampingi momen-momen terbaik mereka di lapangan golf.

Dengan target kerumunan rekor yang diperkirakan di Birkdale, disebutkan bahwa keberhasilan dalam mempolisi perilaku penonton akan menjadi kunci. Di musim panas dengan suasana minuman yang tinggi, tantangan akan makin nyata.

Pada hari Minggu lalu, Clark dan Burns menghasilkan denouement yang memikat. Pertandingan itu dimainkan di lapangan yang hebat sekaligus menyebalkan (great but maddening), tetapi tetap menghadirkan penutup yang luar biasa. Meski begitu, Shinnecock Hills juga membuktikan bahwa olahraga ini tidak pernah terasa se-marah atau se-tidak tertib sebelumnya.

Karena itu, “those imposters” disebut harus ditahan. Tanpa kesopanan tradisional, golf dinilai akan semakin berkurang kualitasnya, bukan hanya dari sisi permainan, melainkan dari nilai yang seharusnya melindungi martabat turnamen.