Peristiwa

Masih Ada Massa Demo Bertahan di Dukuh Atas Jakpus, Tapi Tanpa Almamater Kampus

1
×

Masih Ada Massa Demo Bertahan di Dukuh Atas Jakpus, Tapi Tanpa Almamater Kampus

Sebarkan artikel ini
Masih ada Massa Demo Bertahan di Dukuh Atas Jakpus, tapi Tak Pakai Almamater Kampus News 12 Juni 2026
Ilustrasi: Masih ada Massa Demo Bertahan di Dukuh Atas Jakpus, tapi Tak Pakai Almamater Kampus

jurnalistik.co.id – Pada Jumat (12/6/2026) malam, massa mahasiswa yang menggelar aksi di Jalan MH Thamrin, Jakarta Pusat, telah membubarkan diri sekitar pukul 21.00 WIB. Meski demikian, masih ada puluhan orang yang bertahan di kawasan Dukuh Atas.

Di lokasi tersebut, mereka mayoritas berpakaian hitam-hitam dan membawa poster berisi sejumlah tuntutan. Massa berkumpul di bahu Jalan MH Thamrin sambil membentangkan poster ke arah kendaraan yang melintas menuju Bundaran HI.

Beberapa dari mereka meminta pengendara membunyikan klakson sebagai bentuk dukungan terhadap tuntutan yang tertulis di poster. Kendaraan roda empat maupun roda dua pun terlihat membunyikan klakson saat melintas.

Ketika dikonfirmasi, sejumlah orang yang masih berada di Dukuh Atas menyebut mereka merupakan gabungan warga sipil, mahasiswa, dan karyawan swasta. Mereka menyatakan tujuan bertahan di lokasi tersebut, setidaknya sampai ada respons dari pihak pemerintah.

Oip (25), seorang karyawan swasta yang masih bertahan, mengatakan, “Kita bertahan semampu kita. Kalau bisa kita lakukan ini sampai pemerintah, benar-benar salah satu perwakilan pemerintah turun dulu,”. Ia menambahkan, “Kenapa kita mengadakan di sini? Menurut saya, kenapa kita mengadakan di HI? Karena adalah titik pusat kota,”.

Dalam aksi yang menjadi latar belakang situasi di lapangan, sejumlah universitas disebut ikut bergabung, yakni UI, Politeknik Negeri Jakarta (PNJ), Universitas Pancasila, Institut Pertanian Bogor (IPB), dan Sekolah Tinggi Teknologi Nurul Fikri.

Mahasiswa yang sebelumnya melakukan aksi membawa lima poin tuntutan. Mereka meminta agar pemerintah menghentikan pemborosan APBN, menurunkan harga kebutuhan pokok dan BBM, serta menghentikan program MBG dan Pembangunan Koperasi Desa Merah Putih. Selain itu, tuntutan juga mencakup penghentian militerisme di ranah sipil, serta permintaan agar Presiden Prabowo berhenti mengelak dan mengakui kesalahan pemerintah.

Kegiatan di area tersebut berlangsung setelah kericuhan sempat kembali terjadi dalam aksi yang digelar di Jalan Jenderal Sudirman, Jakarta Pusat pada Jumat (12/6/2026) malam. Setelah itu, massa aksi kemudian membubarkan diri, namun sebagian orang masih bertahan di Dukuh Atas.

Hingga malam berlanjut, puluhan orang tetap berada di titik Dukuh Atas, menyampaikan tuntutan melalui poster dan menyerukan dukungan kepada pengguna jalan. Mereka berharap keberadaan di lokasi akan mendorong adanya perwakilan pemerintah yang turun merespons tuntutan yang dibawa.

Di tengah aktivitas dukungan tersebut, para peserta tetap berjaga di bahu jalan dan saling berkoordinasi dalam menyuarakan isi poster. Beberapa di antaranya sempat terlihat menyesuaikan posisi saat kendaraan melintas, agar tulisan pada poster terbaca oleh pengendara yang melaju menuju Bundaran HI.

Meskipun aksi utama di beberapa titik sudah mereda, suasana di Dukuh Atas masih menunjukkan konsistensi tuntutan. Mereka menyatakan bahwa bertahan bukan sekadar meneruskan keramaian, melainkan menunggu adanya tanggapan dari pihak pemerintah yang dianggap belum hadir secara langsung untuk menjawab poin-poin yang disampaikan.

Dalam penjelasan mengenai lima poin tuntutan, para mahasiswa yang ikut menyampaikan aspirasi menyoroti aspek pengelolaan kebijakan dan dampaknya bagi masyarakat. Selain dorongan agar pemborosan APBN dihentikan, mereka juga kembali menekankan kebutuhan agar harga kebutuhan pokok serta BBM diturunkan, serta program MBG dan Pembangunan Koperasi Desa Merah Putih dihentikan.

Tuntutan lain yang disampaikan juga berkaitan dengan sikap pemerintah terhadap kritik yang muncul dalam aksi sebelumnya. Mereka menyebut penghentian militerisme di ranah sipil serta permintaan agar Presiden Prabowo menghentikan pengelakan dan mengakui kesalahan pemerintah. Narasi ini menjadi alasan mengapa sebagian orang memilih tetap bertahan di lokasi hingga malam semakin larut setelah kericuhan di Jalan Jenderal Sudirman berlangsung.