jurnalistik.co.id – Seorang siswi kelas 3 SD Negeri 33 Rawang, Kecamatan Padang Selatan, Kota Padang, Sumatera Barat, dilaporkan sempat menyebut nama sejumlah teman yang diduga merundungnya sebelum meninggal dunia.
Ayah korban, Wahid Al Amin, mengatakan keterangan itu disampaikan putrinya saat masih berada di rumah sakit pada Kamis (23/7/2026), tepat pada hari ulang tahunnya.
Menurut keluarga, informasi dari NA (10) menjadi salah satu dasar munculnya kecurigaan bahwa sakit dan cedera yang dialami korban berkaitan dengan dugaan kekerasan di lingkungan sekolah.
Wahid menjelaskan bahwa dugaan perundungan menguat setelah NA menyampaikan nama-nama rekan sekolah kepada keluarganya sebelum meninggal.
Ia menyatakan, “Sebelum berpulang, NA sempat memberikan informasi penting kepada keluarganya mengenai nama-nama rekan sekolah yang diduga menjadi pelaku perundungan terhadap dirinya,”.
Keluarga menduga ada tindakan fisik
Meski demikian, artikel sumber tidak merinci nama, jumlah, maupun bentuk dugaan tindakan yang disebut NA terhadap dirinya.
Wahid juga mengaku belum mengetahui secara pasti apa yang terjadi di sekolah. Namun, ia menduga NA mungkin mengalami perlakuan fisik, seperti didorong atau dipukul.
Dugaan tersebut muncul setelah korban pulang sekolah pada Senin (20/7/2026) dalam kondisi tubuh tidak nyaman, lalu mengalami sakit hebat di bagian pinggang.
Keluarga menyebut dugaan perundungan terhadap NA bukan kejadian pertama. Korban disebut telah mengalami intimidasi sejak duduk di kelas 2 SD.
Berita Terkait
Persoalan itu, menurut keluarga, sempat disampaikan kepada pihak sekolah. Dugaan tindakan serupa kemudian dikatakan kembali terjadi setelah NA naik ke kelas 3.
Sekolah dan dinas menyatakan belum menemukan indikasi
Sementara itu, pihak SD Negeri 33 Rawang membantah adanya perundungan terhadap NA.
Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Kota Padang juga menyatakan belum menemukan indikasi perundungan berdasarkan klarifikasi awal kepada pihak sekolah.
Hingga saat ini, pernyataan keluarga dan bantahan sekolah masih menjadi dua versi yang berbeda dalam upaya penelusuran terkait peristiwa sebelum meninggalnya NA.
Keterangan yang disampaikan NA kepada keluarganya saat masih dirawat menjadi titik balik yang membuat mereka semakin yakin bahwa ada persoalan di lingkungan sekolah. Ayah korban menceritakan, informasi tersebut disampaikan pada hari yang sama dengan ulang tahun NA, sehingga keluarga memaknainya sebagai pesan terakhir yang penting.
Selain dugaan yang menguat menjelang wafat, keluarga juga menyebut adanya pola intimidasi yang sudah berlangsung sebelum NA berada di kelas 3. Menurut narasi keluarga, kejadian semacam itu disebut kembali muncul setelah korban naik kelas, sehingga dugaan hubungan antara sakit dan cedera dengan perundungan tidak muncul begitu saja, melainkan berangkat dari pengalaman sebelumnya.
Wahid mengatakan dirinya belum memegang rincian menyeluruh mengenai apa yang sebenarnya terjadi di sekolah. Ia hanya memahami situasi berdasarkan cerita NA dan kondisi tubuh korban setelah pulang sekolah, termasuk keluhan yang dirasakan di bagian pinggang. Dari keterbatasan informasi yang ada, keluarga kemudian merumuskan kemungkinan perlakuan fisik seperti dorongan atau pukulan.
Di sisi lain, bantahan dari pihak SD Negeri 33 Rawang turut mewarnai proses penelusuran. Disdikbud Kota Padang juga menyatakan bahwa, dari klarifikasi awal kepada pihak sekolah, pihaknya belum menemukan indikasi perundungan. Dengan demikian, hingga saat ini keterangan keluarga dan pernyataan sekolah masih berada pada dua versi yang berbeda.
Perbedaan pandangan tersebut membuat pembahasan beralih pada kebutuhan penjelasan yang lebih utuh terkait peristiwa sebelum NA meninggal. Keluarga menilai ada informasi yang layak ditelusuri lebih lanjut karena menyangkut nama-nama yang disebut NA, sedangkan sekolah menolak tuduhan tersebut. Situasi ini kemudian mendorong upaya klarifikasi lanjutan agar gambaran yang diperoleh tidak hanya bersandar pada satu pihak.












