jurnalistik.co.id – Tegal, Jawa Tengah — Mata air utama Pancuran 13 di kawasan Objek Wisata Guci hingga kini belum kembali mengalir setelah tertutup material banjir bandang pada awal Januari 2026. Sementara itu, warga dan pengelola masih memanfaatkan aliran dari mata air Cemangkung untuk menghidupkan kegiatan pemandian.
Sejumlah pengunjung pada Minggu (5/7/2026) tetap bisa menikmati pemandian air panas, namun sumber yang dipakai bukan lagi Pancuran 13. Air dialirkan dari mata air Cemangkung menuju pinggiran Sungai Gung menggunakan pipa.
Perubahan sumber ini membuat karakter air ikut berbeda. Suhu air dari aliran Cemangkung dinilai tidak sepanas mata air Pancuran 13 yang selama ini menjadi daya tarik utama kawasan wisata.
Dua sumber panas, fungsi yang berbeda
Di kompleks Pancuran 13 Taman Wisata Alam (TWA) Guci, terdapat dua titik mata air panas yang mengaliri dua kolam pemandian berbeda. Pancuran 13 berada tepat di samping bantaran Sungai Gung, sehingga terdampak langsung ketika banjir bandang menerjang kawasan tersebut.
Menurut keterangan di lokasi, setelah banjir bandang melanda kawasan pada awal Januari 2026, sumber mata air Pancuran 13 tertimbun material batu dan pasir. Akibatnya, mata air utama tersebut belum dapat dimanfaatkan oleh warga maupun pengelola.
Mengandalkan Cemangkung lewat pipa
Saat ini, aktivitas pemandian hanya mengandalkan aliran dari mata air Cemangkung. Air yang digunakan pengunjung berasal dari mata air yang sebelumnya mengaliri kolam bagian atas.
Salah seorang warga sekaligus petugas pengelola Pancuran 13 sebelum bencana, Heri, menjelaskan kondisi Cemangkung bergantung musim. Ia menilai aliran mata air Cemangkung umumnya lebih deras saat musim hujan, dengan suhu yang cukup panas.
“Tetapi saat musim kemarau, meski airnya tetap mengalir, suhu panasnya berkurang dan tidak sesetabil mata air Pancuran 13,” kata Heri, Minggu (5/7/2026).
Berita Terkait
Di tempat yang sama, Amar, penjaga yang bertugas di area bilas Pancuran 13, menambahkan bahwa sumber air yang saat ini dialirkan melalui pipa paralon merupakan mata air Cemangkung yang sejak lama dimanfaatkan untuk kolam pemandian bagian atas.
“Mata air yang kini dialirkan menggunakan pipa paralon sebenarnya merupakan mata air Cemangkung yang sejak lama telah dimanfaatkan untuk kolam pemandian bagian atas,” jelas Amar, Minggu (5/7/2026).
Amar juga menegaskan bahwa mata air utama Pancuran 13 sebenarnya tidak hilang. Posisi mata air tersebut masih berada di lokasi semula, hanya tertutup oleh material banjir.
“Mata airnya masih ada di bawah, tetapi posisinya tertutup,” kata Amar.
Jeda pemulihan pascabanjir
Dengan kondisi tersebut, pemandian di Pancuran 13 belum kembali pulih sepenuhnya seperti sebelum bencana. Pengunjung yang datang masih harus menerima bahwa aliran panas yang tersedia berasal dari pengalihan sumber, bukan dari Pancuran 13 yang asli.
Banjir bandang yang menerjang kawasan wisata Air Panas Pancuran 13 Guci disebut terjadi mulai Sabtu (20/12/2025) siang hingga sore hari, kemudian berlanjut berdampak hingga awal Januari 2026 yang membuat material menimbun lokasi mata air utama Pancuran 13.
Hingga saat ini, perbedaan suhu dan karakter aliran menjadi pembeda paling terasa bagi pengunjung. Meski begitu, penggunaan sumber Cemangkung tetap menjaga keberlangsungan aktivitas wisata di kompleks Pancuran 13, sambil menunggu pemulihan mata air utama yang tertutup material banjir.
Di sisi pengelola, pengalihan aliran membuat operasional pemandian menyesuaikan kondisi pascabanjir. Aliran panas yang tersedia kini datang dari pengaturan pipa paralon yang menyalurkan air dari mata air Cemangkung ke area kolam yang sebelumnya bergantung pada pancuran utama. Perubahan itu juga membuat pengunjung merasakan perbedaan saat masuk ke kolam, terutama pada sensasi panas yang selama ini menjadi ciri khas.
Sejumlah warga menilai, pengaruh cuaca turut menentukan “rasa” air yang dialirkan dari Cemangkung. Ketika musim hujan, aliran biasanya lebih deras dan hangatnya lebih terasa, sementara pada musim kemarau aliran tetap bergerak namun tidak setajam suhu panas dari Pancuran 13. Dengan situasi seperti ini, pemulihan menunggu terbukanya kembali mata air Pancuran 13 yang tertimbun material banjir, sehingga fungsi utamanya dapat kembali seperti semula.







