jurnalistik.co.id – Mendengar istilah “Ojek Setan”, banyak orang mungkin lebih dulu membayangkan cerita mistis yang lekat dengan medan pegunungan. Namun suasana di Basecamp Pendakian Gunung Sumbing via Garung, Desa Butuh, Kecamatan Kalikajar, Kabupaten Wonosobo, Jawa Tengah, memberi gambaran yang sama sekali berbeda.
Di tempat ini, “Ojek Setan” justru dikenal sebagai atraksi yang sering menjadi perhatian pendaki maupun wisatawan sejak langkah pertama menuju jalur pendakian. Sebagian pengunjung datang dengan rasa penasaran, lalu melihat sendiri bagaimana layanan itu bekerja di lapangan.
Kepala Desa Butuh, Dzikroni, menegaskan bahwa nama tersebut tidak berhubungan dengan hal-hal mistis. Julukan itu muncul karena cara mengangkut penumpang dibuat berbeda dari kebiasaan layanan ojek pada umumnya.
Dalam penjelasannya, Dzikroni menyebutkan bahwa penumpang biasanya duduk di jok belakang, tetapi pada Ojek Setan posisi penumpang berada di bagian depan motor. Penumpang duduk tepat di antara setang dan pengemudi, sebuah tata letak yang membuat pengalaman berkendara terasa tidak biasa sejak awal.
Penataan kursi yang berbeda itu juga menjadi alasan banyak orang yang baru pertama kali melihatnya langsung mengeluarkan ponsel untuk mengabadikan momen. Bagi sebagian pendaki, momen tersebut menjadi semacam pemanasan sebelum melanjutkan perjalanan.
“Ya itulah kenapa disebut ojek setan, karena beda dari yang lain, penumpang di depan sopir,” kata Dzikroni, Minggu (5/7/2026). Ucapan itu merangkum inti layanan: keunikan sederhana, tetapi terlihat jelas di tingkat paling awal interaksi antara pengemudi dan penumpang.
Di basecamp, deretan motor trail yang siap jalan menjadi pemandangan yang hampir selalu hadir setiap hari. Para pengemudi menunggu penumpang untuk diberangkatkan, termasuk mereka yang bergerak menuju area tanah garapan milik warga maupun wilayah Perhutani di lereng Gunung Sumbing.
Berita Terkait
Perjalanan yang ditempuh tidak selalu mudah dijangkau kendaraan biasa, sehingga keberadaan Ojek Setan berperan sebagai akses alternatif bagi aktivitas di lereng. Dari basecamp, layanan ini membantu mengantar penumpang menuju titik perjalanan yang lebih jauh.
Dzikroni menjelaskan tujuan umum pengantaran para pendaki, terutama dalam rangkaian perjalanan menuju pos. “Ya nanti para pendaki akan diantar sampai pos satu,” kata dia.
Dengan begitu, Ojek Setan tidak berhenti sebagai tontonan semata. Ia turut memenuhi kebutuhan mobilitas di area lereng yang aksesnya terbatas, sambil menghadirkan pengalaman yang membuat pengunjung merasa sedang menyaksikan sesuatu yang khas.
Selain menarik perhatian, Ojek Setan juga menjadi kebiasaan baru bagi sebagian wisatawan yang sengaja meluangkan waktu di basecamp. Tidak sedikit pendaki yang berhenti sebentar untuk mengamati aktivitas para pengemudi sebelum melanjutkan pendakian Gunung Sumbing.
Keputusan untuk menunggu sejenak—sekadar melihat cara penumpang duduk, cara motor dinyalakan, dan bagaimana perjalanan berangkat—kemudian berubah menjadi bagian dari pengalaman. Dari sana, “Ojek Setan” berkembang menjadi identitas lokal yang dikenal dari cara layanan yang paling terlihat.
Di tengah anggapan awal tentang “nama yang menyeramkan”, kenyataan di lapangan justru menunjukkan bahwa daya tariknya datang dari perbedaan yang nyata. Di Basecamp Pendakian Gunung Sumbing, ojek ini menawarkan cara transportasi yang tidak lazim, tetapi sekaligus fungsional untuk menjangkau jalur dan titik perjalanan di lereng.
Seluruh detail itu—dari posisi penumpang di depan, deretan motor trail di basecamp, hingga pengantaran menuju pos—membentuk persepsi baru bagi pengunjung. Bagi pendaki, proses berangkat menjadi lebih berkesan; bagi wisatawan, lokasi terasa lebih hidup karena ada aktivitas yang bisa disaksikan langsung.












