Daerah

Ruwat Bumi Guci Jadi Momentum Kebangkitan Wisata, Pancuran 13 Segera Direvitalisasi

×

Ruwat Bumi Guci Jadi Momentum Kebangkitan Wisata, Pancuran 13 Segera Direvitalisasi

Sebarkan artikel ini
Ruwat Bumi Guci Jadi Momentum Kebangkitan Wisata, Pancuran 13 Segera Direvitalisasi Regional 17 Juni 2026
Ilustrasi: Ruwat Bumi Guci Jadi Momentum Kebangkitan Wisata, Pancuran 13 Segera Direvitalisasi

jurnalistik.co.id – Ruwat Bumi Guci 2026 di Kabupaten Tegal menjadi momentum kebangkitan kawasan wisata Guci setelah banjir bandang melanda wilayah tersebut.

Kegiatan tahunan yang digelar pada bulan Suro itu tidak hanya menjadi ajang pelestarian budaya, tetapi juga membawa harapan baru bagi warga serta pelaku usaha yang menggantungkan penghasilan dari sektor pariwisata di lereng Gunung Slamet.

Ruwat Bumi tahun ini menjadi yang pertama diselenggarakan setelah banjir bandang menerjang kawasan wisata Guci, yang terjadi pada akhir 2025 hingga awal 2026.

Suasana penyelenggaraan Ruwat Bumi Guci 2026 terasa berbeda dibanding tahun-tahun sebelumnya karena sejumlah fasilitas wisata belum pulih sepenuhnya pascabanjir bandang.

Di antaranya, kondisi Pancuran 13 yang selama ini menjadi ikon wisata Guci masih belum kembali seperti sedia kala, meski kawasan tersebut tetap bisa didatangi wisatawan.

Menurut pemberitaan, Pemkab Tegal juga berencana segera merevitalisasi Pancuran 13 dan Pancuran 5 sebagai bagian dari upaya pemulihan kawasan wisata Guci.

Perubahan harapan setelah bencana

Tradisi Ruwat Bumi tahun ini menjadi titik balik yang diharapkan mampu mengembalikan kepercayaan wisatawan terhadap Guci.

Kondisi pascabanjir disebut berdampak besar, termasuk pada sektor pariwisata dan ekonomi warga di sekitar kawasan wisata.

Wakil Bupati Tegal Ahmad Kholid mengatakan, bencana tersebut memberikan efek signifikan bagi warga, pelaku usaha, dan aktivitas pariwisata di Guci.

Ia berharap Ruwat Bumi 2026 dapat meyakinkan wisatawan bahwa kawasan Guci aman dan nyaman untuk dikunjungi.

“Saya harap ini sebagai momentum meyakinkan wisatawan bahwa Guci aman dan nyaman dikunjungi. Sehingga kondisi bisa ramai seperti sebelumnya,” ujar Ahmad Kholid, dikutip dari Tribun Jateng, Selasa (16/6/2026).

Ahmad Kholid menambahkan, pascabanjir bandang kunjungan wisatawan sempat menurun drastis.

Penurunan kunjungan itu turut memengaruhi pedagang dan pelaku usaha yang menggantungkan penghasilan dari aktivitas wisata di kawasan tersebut.

Karena itu, ia mengajak seluruh pihak untuk ikut menjaga kawasan Guci agar dapat bangkit kembali.

Rangkaian kegiatan di Pancuran 13

Rangkaian kegiatan Ruwat Bumi Guci 2026 dimulai dengan penyerahan kambing kendit dari sesepuh kepada pimpinan daerah.

Penyerahan dilakukan kepada Wakil Bupati Tegal Ahmad Kholid, Sekretaris Daerah Kabupaten Tegal Amir Makhmud, serta Kepala Disporapar Kabupaten Tegal Akhmad Uwes Qoroni.

Setelah penyerahan, rombongan kemudian menuju Pancuran 13 untuk melanjutkan prosesi memandikan wedus kendit.

Prosesi berlangsung khidmat dan menjadi bagian penting dari rangkaian ritual Ruwat Bumi yang masih dipertahankan masyarakat.

Kegiatan berlanjut dengan pembacaan doa yang diikuti rangkaian prosesi lain di sekitar sumber air panas Pancuran 13.

Dalam prosesi tersebut, dilakukan penaburan bunga melati serta bunga tabur di area sekitar sumber air panas.

Upaya penataan prosesi di Pancuran 13 itu juga menjadi penanda bahwa kawasan wisata tetap menjalankan agenda utama Ruwat Bumi meski pemulihan pascabanjir masih berlangsung.

Wisatawan tetap dapat mengunjungi Guci

Meskipun kondisi Pancuran 13 belum pulih sepenuhnya, kawasan wisata Guci tetap dapat dikunjungi wisatawan.

Pancuran 13, yang dikenal sebagai ikon wisata, tetap menjadi lokasi sejumlah prosesi utama dalam rangkaian Ruwat Bumi Guci 2026.

Melalui pelaksanaan ritual tahunan ini, penyelenggara dan pemerintah daerah menempatkan Ruwat Bumi sebagai jembatan untuk mengembalikan suasana kawasan.

Dengan rencana revitalisasi Pancuran 13 dan Pancuran 5, langkah pemulihan diharapkan dapat mempercepat kembalinya daya tarik Guci sebagai tujuan wisata.

Ruwat Bumi Guci 2026 pun diharapkan mampu menjadi penanda bahwa proses pemulihan tidak berhenti pada perbaikan fisik semata, tetapi juga pada pemulihan kepercayaan publik terhadap kawasan wisata.

Harapan itu pada akhirnya bermuara pada upaya menumbuhkan kembali keramaian seperti sebelum bencana, sehingga aktivitas wisata dan ekonomi warga di sekitar Guci dapat pulih.