Nasional

Menjelang Puncak Wukuf, Menhaj dan Wamenhaj Cek Tenda Jemaah

0
×

Menjelang Puncak Wukuf, Menhaj dan Wamenhaj Cek Tenda Jemaah

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi: Jelang Puncak Wukuf, Menhaj dan Wakil Menteri Cek Tenda Jemaah

jurnalistik.co.id – Menjelang puncak wukuf, Menteri Haji dan Umrah Republik Indonesia (Menhaj) Mochamad Irfan Yusuf turun langsung ke Padang Arafah pada Senin (25/5/2026) malam. Kunjungan itu dilakukan sebelum wukuf dimulai untuk memastikan pergerakan jemaah berjalan lancar dan fasilitas yang disiapkan di lapangan benar-benar layak dipakai.

Irfan mengatakan sebagian besar jemaah sudah tiba dan menempati tenda masing-masing sesuai jadwal keberangkatan. Ia menyebut proses kedatangan itu terus dipantau agar tidak ada hambatan yang mengganggu kesiapan jemaah menjelang ibadah puncak di Arafah.

“Alhamdulillah, saya dapat laporan sudah 80 persen jemaah kita yang sudah masuk,” ungkap Irfan, Senin (25/5/2026).

Kelayakan tenda dan layanan dasar

Selain memantau arus kedatangan, Irfan juga melihat langsung kondisi ruang tenda di Arafah. Ia menyebut kementerian terus berkoordinasi dengan penyedia layanan atau syarikah untuk memastikan standar pelayanan dasar bagi jemaah tetap terpenuhi.

Menurut Irfan, kondisi tenda memang padat karena jumlah jemaah yang besar. Namun, ia menegaskan upaya tetap dilakukan agar setiap jemaah mendapatkan tempat istirahat yang layak selama berada di Arafah. Ia menyebut pemenuhan kebutuhan dasar menjadi perhatian utama, termasuk soal tempat tidur.

“Saya lihat kamar-kamarnya, tenda-tendanya, memang pasti sesak ya, tapi kita usahakan dipastikan bahwa satu orang mendapatkan satu kasur,” jelasnya.

Penekanan itu menunjukkan bahwa pengawasan tidak hanya tertuju pada kedatangan jemaah, tetapi juga pada kualitas layanan yang mereka terima selama berada di lokasi wukuf. Dengan situasi yang padat, ketersediaan tempat tidur menjadi salah satu hal yang paling krusial agar jemaah tetap nyaman dan bisa menjalani rangkaian ibadah dengan baik.

Efisiensi transportasi dinilai lebih tertib

Setelah Irfan, Wakil Menteri Haji dan Umrah (Wamenhaj) Dahnil Anzar Simanjuntak juga mengecek lokasi yang sama. Ia menyoroti adanya peningkatan efisiensi transportasi pada penyelenggaraan haji kali ini, terutama pada skema penjemputan jemaah menuju Arafah.

Menurut Dahnil, pola penjemputan dibuat lebih tertib karena jemaah diminta menunggu di kamar masing-masing dan baru turun ketika bus sudah benar-benar bersiap. Cara ini dinilai membantu mengurangi penumpukan di lobi hotel, yang selama ini kerap menjadi titik padat saat pergerakan jemaah berlangsung serentak.

Dahnil menyampaikan bahwa kedatangan jemaah ke Arafah berjalan sesuai target. Ia menyebut hampir seluruh jemaah sudah berada di lokasi dan berharap sisanya segera menyusul sebelum waktu yang ditetapkan.

“Sampai hari ini sudah hampir 80 persen hampir 90 persen sudah tiba di Arafah. Jam 10.00 WAS mudah-mudahan sudah di sini semuanya,” ujar Dahnil.

Dengan demikian, pergerakan jemaah menuju Arafah tidak hanya dipantau dari sisi jumlah kedatangan, tetapi juga dari sisi ketertiban alur transportasi. Pengaturan semacam ini menjadi penting agar jemaah tidak saling berdesakan dan proses menuju puncak ibadah dapat berlangsung lebih tertib.

Masalah penempatan tenda ditangani dengan pendekatan persuasif

Dahnil juga menyinggung dinamika yang sempat muncul di Arafah, termasuk adanya sebagian jemaah yang sempat menempati tenda milik jemaah lain. Untuk kondisi seperti itu, ia meminta petugas mengedepankan pendekatan persuasif agar jemaah bisa diarahkan kembali ke tenda yang sesuai dengan nama mereka.

Ia menilai peristiwa semacam itu tidak menunjukkan niat jemaah untuk mengambil hak orang lain. Sebaliknya, menurut Dahnil, suasana yang terjadi lebih banyak memperlihatkan sikap saling membantu di antara sesama jemaah Indonesia.

“Jadi sebenarnya jemaah Indonesia itu gak ada yang mau ngambil hak jemaah lain. Semuanya mau saling tolong-menolong satu dengan lainnya,” tuturnya.

Pernyataan itu sekaligus menggambarkan bahwa pengelolaan tenda di Arafah tidak hanya soal teknis penempatan, tetapi juga soal menjaga ketertiban di tengah kondisi yang sangat padat. Dalam situasi seperti ini, pendekatan petugas menjadi penting agar jemaah tetap tenang dan tidak terjadi gesekan yang tidak perlu.

Pengawasan diperluas hingga Mina

Selain di Arafah, pengawasan ketat juga dilakukan terhadap tenda-tenda di kawasan Mina. Kemenhaj menegaskan tidak menoleransi adanya klaim ruang secara sepihak, termasuk praktik mengkavling tempat yang dianggap melanggar kesepakatan tata ruang.

Dahnil menegaskan bahwa pihaknya siap bersikap tegas terhadap syarikah maupun karyawan syarikah yang tidak patuh pada aturan Kemenhaj. Penegasan ini menunjukkan bahwa pengawasan penyelenggaraan haji tidak berhenti pada kedatangan jemaah semata, tetapi juga mencakup disiplin penggunaan ruang dan kepatuhan para penyedia layanan.

“Kami akan makin tegas terhadap syarikah misalnya atau karyawan-karyawan syarikah, yang tidak patuh pada aturan Kemenhaj kami akan lebih tegas,” pungkas Dahnil.

Dengan seluruh pengecekan yang dilakukan menjelang puncak wukuf, Kemenhaj tampak berupaya memastikan bahwa jemaah berada dalam kondisi yang tertata, fasilitas dasar tersedia, dan pergerakan menuju ibadah puncak berjalan sesuai rencana. Fokusnya tetap sama: ibadah wukuf dapat berlangsung aman, tertib, dan nyaman bagi seluruh jemaah Indonesia.