jurnalistik.co.id – Menteri Kebudayaan Prancis menyampaikan kepada BBC bahwa Permadani Bayeux berada dalam kondisi yang sangat baik setelah menempuh perjalanan ke London.
Menurut Catherine Pégard, dia dapat melihat langsung kondisi karya besar tersebut di tempat penyimpanannya saat ini, yaitu British Museum.
Pegard menyebut, “We can see that all the precautions have been taken… I believe that it will reassure all the sceptics”.
Permadani Bayeux—mahakarya abad pertengahan yang mengisahkan rangkaian peristiwa menuju 1066 dan Koncong Normal—sedang diperiksa secara intensif oleh konservator dari Prancis dan Inggris sebelum karya itu dipamerkan pada September.
Proses pengecekan ini dilakukan menyusul kekhawatiran sejumlah pihak, terutama di Prancis, bahwa benda yang sangat bernilai tersebut terlalu rapuh untuk dibawa dari sana ke Inggris.
Di sela kunjungannya, Pégard menyampaikan respons tersebut setelah melihat langsung hasil pengamanan selama perpindahan.
British Museum juga menghadirkan kabar dukungan dari pihaknya. George Osborne, yang saat itu menjabat sebagai ketua British Museum, memuji kerja tim konservasi dan transportasi kedua negara.
Osborne menilai, “They have done an amazing job in transporting this very very delicate item across the Channel and unfurling it here for us”.
Ia menambahkan, “It’s our responsibility, this generation’s responsibility, to do what previous generations have done, which is look after this tapestry so it’s there for all time”.
Menurut Osborne, ini adalah pertama kalinya Permadani Bayeux terlihat di Inggris dalam 1.000 tahun.
Profesor Michael Lewis, kurator pameran Permadani Bayeux di museum tersebut, sebelumnya sudah menggagas gagasan peminjaman ke Inggris sejak 2013. Saat itu, gagasan muncul setelah diketahui Museum Bayeux di Normandia perlu ditutup untuk renovasi.
Lewis menyebut kolaborasi tim Prancis dan Inggris sebagai sesuatu yang luar biasa. Ia mengatakan, “There is no evidence that there is any damage to the tapestry whatsoever. It has travelled really well”.
Sebagian besar Permadani Bayeux kini juga masih tertutup lembaran pelindung besar berbahan poliester, untuk meminimalkan potensi kerusakan akibat paparan cahaya.
Namun pada kesempatan kunjungan tersebut, tim mulai menampilkan bagian karya melalui proses penghamparan yang berlangsung sangat teliti.
Dalam satu hari sebelumnya, tim konservator Prancis dan Inggris serta staf British Museum melakukan pembukaan dalam rentang lebih dari 18 jam. Mereka membuka gulungan dari dudukan lipat yang sebelumnya “dikonsentrasikan” seperti bentuk akordeon, dengan pengamanan berupa bantalan pelindung menyerupai kasur.
Di lokasi, Lewis menyampaikan kesannya. Ia mengatakan bahwa momen ini sangat dinanti. “It’s just so exciting. I’ve been dreaming about this moment for a very, very long time”.
Proses transportasi dan tampilan karya
Pegard dan delegasinya juga melakukan peninjauan dalam konteks yang digambarkan sebagai soal “optics”, yakni pengamatan langsung terhadap satu cuplikan adegan awal permadani.
Bagian yang ditunjukkan menampilkan William—saat itu masih Duke of Normandy—di atas takhta. Di adegan berikutnya, ia mengirim utusan berkuda untuk membebaskan Harold yang disebut telah ditawan di Prancis.
Pada tahapan cerita tersebut, Edward the Confessor masih menjadi raja, sementara William dan Harold belum berada dalam konflik terbuka.
Para kurator juga mengajak memperhatikan detail visual yang memperlihatkan keterampilan pembuatnya.
Millie Horton-Insch, project curator, menyoroti satu bagian pada adegan para penunggang yang bergerak pergi. Ia menjelaskan bahwa kecepatan perjalanan para pengendara ditampilkan dengan cara yang ekspresif seperti kartun, sehingga terlihat bagaimana cepat mereka melaju.
Lewis juga menekankan karakter penceritaan yang terasa nyaris tiga dimensi, berkat ketelitian jahit dan pilihan bentuk pada setiap elemen narasi.
Berita Terkait
Permadani Bayeux sendiri bukan “tape” anyaman, melainkan benang berwarna yang disulam pada dasar linen.
Dalam pengamatan langsung, salah satu gambaran yang muncul adalah ukuran yang lebih kecil dari ekspektasi beberapa pengunjung: sekitar 50 sentimeter tinggi.
Meski pencahayaan di ruang kunjungan tidak sepenuhnya terang, karya tersebut tetap tampak sangat presisi.
Horton-Insch menggambarkan satu momen yang sangat menyentuh dari adegan yang ditampilkan. Ia mengatakan karya itu, “one of the most poignant moments on the tapestry”.
Ia melanjutkan dengan penjelasan yang menekankan pengalaman manusia di balik cerita. Horton-Insch menyatakan, “Her experience is the experience of the everywoman if you will, the experience that a lot of english women, including the english women who probably made the tapestry, would have lived through and would have experienced”.
Dalam persiapan pameran, British Museum telah menata cara tampilan agar pengunjung bisa melihat keseluruhan narasi.
Salah satu kesepakatan pinjaman menyebut Permadani Bayeux harus dipajang dalam posisi datar.
British Museum akan menampilkan karya sepanjang 70 meter dengan akses pengunjung yang dimulai dari mezzanine. Dari titik itu, pengunjung diharapkan bisa melihat seluruh panjang karya dalam sekali pandang, sebelum berjalan lebih dekat untuk menyaksikan rincian adegan.
Permadani ini mencakup 58 adegan peristiwa menuju 1066 dan Pertempuran Hastings, dengan total 626 figur, 202 kuda, serta enam perempuan.
Dalam kunjungan tersebut, pengunjung mendapatkan gambaran salah satu perempuan pada adegan yang memperlihatkan momen ketika tentara Norman mulai menjarah dan membakar rumah, ketika seorang ibu melarikan diri bersama anaknya.
Daya tarik pameran dan detail sejarah
British Museum memperkirakan jumlah pengunjung bisa mencapai satu juta orang untuk pameran ini.
Mereka juga meyakini, pameran ini akan bersaing dengan pameran terkenal Tutankhamun pada 1972 yang mencatat rekor jumlah penonton.
Seiring persiapan, ada pula ketertarikan pada beberapa bagian yang menyimpan misteri dan perdebatan di kalangan sejarawan.
Salah satu pertanyaan yang muncul adalah pada segmen yang—meski dalam kunjungan saat itu masih tertutup—menampilkan sosok yang diduga Harold dengan sebuah panah di mata pada Pertempuran Hastings.
Lewis menjelaskan bahwa sejumlah sejarawan percaya panah tersebut ditambahkan kemudian, yakni pada masa restorasi abad ke-19.
Ia setuju bahwa itu kemungkinan tambahan belakangan, dengan penjelasan, “The earliest drawings of the tapestry don’t show the arrow in the eye… my feeling is the arrow is a later invention based on a tradition that comes along in the 12th Century that Harold died with an arrow in his eye. But I’m happy to be proven wrong”.
Di sisi lain, Osborne menegaskan bahwa Permadani Bayeux tidak hanya bercerita tentang kerusakan dan invasi, tetapi juga memperlihatkan jalinan hubungan dua bangsa—dua rakyat yang “selamanya terjalin”.
Ia menyebut adanya hubungan yang bernuansa “frenemy”, cinta-benci antara Inggris dan Prancis, karena keduanya dekat sebagai tetangga. Ia mengatakan, “It’s part of our shared history, and I think that it’s a really fitting tribute to friendship between our two nations”.
Melalui pertukaran pinjaman sejarah, British Museum juga akan mengirimkan sejumlah benda berharga dari koleksinya.
Salah satu yang disebut adalah helm Anglo-Saxon yang disebut sebagai salah satu dari hanya empat helm lengkap yang tersisa dari Inggris pada masa tersebut. Helm itu berasal dari koleksi harta karun yang ditemukan di Sutton Hoo, Suffolk.
Untuk pameran dari pihak Prancis, koneksi timbal-balik ini dipandang selaras dengan konteks hubungan lintasnegara yang tetap hidup meski terkadang berselisih.
Permadani Bayeux dijadwalkan dipamerkan selama sembilan bulan, terhitung mulai 10 September.
Penjualan tiket tambahan rencananya akan dibuka kembali pada musim gugur.












