jurnalistik.co.id – Protes di Ukraina pecah pada Kamis setelah Presiden Volodymyr Zelensky melakukan pencopotan Mykhailo Fedorov dari posisi menteri pertahanan dalam reshuffle kabinetnya. Di Kyiv, kerumunan bahkan turun ke jalan menyusul keputusan itu, sementara banyak prajurit menyatakan kemarahan sekaligus kebingungan.
Seorang prajurit yang mengalami cacat setelah cedera berat dan masih menjalani pemulihan, mengatakan lewat video yang ia unggah di Telegram bahwa “My operation is scheduled for tomorrow,” lalu menambahkan, “I hope when I wake up after the anaesthetic, Fedorov will be back at the Ministry of Defence.” Ia menegaskan, “Otherwise, everything I was fighting for will have been in vain.”
Di kalangan prajurit yang lelah berperang serta para veteran yang terluka, muncul rasa geram yang terasa kolektif. Seorang prajurit yang BBC sebut sebagai Maryna—nama disamarkan demi menjaga identitas—menilai langkah Zelensky seperti serangan pribadi bagi mereka yang selama ini menaruh harapan pada kiprah sang menteri muda.
“It is a blatant slap in the face to all service members,” kata Maryna. Ia menambahkan, “It is truly difficult to put this into words without venting in frustration.”
Protes memanas, namun komunikasi tetap dibatasi
Meskipun aksi massa menjadi berita besar, Maryna meragukan kemarahan publik bisa mengubah apa pun dengan cepat. Ia menyebut situasi sedang mengarah pada “A dictatorship is already unfolding here,” lengkap dengan “its own petty tyrants who think they have caught God by the beard.”
BBC melaporkan bahwa, dengan adanya peringatan dari pimpinan militer agar prajurit tidak terlibat perdebatan politik, banyak dari mereka memilih untuk tidak berbicara terbuka. Sebagian lain hanya bersedia memberi respons dengan syarat anonimitas ketat.
Natasha menyampaikan bahwa protes yang diwarnai papan-papan kardus pengunjuk rasa tidak terasa dekat dengan kenyataan keras di garis depan. “Yesterday our positions here got hit by MLRS (multiple launch rocket systems), so nobody cared about Fedorov or the cardboard signs,” ujarnya.
Meski respons di antara para prajurit beragam, kekaguman pada Fedorov tetap tampak jelas dalam sejumlah pesan yang BBC terima. Bahkan ada seorang demonstran yang lebih awal menegaskan, “We believe in Fedorov and his reforms.”
Menurut laporan BBC, Fedorov dipuji karena capaian yang ia bawa baik saat menjabat Menteri Transformasi Digital maupun ketika menjalani masa jabatan singkat sebagai Menteri Pertahanan. Ia digambarkan sebagai sosok yang “single-mindedly” mendorong inovasi militer, termasuk memperkuat peran drone dan teknologi modern, sampai pada titik di mana Ukraina disebut mampu membalik arah melawan musuh yang jauh lebih besar.
Ketika BBC bertemu Fedorov di Kyiv pada musim panas lalu, ia menjelaskan bagaimana data digunakan untuk menyempurnakan skema bernama “Army of Drones: Bonus.” Dalam skema itu, unit-unit di garis depan bisa memperoleh poin untuk setiap prajurit Rusia yang terbunuh atau setiap peralatan yang dihancurkan, dan program tersebut disebut populer karena mempercepat pengadaan sekaligus mendorong inovasi.
Fedorov juga memaparkan cara berpikir yang menekankan efektivitas. Ia menggambarkan pendekatan itu lewat kalimat, “how to use limited resources more effectively.”
BBC menuliskan pula bahwa Fedorov, yang di kementerian disebut baru memulai masa jabatan pada Januari, sempat membawa langkah “coups.” Salah satu contohnya, ia dikabarkan membujuk Elon Musk agar memblokir akses Rusia terhadap layanan internet berbasis satelit Starlink milik Musk, langkah yang diperkirakan menimbulkan gangguan di posisi-posisi garis depan Rusia dan ikut membantu pasukan Ukraina menghentikan bahkan memukul mundur kemajuan Rusia.
Perubahan lain yang disebut berkaitan dengan kemajuan cepat penggunaan AI dan interseptor murah untuk melindungi kota-kota Ukraina dari ancaman drone Rusia. BBC juga menyebut Fedorov melakukan analisis forensik terhadap prosedur dan praktik di kementerian untuk mengurangi birokrasi serta meningkatkan efisiensi.
Ivan Stupak, analis militer sekaligus mantan petugas intelijen, merangkum kesulitan itu dengan mengatakan, “The Ministry of Defence is a swamp.” Ia menilai rawa tersebut “made of very solid material,” sehingga sulit bagi teknologi baru untuk tumbuh karena banyak orang telah berada di sana selama puluhan tahun dan tidak berbagi visi digitalisasi.
Kekhawatiran reformasi berhenti pada periode kritis
Berita Terkait
Banyak pengamat khawatir kepergian Fedorov bakal menghentikan program reformasi dan inovasi secara mendadak, bahkan setelah Zelensky memberi jaminan bahwa tidak ada yang akan berubah. Menjelang musim gugur dan musim dingin, sementara Rusia diperkirakan akan melancarkan serangan lanjutan terhadap jaringan energi Ukraina, sebagian pihak takut Ukraina akan menjadi lebih rentan.
Daria Kaleniuk, direktur eksekutif Ukraine’s Anti-Corruption Action Centre, menyatakan kekesalannya secara langsung. “I’m very upset that all this progress, which was built by Fedorov, will be just destroyed and reversed in one of the most critical periods of the war,” kata Kaleniuk.
Kaleniuk juga menilai krisis ini mencerminkan persoalan pada kepemimpinan Zelensky. Ia menegaskan, “It sends a very bad signal,” lalu menambahkan, “President Zelensky doesn’t care what the people of Ukraine think, and he is also not accepting inside his team people with legitimacy, subjectivity, who are able to initiate solutions and results. That is very destructive for Ukraine.”
Stupak menyebut rekam jejak Zelensky menyingkirkan atau menyingkat peran pejabat efektif dan populer telah membuat sebagian orang menuduh perilaku yang makin otoriter. “He can’t stand the people who don’t admire him,” kata Stupak.
Stupak juga menyatakan adanya ironi bahwa Zelensky mulai berperilaku seperti politisi yang dulu ia sindir saat masih menjadi komedian. “He’s collected all the factors which were the subject for his jokes. Maybe it’s because he’s been in his position for seven years,” ujarnya.
Dalam pandangan aktivis, kemunculan ribuan orang muda di jalan terasa seperti pengulangan momen setahun terakhir. BBC menulis bahwa hampir persis setahun lalu publik berkumpul dalam jumlah besar untuk menuntut Zelensky memveto rancangan undang-undang yang memangkas kekuasaan dua lembaga anti-korupsi Ukraina.
Protes kala itu—yang disebut sebagai aksi anti-pemerintah pertama sejak invasi skala penuh Rusia—akhirnya berhasil. Zelensky kemudian mengumumkan rancangan hukum baru untuk memulihkan independensi kedua organisasi, dan kini para pengunjuk rasa berharap hasil yang serupa meski Zelensky sudah menunjuk menteri interim, yakni Yevhenii Khmara yang disebut sebagai kepala sementara Layanan Keamanan Ukraina.
Kaleniuk menilai taruhannya justru lebih tinggi dalam kondisi saat ini. “These events are even more dangerous, because they directly impact our war effort,” katanya.
Sejumlah kritikus juga mengaitkan protes dengan fakta bahwa meski Fedorov dipuji karena loyalitas dan keberhasilannya, Zelensky tetap memilih menyingkirkannya. Maria Berlinska, pendiri NGO yang melatih relawan untuk pengintaian udara, menulis di Facebook: “No matter how cool you are, it will not help you. At some point, you will simply be removed from the field.”
Friksi internal dan dua versi kepemimpinan di militer
BBC juga menggambarkan adanya pergesekan di dalam tubuh militer terkait gaya bertempur. Natasha mengatakan “If you can’t come to an agreement with the old fossils,” lalu menambahkan, “they’ll eat you alive.”
Bagi beberapa prajurit yang menulis kepada BBC, “old fossils” itu merujuk pada Gen. Oleksandr Syrskyi, panglima tertinggi Ukraina berusia 60 tahun. Dalam pandangan mereka, Syrskyi dikaitkan dengan cara berperang yang dinilai kurang memberi nilai pada nyawa manusia.
“Syrskyi commands no authority or respect,” kata Andriy. Ada pula sebutan derogatif “the General 200,” yang merujuk pada kode militer Soviet untuk korban jiwa. Sebagian lainnya hanya menyebutnya “The Butcher.”
Tetapi tidak semua prajurit sepakat. Andrii, mantan prajurit garis depan yang kini bekerja di General Staff, mengatakan bahwa “Currently there is no replacement for Syrskyi in the army.” Ia mengakui Syrskyi bertendensi Soviet dan lulus dari sekolah militer di Rusia, namun menyatakan mereka tidak memiliki komandan lain dengan kualitas setara: “He conducted all the successful operations of this war.”
BBC menuliskan bahwa Fedorov dan Syrskyi terlihat sudah berselisih bahkan sebelum Zelensky mengambil langkah pekan ini. Zelensky menyebut kedua pria “unable even to be in the same room together,” sementara Fedorov dikabarkan menuding jenderal itu menghambat semua reformasinya. Andrii merangkum situasinya sebagai sesuatu yang terus membesar: “It was snowballing,” lalu menambahkan, “Everyone knew about it. Zelensky had to make a decision.”
Dengan jarak usia 25 tahun—Fedorov disebut berusia 35 tahun—pertikaian itu digambarkan sebagai benturan dua versi Ukraina. Ivan Stupak menilai Fedorov “Fedorov is an iPhone 16, Syrskyi is a telephone from the 1980s,” dan menjelaskan, “You know, the same purpose but with different approaches.”
Di tengah protes dan kekhawatiran yang saling bertaut, banyak prajurit tetap melihat pencopotan Fedorov bukan sekadar rotasi jabatan. Mereka menilai langkah itu datang di saat inovasi dan reformasi sedang dibutuhkan, dan apakah gelombang protes di jalan akan benar-benar mengubah keputusan, masih menjadi pertanyaan yang menggantung.












