jurnalistik.co.id – Dua pemain menorehkan putaran 62 pada The Open 2026 di Royal Birkdale, menyamai rekor skor putaran major putra terendah untuk ronde tersebut. Namun, momen di green ke-18 menghadirkan reaksi yang kontras—dari kekecewaan hingga euforia.
Lucas Herbert dari Australia memulai penutup ronde dengan peluang besar untuk menulis sejarah. Ia gagal memasukkan putt par sejauh lima kaki di lubang terakhir, sehingga harus puas dengan bogey dan kehilangan kesempatan menjadi orang pertama yang membukukan 61 di salah satu turnamen bergengsi tersebut.
Tak lama berselang, Sam Burns dari Amerika menyamakan angka dengan cara yang justru berbeda. Ia melakukan chip dari bunker sisi green untuk mencatat delapan-under par lewat total 62—dan menandai putaran yang sama rendahnya dengan Herbert.
Pembeda suasananya terasa dari detik-detik akhir. Herbert terlihat menahan emosi setelah bogey di 18, sementara Burns merayakan dengan mengangkat tangan diiringi sorak riuh yang bergema di sepanjang lapangan.
Dengan dua ronde 62 itu, keduanya menjadi pemain keenam dan ketujuh yang pernah mencetak 62 dalam sebuah major. Mereka juga bergabung dalam “klub 62” yang sebelumnya sudah memunculkan sejumlah nama besar—termasuk Branden Grace pada The Open 2017 di Royal Birkdale.
Herbert memegang kendali, Burns menyusul dari jarak dekat
Herbert sempat berada di ambang rekor yang lebih ekstrem, tetapi setelah kehilangan par putt, ia segera mengubah fokus pada gambaran besar. Ia mengambil makna dari kenyataan bahwa ia tetap menorehkan clubhouse lead delapan-under par.
Burns melanjutkan cerita yang bergerak lebih cepat. Ia datang dengan posisi tiga pukulan di belakang pada lima-under par setelah memulai hari Jumat dari tiga-over par, sementara pemimpin semalam Jackson Suber berdiri di tengah.
Suber mencatat putaran 65 pada pembukaan, lalu diikuti 69 sehingga tetap berada di enam-under par dan menjadi “penjembatan” di antara Burns dan Herbert pada klasemen ronde kedua.
Perjalanan yang berbeda menuju tujuan yang sama inilah yang kemudian tergambar dalam wawancara singkat setelah hasil tercapai. “I didn’t know 62 was the record. I had no idea,” ujar Burns kepada media setelah putaran tersebut.
Herbert juga merangkum emosinya dengan nada yang berlapis. “I’ve got a lot of emotions, whether its relief or pride, or disappointment,” katanya kepada BBC Radio 5 Live. “But I’m in a great position going into the weekend and got my name in the record books.”
Ia menambahkan bahwa ada banyak hal yang patut dibanggakan. “There are a lot of things to be proud of and when the dust settles that’s what I’ll focus on the most.”
Rasa penyesalan di 18th green tidak meniadakan penampilan utuhnya. Bahkan ketika hasil akhir tidak memenuhi ekspektasi sejarah, Herbert tetap menunjukkan rangkaian pukulan yang rapi sebelum lubang terakhir menutup peluang 61.
Berita Terkait
Pada kesempatan itu, Herbert menilai dirinya perlu “stay present” meski sejarah seakan memanggil. Untuk menciptakan rekor tambahan, ia membutuhkan par di 18, dan ia juga menyadari bahwa lubang terakhir secara statistik menjadi yang paling sulit di ronde kedua.
Pelepasan tee shot-nya jatuh cukup jauh ke kanan lapangan, membuatnya dekat dengan area yang berpotensi keluar. Setelah bola terselip dekat pagar pemisah antara fairway dan penonton, ia memerlukan drop tanpa penalti.
Dari area fescue yang panjang dan berembun tipis, Herbert meladeni situasi dengan pukulan keluar (chop) menuju pendekatan. Ia membuat approach yang masih tersisa dari green, lalu melakukan putt dari bawah lubang menggunakan pukulan ketiga.
Saat short shot-nya sedikit tertarik ke kiri dari target sejarah, Herbert sempat menunduk dalam kekecewaan sebelum akhirnya menyelesaikan dengan tap-in. Menurutnya, ia berhasil menjaga fokus pada apa yang perlu dilakukan di setiap pukulan: “I did a great job of staying present and not thinking about the records. I needed to take care of what I was doing and I did a pretty good job of that.”
Herbert juga menyebut bahwa pihaknya tidak “menginformasikan” jauh sebelumnya, meski ia tetap paham peluangnya. “Nobody was telling me but I definitely knew,” ujarnya.
Hal yang membuat prestasi Burns makin terasa istimewa
Pencapaian Burns tampak makin mengesankan karena ia ternyata tidak menargetkan untuk tampil di Birkdale pada musim ini. Ia menilai The Open 2026 berada di luar rencana awalnya untuk major, setelah mengantisipasi US Open di Shinnecock Hills sebagai major terakhir tahun tersebut.
Ia juga mengaitkan keputusan turnamen dengan kondisi keluarga. Istrinya, Caroline, diperkirakan melahirkan anak kedua mereka pada 14 Juli, tetapi Belle lahir hampir dua minggu lebih cepat.
“I thought there was zero per cent chance of playing,” kata Burns. “My agent said ‘I’m going to sign you up just in case’, but I thought I was probably not going to be able to play.”
Ia melanjutkan bahwa meski jadwal berubah, ekspektasinya tetap rendah. “Then we ended up having her on 3 July. Even then, I still wasn’t expecting to play by any means. I had a bunch of conversations with my wife, and she encouraged me to come over and play, and here we are.”
Dalam konteks rekor terendah major secara keseluruhan, patokan berbeda juga disebut. Skor major putra terendah dalam rentang seluruh major tercatat oleh Haeran Ryu yang membukukan 11-under par 60 saat memenangkan Evian Championship beberapa waktu lalu.
Secara historis, upaya memecahkan angka 63 di major sempat lama dianggap sebagai batas rekor yang sulit. Namun, setelah rentetan skor 62 muncul dalam beberapa tahun terakhir, kini The Open 2026 kembali menghadirkan pasangan yang menyamai rekor tersebut: Herbert dan Burns—masing-masing dengan perjalanan emosionalnya sendiri, tetapi berakhir pada angka yang sama.
Sebelumnya, Rickie Fowler mencetak 62 di US Open 2023 di Los Angeles Country Club, lalu Xander Schauffele menyusul setengah jam kemudian. Satu tahun berselang, Schauffele membuat 62 keduanya pada putaran pertama 2024 US PGA Championship di Valhalla, dan Shane Lowry menambah satu lagi lewat putaran ketiga.












