Internasional

Burnham janjikan perubahan besar, namun rencana pelaksanaannya masih menyisakan tanda tanya

×

Burnham janjikan perubahan besar, namun rencana pelaksanaannya masih menyisakan tanda tanya

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi: Burnham promises huge change - but leaves questions about plan to deliver it

jurnalistik.co.id – Andy Burnham memulai pidato pertamanya sebagai pemimpin Partai Buruh dengan keyakinan penuh—sebagaimana ia menggambarkan perasaannya saat hendak memasuki ruang acara yang ia dambakan selama setidaknya 16 tahun: “good… ready”. Namun, di balik nada optimistis itu, banyak detail rencana untuk mewujudkan perubahan besar masih belum terurai.

Pada saat seluruh sayap Partai Buruh menobatkannya sebagai sosok yang dinilai mampu membalik posisi elektoral, Burnham berupaya mendorong agenda yang melampaui hitungan kemenangan pemilu. Ia berbicara tentang perubahan budaya internal Partai Buruh dan menyingkirkan perpecahan faksi.

Di forum tersebut, Burnham berjanji untuk “banish factionalism from the party for good”. Tekad ini ia sampaikan sebagai upaya untuk mengubah pola yang selama ini membuat kesatuan tujuan kerap kalah oleh kesatuan di atas perbedaan pandangan.

Ambisinya juga melebar ke posisi perdana menteri. Burnham menilai Inggris mengambil jalan yang keliru pada era 1980-an, ketika “Four decades of neoliberalism” menyusul dan meninggalkan dampak yang, menurutnya, merusak komunitas kelas pekerja baik di kota maupun wilayah pedesaan, termasuk area pedalaman serta pesisir.

Karena itulah, ia menegaskan tekad untuk membalik arah dari proses panjang tersebut. Ia menyebut langkah yang ingin ia lakukan setara dengan “the most significant change moment in our politics for 40 years”.

Bagi para anggota parlemen Partai Buruh yang mendengarnya, klaim tersebut sekaligus menjadi tantangan: janji perubahan paling besar dalam empat dekade itu harus diterjemahkan menjadi kebijakan pemerintahan dalam waktu yang sangat singkat setelah ia resmi memulai masa jabatan.

Untuk menjelaskan bagaimana perubahan ekonomi itu akan dijalankan, Burnham merujuk pada gagasan yang lebih awal ia sampaikan dalam proses pemilihan kepemimpinan. Saat itu, ia mengatakan akan mendesentralisasi kekuasaan, dimulai dengan memindahkan sebagian kantor pemerintahan dari No 10 Downing Street ke Manchester.

Beberapa hari ke depan, publik menanti detail bagaimana “No 10 North” akan bekerja. Yang dipertanyakan secara khusus adalah cara mekanisme tersebut akan terhubung dan beroperasi bersama kementerian keuangan atau Treasury.

Dalam pidatonya, Burnham juga memberi sinyal yang membuat sebagian kalangan di parlemen merasa belum ada kepastian. Ia menyatakan bahwa ia masih belum memutuskan siapa yang akan mengisi posisi-posisi pimpinan dalam timnya, termasuk jabatan kanselir.

Menurut narasi yang disampaikan dalam pidato itu, ketidakputusan mengenai siapa calon kanselir menjadi cermin dari budaya politik yang ingin ia ubah. Burnham bahkan memandang proses perbincangan dan “briefing” tentang kemungkinan nama yang akan mengisi jabatan tersebut sebagai bagian dari dinamika politik yang harus ditata ulang.

Meski begitu, konteks internal tetap mengemuka melalui konsensus yang disebutkan: beberapa orang di Partai Buruh menilai sosok seperti Ed Miliband dan Shabana Mahmood mewakili jalur ekonomi yang berbeda-beda, sehingga pilihan kanselir bisa memengaruhi arah pemerintahan Burnham.

Pengakuan bahwa Burnham belum memilih kanselir tidak hanya dibaca sebagai jeda keputusan, melainkan juga bisa dipahami sebagai indikasi bahwa ia ingin mengendalikan kebijakan ekonomi dari No 10—sebuah kantor yang posisinya dipertegas oleh simbol pada kotak surat Downing Street yang menyebut “First Lord of the Treasury”.

Burnham juga menegaskan bahwa ia melihat dirinya lebih dari sekadar perdana menteri berikutnya setelah keluarnya periode-periode pasca-Brexit yang berwarna pergantian cepat. Ia menempatkan agenda politiknya pada upaya membangun konsensus lintas partai sekaligus “detoxify Britain’s political discourse”.

Dalam kerangka itu, ia menyatakan bahwa bila konsensus semacam itu berhasil dibangun, “the turbulence of the last decade may not quite feel as inevitable as it does today”. Kalimat tersebut menunjukkan ia berharap percakapan politik dan dinamika yang penuh gejolak tidak lagi terasa seolah tak terelakkan.

Namun, bagi banyak pendengar, pertanyaan paling mendasar tetap sama: apakah Burnham benar-benar telah menyiapkan rencana yang siap dijalankan untuk mewujudkan ambisi besar itu. Sejauh ini, yang terdengar adalah komitmen terhadap arah perubahan, sementara detail implementasi masih menunggu penjelasan lebih lanjut.

Burnham dijadwalkan berbicara di luar No 10 pada hari Senin, dan dari sana publik berharap memperoleh gambaran yang lebih konkret. Pada titik itulah, akan lebih jelas apakah ia benar-benar “I have a plan” dalam arti rencana yang sudah siap mengalir dari visi, struktur tim, hingga hubungan operasional dengan Treasury.

Dengan kata lain, pidato Burnham menawarkan peta besar tentang budaya, persatuan internal, dan arah ekonomi yang ingin dibalik. Tetapi rencana kerja rinci—siapa yang memegang kendali kunci dan bagaimana mekanisme pemerintahan akan disambungkan—masih menyisakan ruang tanya yang menentukan apakah janji perubahan besar itu bisa benar-benar berubah menjadi kenyataan.