jurnalistik.co.id – Matthias Jaissle memulai langkah pertamanya sebagai manajer Newcastle United dengan suasana yang terasa hangat, bahkan saat agenda hari itu adalah wawancara pers resmi pertamanya yang panjang. Ia datang dengan berjabat tangan, menyapa para jurnalis, lalu menyampaikan bahwa pendekatan di pinggir lapangan tetap akan berjalan sesuai karakter yang selama ini melekat padanya.
Dalam konferensi pers yang berlangsung di ruang media di St James’ Park, Jaissle tampil rapi dengan setelan hitam dan kemeja abu-abu. Ia menegaskan bahwa perubahan bukan bagian dari rencananya, terutama soal “gaya” yang selama ini ia bawa ketika pertandingan sedang berlangsung dan keputusan-keputusan taktis harus dibuat cepat dari area teknis.
“I will not change my style because that’s my personality,” kata Jaissle. Ia menggarisbawahi bahwa sisi emosional di garis pinggir adalah cirinya, namun ia juga menyatakan perlunya menempatkan kontrol terhadap batas-batas teknis dengan lebih tertib. “On the touchline, I am emotional, but I need to respect the box [technical area] a bit more.”
Ia bahkan mengakui rasa khawatirnya terhadap respons wasit ketika ekspresi di area pinggir mulai meningkat. “I’m a bit scared. I hope in the beginning the referees can maybe close their eyes here and there a little. I need to learn that.” Dalam nada yang sama, Jaissle menambahkan pertimbangan yang ia lihat dari pengalaman sebelumnya. “I had a long touchline in Saudi Arabia, so I think the GPS would be quite high if I had worn it!”
Gambaran tentang Jaissle tidak berhenti pada cara ia berbicara di depan media. Mereka yang mengenalnya, kata laporan ini, menggambarkan perbedaan nyata antara “persona” di luar lapangan dan saat memimpin tim di sisi lapangan. Nuansa itu sejalan dengan cerita yang dibawa dalam konferensi: sebelum mengawali peran kepelatihan, perjalanan kariernya sendiri berakhir lebih cepat akibat cedera lutut serius ketika ia berusia 26 tahun.
Kebutuhan untuk meraih hasil, menurut Chinedu Obasi, selalu menjadi daya dorong yang konsisten dalam diri Jaissle. Obasi menyebut, “Matthias has always been very hungry,” lalu menambahkan bahwa ia membawa gaya kepemimpinan yang khas: “He’s had that leadership style and been vocal and passionate about the game. He wanted to win.”
Sebelum masa Jaissle, Newcastle United juga lama dikenal memiliki kedekatan emosional dan tuntutan intensitas dari sisi manajer. Eddie Howe, yang menjadi pendahulu Jaissle, disebut memiliki karakter serupa. Howe mengakhiri penantian panjang klub terhadap trofi dengan kemenangan EFL Cup pada 2025, sekaligus membawa Newcastle lolos ke Liga Champions dua kali.
Howe juga dikenal cepat membaca pentingnya membangun lingkungan yang membuat pemain merasa aman agar permainan terbaik bisa keluar. Ia mempersatukan dukungan publik sejak penunjukannya hampir lima tahun lalu, dan selama periode itu Newcastle beberapa kali meraih kemenangan pernyataan yang menegaskan kemampuan mereka di level papan atas.
Namun, momentum “benteng” itu mulai retak di paruh kedua musim lalu. Newcastle United menyelesaikan musim dengan peringkat 12 di Premier League, dengan performa tandang yang buruk. Di sisi lain, Newcastle juga disebut kalah dalam tujuh pertandingan liga di kandang pada kampanye terakhir Howe sebelum ia mengundurkan diri bulan lalu.
Berita Terkait
Bagi Jaissle, membuat St James’ Park kembali menjadi tempat yang menyulitkan lawan adalah salah satu fokus utama saat ia mulai merasakan atmosfer klub langsung dari sisi lapangan. Saat ditunjukkan lingkungan stadion, ia menggambarkan momen itu dengan ungkapan yang sangat personal. “We were just looking at each other with a big smile, goosebumps,” katanya, dan menambahkan, “Just really special.”
Ia juga menyampaikan bahwa pemandu tur menjelaskan apa yang terjadi ketika penonton benar-benar hadir dan memberi tekanan pada ritme pertandingan. “The guys here who were leading the tour told me how it feels when the crowd are there.” Ia lalu menghubungkannya dengan identitas permainan yang ingin ditampilkan klub: “When we hopefully play in the way they want to see us – intense football, a vertical approach, aggressive, front-footed – there is a great synergy between the fans and the team.”
Prinsip-prinsip itu, menurut laporan yang sama, sudah mulai dikenal para pemain lewat kamp latihan yang melelahkan di Spanyol pekan lalu. Program tersebut berakhir dengan kemenangan 2-1 atas Valencia. Dari kacamata penjaga gawang Lukas Hornicek, Newcastle ingin membawa pesan yang jelas kepada lawan. Ia menyatakan klub ingin “show the opponents that they will have a hard time against us”.
Pemain bertahan Malick Thiaw juga menyinggung intensitas yang ia rasakan di bawah Jaissle. Ia menyebutnya “really high”. Sementara itu, pemegang tiket musiman Adam Stoker merasakan ada kebutuhan tambahan skuad, tetapi ia tetap melihat gaya bermain Jaissle sebagai dorongan besar. “Eddie did look a bit tired and didn’t quite look the same manager as when he started,” ujarnya.
Stoker menilai energi yang berkurang itu berkorelasi dengan performa tim. “Some of that energy had been lost and it correlated with the performances of the team.” Ia kemudian membandingkan ide-ide awal Jaissle dengan karakter Newcastle pada musim 2022-23. “We have seen a tiny bit of Jaissle’s ideas now and they seem to be very much in keeping with Newcastle in 2022-23, which was a hugely exciting team to watch.”
Menurut Stoker, tempo permainan yang menuntut keberanian membuat penonton merasa lebih terlibat. “That playing style makes the crowd feel involved because the fans want to watch a high tempo. Playing front-foot, high-intensity football is something the crowd at Newcastle has always been on board with.”
Menjelang pertandingan pembuka, Jaissle punya jeda yang tidak panjang untuk memulihkan napas sebelum Premier League bergulir di kandang. Newcastle dijadwalkan memulai musim pada 23 Agustus melawan Liverpool, dan seluruh perhatian akan langsung tertuju pada cara Jaissle beradaptasi dengan intensitas kompetisi yang baru baginya.
Ia menjadi sosok manajer yang, seperti halnya banyak pemain muda yang didatangkan musim panas ini, belum pernah merasakan atmosfer Premier League. Hal itu menciptakan faktor ketidakpastian, terutama setelah Newcastle kehilangan pemain-pemain kunci Anthony Gordon, Sandro Tonali, dan Bruno Guimaraes pada musim panas ini. Jaissle menyebut kondisi itu meninggalkan “vacuum”.
Meskipun demikian, ia juga memandang perubahan ini sebagai kesempatan. “We are ambitious,” katanya. “That is the most important thing.” Ia menegaskan alasan datang ke Newcastle, sekaligus menekankan bahwa proses tidak bisa terjadi dalam semalam. “That is the most important thing. It is why I decided to come here, but this will not happen overnight, especially when you have such a big transition phase now.”
Jaissle menambahkan bahwa arah yang jelas harus dipastikan dari tingkat pengambil keputusan. Ia menyatakan, “You need to have a clear goal and wish of where we want to go to. That starts from the decision-makers, the management and the board.” Lalu ia mengaitkan keberhasilan dengan keselarasan semua pihak: “Then, if you have that synergy with the fans, the players and the staff to go there, I’m pretty sure it will be a successful story. But we need time now.”












