jurnalistik.co.id – Sinta Nuriyah Wahid dari Gerakan Nurani Bangsa menilai Indonesia sedang memasuki fase yang memprihatinkan. Menurutnya, berbagai persoalan sosial-politik yang muncul belakangan ini menuntut upaya penyelesaian yang lebih serius dan terarah.
Pernyataan itu disampaikan Sinta dalam Sarasehan Kemerdekaan yang digelar Gerakan Nurani Bangsa di Grha Pemuda, Gereja Katedral, Jakarta Pusat, Selasa (11/8/2026). Ia menekankan bahwa kegelisahan publik tidak berdiri sendiri, melainkan berkelindan dengan tata kelola dan penegakan nilai-nilai kemanusiaan.
Dalam pandangannya, masyarakat sedang berhadapan dengan ketidakadilan yang kian terlihat. Sinta menyebut situasi tersebut memunculkan respons sosial yang terus berlanjut, bukan mereda, melainkan semakin menguat.
“Namun akhir-akhir ini, bangsa kita dihadapkan pada kondisi yang sangat memprihatinkan. Rakyat yang marah pada ketidakadilan, demonstrasi yang tidak kunjung henti,” kata Sinta. Ia menilai, situasi ini juga ditandai dengan tindakan kekerasan oleh aparat keamanan yang dinilai berlebihan serta meluasnya perilaku amoral hingga menimbulkan korban jiwa.
Bagi Sinta, dampak yang paling terasa bukan hanya pada permukaan peristiwa, tetapi pada kualitas kepekaan manusia sebagai warga negara. Ia mengatakan masyarakat mulai kehilangan akal budi dan hati nurani, sehingga sensitivitas terhadap nilai-nilai kemanusiaan sebagai cermin peradaban ikut memudar.
“Sebagai orang tua, kami berharap bangsa dan negara Indonesia terus maju mewujudkan cita-cita kemerdekaan Indonesia. Ini hanya bisa dipenuhi dengan penyelenggaraan negara yang berpihak pada rakyat, adil, dan berdasarkan kedaulatan sipil dan kedaulatan hukum,” tutur Sinta. Pernyataan tersebut menggambarkan harapan agar arah kebijakan tidak lepas dari kemaslahatan publik.
Ia menambahkan, prinsip yang ia sampaikan sejalan dengan pegangan para ulama di lingkungan pesantren. Sinta merujuk pada tasharruful imam ‘ala ar-ra’iyyah manuthun bil maslahah, yang ia jelaskan sebagai pijakan bahwa setiap kebijakan pemimpin bertumpu pada kesejahteraan, keadilan, dan kemakmuran rakyat.
Berita Terkait
Dengan pertimbangan itu, sarasehan diposisikan sebagai ruang untuk menelaah persoalan secara mendalam, bukan sekadar menyampaikan keprihatinan. Sinta menyatakan bahwa kondisi yang ada merupakan tantangan yang harus dipikirkan jalan keluarnya.
“Kondisi seperti ini yang merupakan tantangan yang harus dipikirkan jalan keluarnya. Oleh karena itu, sarasehan kemerdekaan ini dimaksudkan menjadi ruang bersama untuk membahas secara mendalam,” ujar Sinta.
Agenda pembahasan yang menjadi perhatian
Acara tersebut menempatkan isu-isu strategis sebagai fokus diskusi, mencakup demokrasi dan tata kelola pemerintahan, hukum, serta hak asasi manusia (HAM). Selain itu, sarasehan juga menyinggung pemberantasan korupsi, penguatan ekonomi dan media, serta tantangan bangsa pada masa depan.
Melalui forum itu, Sinta berharap muncul rumusan bersama dan komitmen kolektif yang bisa menjadi penggerak. Ia menyampaikan bahwa gagasan tersebut ditujukan untuk mendorong Indonesia menuju keadaan yang disebut gemah ripah loh jinawi.
“Melalui sarasehan ini, diharapkan akan muncul rumusan bersama dan komitmen kolektif sebagai motor penggerak menuju Indonesia yang gemah ripah loh jinawi,” ungkap dia.
Selain Sinta, sarasehan turut dihadiri sejumlah tokoh, yakni Emil Salim, Mahfud MD, Ignatius Kardinal Suharyo, Franz Magnis-Suseno, SJ, Omi Komaria, Nurcholish, dan Lukman Hakim Saifuddin. Kehadiran para tokoh itu, menurut konteks acara, memperkuat penekanan pada kebutuhan diskusi bersama untuk mencari titik temu.
Dengan demikian, isi pidato Sinta menempatkan perhatian pada hubungan antara keadilan, ketertiban, dan nilai kemanusiaan. Ia juga menggarisbawahi bahwa kemajuan yang diharapkan tidak hanya bertumpu pada slogan, melainkan pada penyelenggaraan negara yang berpihak pada rakyat dan berpijak pada kedaulatan sipil serta kedaulatan hukum.












