jurnalistik.co.id – Bupati Gayo Lues, Suhaidi, memastikan proses investigasi dugaan pelanggaran etik tetap berjalan meski dr H Nevirizal telah mengundurkan diri sebagai pejabat.
Langkah pengunduran diri tersebut muncul setelah polemik yang melibatkan anggota keluarganya menjadi perhatian publik, khususnya unggahan yang beredar di media sosial.
Suhaidi menyatakan keputusan mundur Nevirizal sebagai bentuk tanggung jawab yang dinilainya patut diapresiasi.
“Dari sikap orangtua yang bersangkutan yang mengundurkan diri, tentu ini kami apresiasi,” kata Suhaidi saat dihubungi Kompas.com, Kamis (23/7/2026).
Tim dibentuk untuk menelusuri unggahan bermasalah
Menurut Suhaidi, pengunduran diri tidak menghentikan pemeriksaan yang sedang berjalan di lingkungan Pemerintah Kabupaten Gayo Lues.
Ia menegaskan, Pemkab tetap membentuk tim guna mendalami sejumlah unggahan yang menjadi polemik.
“Kemudian tindak lanjut yang kita lakukan, kita langsung membentuk tim untuk melakukan investigasi tentunya kepada hal-hal yang diposting. Karena ada beberapa hal yang harus kita dalami dari postingan itu,” ujarnya.
Salah satu materi yang akan didalami berkaitan dengan foto bahan bakar minyak (BBM) yang disebut berada di kompleks rumah Nevirizal.
Suhaidi menjelaskan bahwa foto tersebut merupakan dokumentasi lama, saat pemerintah daerah menitipkan BBM di rumah Nevirizal pada masa tanggap darurat karena belum memiliki gudang penyimpanan.
“Itu sebenarnya foto sudah lama, saya tahu juga itu. Jadi itu BBM waktu darurat kemarin, kita tidak punya gudang penyimpanan dari luar daerah saat itu, jadi dititiplah ke rumah beliau (Nevirizal). Jadi saya bingung, kenapa foto itu diposting sama anak yang bersangkutan,” jelasnya.
Pemeriksaan etik tetap sesuai ketentuan
Suhaidi menambahkan, pemeriksaan etik tetap dilakukan mengikuti ketentuan yang berlaku, meskipun Nevirizal telah mengundurkan diri serta menyampaikan permintaan maaf kepada publik.
Berita Terkait
“Tentu sesuai aturan, ASN ada tim yang akan mendalami kasus etik, diketuai oleh Sekda Gayo Lues. Tim itu saat ini sedang bekerja,” katanya.
Ia juga menilai kegaduhan yang timbul dari polemik tersebut patut menjadi pelajaran bagi seluruh aparatur sipil negara (ASN), khususnya dalam penggunaan media sosial.
“Mudah-mudahan ke depan ASN itu bisa lebih menunjukkan sikap-sikap yang betul-betul merakyat. Artinya tidak memposting hal-hal yang menyinggung perasaan masyarakat kita dan membuat kegaduhan di tengah masyarakat,” ucapnya.
Suhaidi menyampaikan pemerintah daerah merasa kecewa dan prihatin karena kejadian itu terjadi saat Gayo Lues masih berupaya memulihkan dampak bencana.
“Pertama, pemerintah daerah merasa kecewa dan prihatin, seharusnya tidak terjadi pada masa kondisi seperti ini,” ujarnya.
Imbauan agar tidak membully
Di sisi lain, Suhaidi mengimbau masyarakat agar tidak menyerang atau mem-bully Nevirizal beserta keluarganya.
Ia menekankan bahwa yang bersangkutan telah menyampaikan permintaan maaf secara terbuka.
“Saya berharap kepada masyarakat tidak lagi membully dan memojokkan yang bersangkutan karena sudah menyampaikan permintaan maaf kepada semua pihak, terutama masyarakat Gayo Lues,” pungkasnya.
Meski Nevirizal sudah mengundurkan diri dari jabatannya, Suhaidi menegaskan bahwa penelusuran terhadap isu yang beredar tetap ditempuh melalui mekanisme pemeriksaan etik di tingkat pemerintah daerah. Proses tersebut diposisikan sebagai upaya menjawab polemik secara prosedural, bukan sekadar merespons reaksi publik sesaat.
Untuk materi terkait foto BBM, Suhaidi menyoroti bahwa konteks pemotretan berbeda dengan makna yang ditafsirkan belakangan. Ia menjelaskan foto itu berasal dari masa tanggap darurat, ketika penyaluran dan penyimpanan masih menyesuaikan keterbatasan fasilitas gudang, sehingga titipan BBM dilakukan di rumah Nevirizal. Suhaidi juga mempertanyakan alasan foto tersebut kemudian dipublikasikan oleh pihak keluarga.
Suhaidi juga menegaskan pemeriksaan etik akan dijalankan sesuai ketentuan yang berlaku, dengan tim yang telah dibentuk di lingkungan Pemkab Gayo Lues. Menurutnya, tim dipimpin Sekda, dan pekerjaan pemeriksaan sedang berjalan. Ia berharap penegakan aturan ini menjadi dasar yang jelas dalam menilai penggunaan media sosial oleh ASN, agar tidak memicu salah paham atau kegaduhan di masyarakat.
Di saat yang sama, pemerintah daerah menyampaikan sikap tegas namun tetap mengedepankan ketenangan publik. Kejadian tersebut dinilai terjadi pada masa daerah tengah berupaya pulih dari dampak bencana, sehingga membuat pemerintah merasa kecewa dan prihatin. Suhaidi pun mengajak warga untuk tidak memperpanjang serangan maupun pembulian, mengingat Nevirizal telah menyampaikan permintaan maaf kepada publik.












