jurnalistik.co.id – Abbie Donnelly mencatatkan torehan bersejarah bagi atlet Inggris di Kejuaraan Eropa cabang maraton putri. Di Birmingham pada Minggu, ia meraih medali perunggu dan memastikan nama Inggris kembali diperhitungkan di nomor yang selama ini sulit menyumbang kejayaan.
Medali ini menjadi yang pertama bagi wanita Inggris pada nomor maraton di ajang Kejuaraan Eropa. Donnelly finis di belakang pelari Hungaria, Lili Anna Vindics-Toth, dengan catatan waktu 2 jam 27 menit 33 detik.
Keberhasilan Donnelly tidak berdiri sendiri. Great Britain juga membawa pulang medali emas beregu setelah mengalahkan Italia dan Spanyol pada klasemen tim maraton putri. Natasha Wilson menyelesaikan lomba di posisi kelima, sementara Rose Harvey berada di urutan ke-14.
Pencapaian Donnelly sekaligus menjadi penampilan terbaik seorang pelari maraton putri Inggris di Kejuaraan Eropa sejak Kath Binns menempati tempat kesembilan pada 1982. Dengan hasil tersebut, Donnelly tidak hanya mengamankan perunggu, tetapi juga mengangkat performa seluruh skuat menjelang rangkaian laga sesi terakhir.
Di puncak klasemen individu, Alisa Vainio dari Finlandia tampil dominan dan merebut emas dengan waktu 2:22:26. Catatan waktu Vainio juga memangkas rekor kejuaraan dengan selisih hampir tiga menit, menegaskan bahwa lomba berjalan dengan tempo yang ketat sejak awal.
Dalam jalannya pertandingan, Vainio sempat berlari sendirian lebih cepat di bagian awal. Pada fase pengejaran, Donnelly dan Wilson saling berdekatan di rombongan depan yang mengejar posisi terdepan, sebuah dinamika yang menurut Donnelly membantu secara besar karena mereka bisa saling menjaga ritme.
Momen pembeda terjadi saat Vindics-Toth melakukan aksi yang menentukan sebelum Donnelly kemudian menyusul dan bertahan hingga mendekati garis finis. Donnelly melanjutkan dorongan hingga melewati tanjakan terakhir, lalu menyelesaikan lomba dengan melintasi garis 12 detik setelah sang peraih medali perak tersebut.
Usai balapan, Donnelly mengaku masih sulit percaya dengan apa yang baru ia capai. Ia menyebut pengalaman di Birmingham sangat luar biasa sekaligus melegakan, terutama karena lintasannya terkenal menuntut fisik dengan banyak tanjakan.
Atlet berusia 29 tahun itu juga menyinggung pola pikir saat lomba. Menurutnya, ia dan timnya sejak awal memilih untuk lebih berhati-hati, khususnya pada separuh pertama, karena menyadari bukit-bukit akan “mengejar” pelari secara bertahap sepanjang lomba.
Berita Terkait
Ia menambahkan bahwa bahkan pada bagian turunan sekalipun, beban tetap terasa. “Quads” atau otot paha depan yang terus bekerja membuat seluruh perjalanan terasa menantang, sehingga sensasi di akhir lomba menjadi sesuatu yang tidak bisa dianggap remeh.
Donnelly pernah menjalani lintasan lintas alam sebelum kemudian berfokus pada nomor jalan raya. Sebelum sukses di maraton Kejuaraan Eropa, ia mengantongi dua medali emas beregu pada European Cross Country Championships, dan kemudian menegaskan transisi ke jalan raya melalui kemenangan beregu di setengah maraton pada Kejuaraan Eropa pertamanya di Roma pada 2024.
Bagian yang membuat Donnelly merasa lebih istimewa datang dari konteks “tampil di rumah”. Ia sebelumnya merupakan pelari lintas alam, dan mengakui bahwa ini adalah pengalaman pertama yang benar-benar berlangsung di depan keramaian lokal.
Donnelly mengatakan bahwa bisa mendengar sorak penonton yang menyebut namanya—“Abbie Donnelly”—menjadi momen yang tak mudah dilupakan. Ia juga menyampaikan rasa bangga karena pertandingan berlangsung di Birmingham, yang membuat suasananya terasa lebih personal dan emosional.
Untuk Great Britain sendiri, keberhasilan beregu menambah catatan keseluruhan di ajang tersebut. Emas tim maraton putri menjadi medali emas ketujuh secara total bagi Inggris di kejuaraan ini, sehingga mereka hanya tertinggal satu angka dari Italia yang memimpin sebelum memasuki rangkaian aksi pada malam hari terakhir.
Performa tim Inggris juga memperlihatkan bahwa hasil individu dapat berdampak langsung pada strategi beregu. Donnelly menilai kebersamaan di rombongan pengejar membantu mempertahankan fokus sepanjang lomba, sementara Wilson dan Harvey turut memberikan kontribusi penting untuk memastikan posisi tim tetap kuat hingga akhir.
Ia lalu mengungkap bahwa sejak beberapa waktu sebelumnya, target tim sudah jelas. Donnelly menceritakan bahwa mereka berbicara pada hari sebelumnya tentang keinginan meraih emas, dan akhirnya keinginan itu terwujud melalui kombinasi hasil seluruh anggota skuat.
Bagi Donnelly, momen ini juga terasa sebagai perayaan bagi hubungan dan budaya dalam cabang atletik. Ia menyatakan menyukai orang-orang di olahraga ini, menghargai persahabatan yang ia bangun, serta menikmati sensasi yang muncul setelah lomba selesai.
Ia menutup dengan penggambaran suasana latihan dan kompetisi yang ia temui selama ini. Menurutnya, atmosfer lari adalah kelompok yang ramah dan hangat, dan baginya kesempatan menjadi bagian dari tim tersebut merupakan sebuah kehormatan.












