jurnalistik.co.id – Josh Kerr tampil sebagai pusat perhatian setelah meraih kemenangan besar di nomor 1500 meter pada ajang Ultimate Championship pertama untuk cabang atletik. Di sisi keberhasilan itu, ia sekaligus mengangkat isu pendanaan yang, menurutnya, selama ini lebih berpihak pada sponsor dibanding negara.
Kerr, atlet asal Britania Raya berusia 28 tahun, dinobatkan sebagai Ultimate Champion perdana melalui penampilan dominan di Budapest pada Minggu malam. Ia merayakan dengan simbol kebangsaan dan sorak penonton, namun cara merayakannya menyimpan pesan lain yang sengaja dibuat terlihat oleh kamera.
Menurut laporan BBC Sport, Kerr mengaburkan logo sponsor Nike pada kostum tim Great Britain dengan menautkan sepatu lari bermerek Brooks ke bahunya. Langkah tersebut membuat tayangan pengangkatan trofi dan foto-foto pertandingan menonjolkan sponsor pribadinya ketimbang identitas komersial yang melekat pada kostum negara.
Kerr kemudian menjelaskan maksudnya dalam wawancara. Ia menegaskan bahwa ia ingin aturan representasi memberi ruang bagi atlet untuk menampilkan merek mereka sendiri.
“There is one last thing that I think we can get right, which is allowing the athletes to represent their own brands versus their country,” kata Kerr. Ia menambahkan, “I love my country and competing for them, but we don’t make any money from that sadly. We don’t have the pay cheques that other sports do yet. So that would be an opportunity to grow.”
BBC Sport menyebut telah menghubungi World Athletics untuk meminta komentar terkait isu tersebut. Hingga berita ini diturunkan, tanggapan resmi belum dicantumkan.
Pada edisi ini, Ultimate Championship memang diposisikan sebagai penutup musim yang mempertemukan atlet-atlet utama. Acara ini dijalankan World Athletics dan disebut berlangsung setiap dua tahun, dengan format tiga malam pertandingan cepat yang menargetkan figur-figur besar di atletik.
Berbeda dengan Olimpiade dan Kejuaraan Dunia yang memiliki tabel medali berdasarkan negara, Ultimate Championship tidak menyajikan hitung-hitungan perolehan medali nasional. Kompetisi didesain sebagai ajang gelar individu setelah kampanye Diamond League berakhir, sehingga gelar juara diraih dalam kategori masing-masing nomor.
Kerr memulai lintasan prestasinya dengan reputasi kuat di panggung internasional. Ia telah mengantongi medali untuk Great Britain di Olimpiade—perunggu pada 2020 dan perak pada 2024—serta meraih emas pada Kejuaraan Dunia 2023. Namun dalam konteks Ultimate Championship, ia berbicara dari sudut pandang atlet yang tetap harus mengelola karier tanpa mekanisme kompensasi yang sama dengan olahraga lain.
Berita Terkait
Dalam Diamond League, para atlet memiliki kebebasan lebih besar menampilkan sponsor mereka melalui kostum pribadi. Pada pertemuan di London pada bulan Juli, Kerr juga pernah mencatat rekor dunia untuk mile putra sekaligus tampil dengan kit yang menampilkan sponsor individunya.
Di Ultimate Championship, Kerr dan para atlet Ultimate Champions lainnya memperoleh hadiah sebesar $150.000 (ÂŁ111.111) untuk kemenangan nomor mereka. Meski nominal tersebut menjadi insentif, Kerr menunjukkan bahwa persoalan yang ia soroti bukan sekadar ukuran hadiah, melainkan struktur pendanaan atletik secara keseluruhan.
Kenapa kostum jadi titik tarik antara “negara” dan “brand”
Dalam cabang olahraga seperti sepak bola, pemain umumnya memperoleh gaji sesuai kontrak dengan klub. Sementara pada olahraga individu lain, seperti tenis dan golf, atlet bisa meraih pemasukan besar dari uang hadiah di turnamen-terbesar.
Atletik, menurut gambaran yang disampaikan BBC Sport, memiliki pola berbeda: banyak kompetitor tidak dibayar dengan gaji tahunan langsung. Dengan kata lain, sponsor dan dukungan komersial pribadi menjadi penopang penting. Alasan lain yang membuat perbandingan makin terasa adalah ketersediaan uang hadiah yang distandardisasi.
BBC Sport menuliskan bahwa satu-satunya uang hadiah standar yang tersedia untuk atletik di panggung seperti Olimpiade adalah $50.000 (ÂŁ37.000) untuk peraih emas pada salah satu dari 48 nomor atletik. Uang hadiah tersebut baru diperkenalkan pada Olimpiade 2024 di Paris, dan, dalam laporan itu, nilainya dianggap kecil dibanding potensi pendapatan jutaan dolar di cabang lain.
Beberapa negara—termasuk Amerika Serikat—memilih memberi kompensasi dari sumber daya mereka sendiri kepada atlet yang meraih medali. Namun Britania Raya tidak menerapkan skema serupa secara langsung. Sebagai gantinya, atlet mendapat pendanaan dan hibah melalui UK Sport.
UK Sport, dalam penjelasan yang sama, melakukan penilaian berdasarkan peluang peraih medali pada ajang-ajang besar. Dana terbanyak bersumber dari National Lottery. Selanjutnya, pendanaan itu biasanya digunakan untuk kebutuhan latihan, termasuk camp pelatihan, peralatan, biaya perjalanan, dan pada beberapa kasus juga dukungan personal seperti fisioterapis, ahli nutrisi, serta koki.
Dengan mekanisme seperti itu, Kerr mempertanyakan mengapa pada Ultimate Championship atlet justru diminta mengenakan kostum tim nasional. Ia menekankan bahwa representasi negara memang ia cintai, tetapi peluang pendapatan yang bersifat langsung dari kewajiban tersebut belum tersedia sebagaimana yang ia lihat pada olahraga lain.
Ultimate Championship akan kembali digelar pada September 2028, tak lama setelah Olimpiade Los Angeles. Dalam pandangan yang diangkat dari komentar Kerr, perdebatan antara merek sponsor dan identitas negara berpotensi kembali menghangat pada edisi-edisi berikutnya.












