Olahraga

Oliver Glasner Geram Keputusan VAR soal Handball yang Menganulir Gol Neco Williams vs Tottenham

×

Oliver Glasner Geram Keputusan VAR soal Handball yang Menganulir Gol Neco Williams vs Tottenham

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi: Nottingham Forest boss Oliver Glasner angry with VAR handball call

jurnalistik.co.id – Nottingham Forest mengaku kecewa berat dengan keputusan VAR yang menganulir gol Neco Williams saat mereka bermain 0-0 kontra Tottenham di City Ground. Manajer Oliver Glasner menilai intervensi wasit video itu dilakukan pada momen yang seharusnya masih berada di area keputusan di lapangan.

Laga berjalan ketat sejak awal, namun pada menit ke-67, momentum sempat berpihak kepada Forest. Upaya Neco Williams di babak kedua sempat berbuah gol, setelah wasit Craig Pawson awalnya mengesahkan temuan tersebut.

Namun, VAR Peter Bankes kemudian turun tangan dan membatalkan gol itu. Keputusan dianulir karena pemain bertahan Forest dinilai melakukan handball tepat sebelum mencetak gol, menyusul situasi kacau dalam pertahanan Tottenham.

Glasner menolak penjelasan tersebut dan menegaskan bahwa ia tidak melihat bukti yang cukup jelas untuk membatalkan gol. Ia menyebut VAR “guessing” dan berpendapat keputusan tidak seharusnya diambil jika gambar yang tersedia tidak tegas.

“I watched five or six different angles and, to be fair, from one angle you can guess that the ball touched the arm because the shirt moves a little bit, but it’s not clear is it the ball or [Sandro] Tonali on the goalline,” said Glasner. “I think the VAR can’t intervene when he is guessing. It was not clear and obvious.”

Menurut Glasner, Forest sempat menerima arahan sebelum musim mengenai standar intervensi. Ia menyebut ambang batas harus sangat tinggi dan karenanya VAR melakukan koreksi yang menurutnya keliru.

“We had a briefing before the season that the threshold for VAR intervention this year should be very high, which is why this is a wrong intervention.” Glasner juga menambahkan, “If it’s not 100% clear, stick to the on-field decisions. This is the inconsistency today.”

Pelatih asal Inggris tersebut mengaku bahkan sudah menyampaikan pandangannya langsung kepada wasit setelah pertandingan. “I told the referee after the game that I felt the goal should have stood.”

Sementara itu, laporan resmi match centre Premier League menjelaskan alasan pembatalan gol tersebut. Mereka menyebut VAR memeriksa keputusan wasit, lalu “determined that Williams handled the ball immediately before scoring and recommended that the goal was disallowed.”

Dalam aturan yang dijelaskan, jika bola mengenai lengan atau tangan pencetak gol segera sebelum gol terjadi, maka gol harus dianulir meski kontak itu bersifat tidak disengaja. Forest berpendapat bahwa konteks di lapangan menunjukkan sebaliknya, karena Neco Williams tidak merasa bola mengenai lengannya.

Williams sendiri membantah handball dan menyatakan bola lebih tepatnya berasal dari sundulan di antara lengan. Ia menyampaikan hal tersebut kepada Sky Sports dengan nada tegas.

“It’s a goal,” the Forest full-back told Sky Sports. “VAR is there when there is a clear and obvious error and for me that is not clear and obvious. I’ve seen the images and the replays and at not one moment did I think I handballed it. I headed it in between my arms.”

Ia menambahkan kekecewaan karena merasa gol telah terjadi sesuai penilaian awal. “I knew straight away I’ve headed it down in between my arms. At a loss at that one. Disappointing.”

Isu inti: seberapa pasti bola mengenai lengan

Analisis dari Dale Johnson menyoroti bahwa inti perselisihan dalam insiden handball sering terletak pada ketepatan menentukan apakah bola benar-benar menyentuh lengan. Menurut Johnson, argumen Forest bertumpu pada keyakinan bahwa bola datang dari kepala Williams dan tidak bersentuhan dengan tangannya.

Ia menilai meski ada perangkat seperti chip di bola sekalipun, kedekatan posisi kepala dan tangan membuat penentuan tetap sulit. Karena jarak keduanya sangat berdekatan, ruang untuk pembuktian yang benar-benar definitif menjadi sempit.

Johnson juga membedakan sifat kesalahan yang dibenarkan untuk dibatalkan. Ia menegaskan ini bukan sekadar insiden yang bersifat subjektif seperti potensi penalti, melainkan keputusan faktual yang—dalam pandangan VAR—memerlukan bukti tegas bahwa bola mengenai lengan pencetak gol.

“Definitive proof” dipahami berada di ambang yang lebih tinggi dibanding “clear and obvious error” dalam konteks koreksi wasit. Ia menyebut keputusan seperti ini kerap membuat frustrasi karena berujung pada penilaian siapa yang sedang bertugas di ruang VAR pada pertandingan tersebut.

Johnson menilai VAR pada hari berbeda dapat saja menilai bahwa ambang pembuktian belum terpenuhi. Dengan kata lain, satu pertandingan bisa berakhir dengan gol yang sah bagi satu tim namun dianulir oleh tim lain dalam hari yang tidak sama.

Ia juga memberi contoh dari pekan sebelumnya, ketika gol Harry Maguire melawan Ipswich tetap disahkan meski ada isu handball. Dalam kasus itu, tembakan Maguire mengarah ke luar sebelum memantul, sehingga bola akhirnya menjadi semacam gol bunting oleh situasi pantulan, bukan gol yang murni dibangun dari penguasaan langsung.

Untuk Williams, Johnson menekankan perbedaannya. Williams berperan sebagai pencetak gol, sehingga bila ada sentuhan ke lengan dalam urutan peristiwa yang dinilai VAR, maka gol harus dianulir menurut kerangka aturan yang diterapkan.

Johnson menutup dengan gambaran batas yang mungkin menyelamatkan gol tersebut. Menurutnya, satu-satunya skenario yang bisa membuat gol tetap berdiri adalah bila bola sudah benar-benar melewati garis gawang sebelum mengenai Williams pada momen berikutnya.