Olahraga

Italian GP: Pierre Gasly mengungguli George Russell di Monza dan merebut pole paling mengejutkan dalam bertahun-tahun

×

Italian GP: Pierre Gasly mengungguli George Russell di Monza dan merebut pole paling mengejutkan dalam bertahun-tahun

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi: Italian Grand Prix: Pierre Gasly has George Russell covered at Monza in biggest surprise pole in years

jurnalistik.co.id – MONZA

Monza, Sabtu, menyajikan kejutan terbesar dalam kualifikasi Formula 1 untuk beberapa tahun terakhir. Pierre Gasly akhirnya merebut pole position setelah mengalahkan George Russell, saat para kandidat utama menjalani sesi yang berantakan.

Gasly memenangi perlombaan strategi dalam momen-momen menjelang kualifikasi, bahkan sebelum menjalani putaran penentu. Ia mengaku sempat merasa punya peluang besar, karena ia “menyusun” permainan layaknya langkah catur.

“I must say before the quali, I felt pretty confident,” ujar Gasly. Pembalap Prancis itu menambahkan, “because I was picking piece by piece after piece.”

Kisah itu berawal dari obrolan dengan coach-nya, Ben Thorne. Gasly menceritakan bahwa Thorne memberinya gambaran yang terdengar seperti lelucon: “Ben told me, ‘OK, well, you’re getting George here, but he’s going to get you in a few minutes.’”

Gasly sempat bereaksi dengan kata umpatan, tetapi ia masih tersenyum saat mengingatnya. “Turned out that it worked out well. So yeah, it’s been fun,” katanya.

Russell, yang start di posisi kedua di belakang Gasly, juga tertawa ketika ditanya soal momen tersebut. “He beat me there,” kata Russell, lalu menambahkan, “and I thought, ‘Well, I think I’ll beat you in qualifying,’ and here we are, he’s ahead of me again.”

Tak ada yang benar-benar memprediksi Gasly akan berada di pole di Monza, bahkan jika ia pernah merasakan kemenangan di sirkuit yang sama enam tahun lalu. Saat itu, kemenangan Gasly hadir di tengah musim F1 yang aneh pada era pandemi, dengan faktor keberuntungan yang kuat—termasuk restart dari posisi ketiga dan Lance Stroll yang sempat keluar lintasan pada putaran pertama sehingga memuluskan jalan bagi Gasly setelah Lewis Hamilton menjalani penalti.

Namun kali ini, pole Gasly tak datang dengan cara yang sama. Ia “earned on merit”, didapat melalui performa mesin dan kerja set-up yang tepat, selaras dengan karakter Monza yang menuntut kecepatan lurus.

Alpine memiliki paket yang kuat untuk lintasan seperti Monza, dengan desain aerodinamika yang menonjolkan kebutuhan low-downforce. Mobil yang memakai mesin Mercedes juga dinilai cepat sepanjang akhir pekan, ditambah upgrade yang meningkatkan performa di balapan terakhir di Belanda.

Gasly menegaskan bahwa langkah itu berhubungan langsung dengan sesi kualifikasi. Ia menyebut, “Monza is a bit of unique track as we know” dan menambahkan, “It definitely exceeded all our expectations.”

Menurut Gasly, sejak pagi ritme tim membaik. “We managed to make a good step from P3 to quali and I think slightly bigger than the other guys around us,” katanya.

Ia juga menggambarkan proses yang terasa terus naik level. “Straight from Q1, we were a bit surprised to see us up there. Our target was Q3. But then I was P1 in Q1, then P4 in Q2,” ujarnya, sebelum akhirnya menyatakan: “I didn’t want to get too excited but then first run in Q3, I was third again.”

Di momen berikutnya, Gasly merasa peluangnya benar-benar nyata. “And then I felt, ‘OK, well, I really have a shot at it.’ It’s probably the first time I really get a true chance and tried to leave everything I had out there.”

Ia menyebut jalannya sesi cukup hectic, khususnya saat melintasi Ascari dan Parabolica. “It was quite hectic through Ascari and Parabolica. I don’t think there was definitely much (left) in there,” kata Gasly, lalu menambahkan bahwa saat melewati garis finis ia merasa hasil putaran itu layak dihargai.

Yang membuat pole tersebut makin bersejarah, Gasly mencetaknya pada grand prix ke-190 dalam kariernya. Dengan torehan itu, ia mencatat “the second-longest wait for a pole position in F1 history,” sementara hanya Sergio Perez yang lebih lama, dengan pole pertamanya datang di race ke-215—di Saudi Arabia pada 2022.

Di dalam paddock, Gasly dikenal sebagai pembalap yang disukai dan memiliki banyak teman sesama driver. Namun ia juga lama menjadi “forgotten heroes” meski memiliki kemenangan enam tahun lalu, terutama setelah periode Red Bull yang tidak berjalan sesuai harapan.

Pada 2019, Gasly kehilangan tempat di tim utama setelah waktunya di tim kerja tidak menghasilkan hasil yang ia harapkan. Ia kemudian kembali ke tim kedua setelah separuh musim, tersaingi Max Verstappen.

Setelah bertahan tiga tahun bersama Red Bull, Gasly diberi kesempatan di Alpine dengan harapan kepindahan ke tim pabrikan bisa menjadi titik balik. Tetapi Alpine sempat kesulitan, sampai kemudian muncul tanda kebangkitan musim ini menyusul keputusan Renault untuk meninggalkan proyek mesin F1 mereka dan beralih menggunakan mesin pelanggan Mercedes.

Situasi tim juga diwarnai rangkaian sorotan menjelang akhir pekan ini. Pada Jumat, Gasly kehilangan podium Monaco yang seharusnya ia raih—setelah Alpine menang dalam banding atas dua penalti terkait pit-lane speeding, ketika pengadilan banding FIA akhirnya mengembalikan hukuman.

Tak lama setelah itu, Flavio Briatore disebut memicu keributan di konferensi pers. Ia menuduh salah satu dari empat hakim dalam kasus tersebut memiliki “links” dengan McLaren. Klaim itu kemudian dinilai tidak memiliki dasar yang kuat, karena merujuk pada charity event di California pada 2018, di mana hakim tersebut hadir dan sebuah garasi lokal McLaren tampaknya menyumbang “two or three” mobil.

Andrea Stella, bos tim McLaren, menggambarkan tuduhan itu sebagai “insulting” dalam sesi tersebut. Setelahnya, terungkap bahwa McLaren marah terhadap pernyataan Briatore, yang dianggap disampaikan di atas “the most flimsy of bases”.

Pada Sabtu, sebuah pernyataan langka dari FIA court of appeal kemudian membantah tuduhan itu dan menegaskan tidak ada “questions (about) the independence and impartiality of the judges”. Putusan itu sekaligus memberi jawaban prosedural, meski masih menyisakan pertanyaan besar atas kontroversi penalti pit-lane di Monaco.

Terlepas dari debat itu, Alpine tetap menunjukkan ketidaksenangan karena merasa kehilangan podium Monaco dengan cara yang tidak adil. Steve Nielsen, managing director Alpine, menyampaikan kepada Sky Sports: “Two or three days ago, we were on the floor. It is really from being down to being on top of the world in just two days and it is amazing. We need to soak it up and make the best of it.”

Ia juga berkata, “Pierre is a class act. If you give him the machine, he will deliver. We failed to do that a few times last year.”

Nielsen menambahkan, “We haven’t always given him the most competitive machinery this year, but when we have, he has delivered, particularly earlier in the season,” dan menyebut pole di Monza sebagai bukti tim mampu kembali bangkit. “So to see the team bounce back, to see him deliver on the track he knows well, he lives locally, he lives in Milan. It was wonderful.”

Sementara itu, di sisi lain kualifikasi, Russell menghadapi hambatan yang langsung memengaruhi ritmenya. Ia menyinggung gangguan Verstappen menjelang putaran ketika tim Mercedes mencoba memanfaatkan skema tow dengan Kimi Antonelli di dekatnya.

Russell menjelaskan, “We had a bit of a mess with Verstappen entering the lap,” lalu menambahkan, “He wanted to go for the tow, Kimi was there as well, and I did my lap a second and a half behind Max, which wasn’t ideal.”

Meski tidak berhasil meraih pole, Russell tetap memandang posisi start sebagai langkah penting menuju Minggu. “…of course, disappointed we weren’t on pole ourselves. However, great place to start for tomorrow.”

Dengan pole Gasly sebagai sorotan, persaingan di Minggu tetap membawa beban besar bagi Russell dan tim Mercedes. Russell masuk ke race dengan tertinggal 59 poin dari pemimpin klasemen, Antonelli, yang harus start dari posisi ke-20 akibat penalti grid karena melampaui jatah mesin.

Russell mengatakan, “The win is going to be very important tomorrow but I’m more pleased about the performance.” Ia juga menyoroti perubahan setelah jeda musim panas: “Since the summer break, every lap I have been in the top three positions, while I had that tough run of form before the break when every lap wasn’t in the top five.”

Di sisi lain, Ferrari berpeluang menjadi saingan utama Gasly dan Russell, khususnya karena mereka tampak sekali lagi “fumble” dalam hasil kualifikasi untuk alasan operasional pada sesi-sesi sebelumnya. Pada balapan ini, mereka juga debut mesin versi upgrade di kandang sendiri.

Pada putaran terakhir kualifikasi, Ferrari mendapat situasi rumit saat Leclerc sempat keluar dari pit ketika Hamilton tidak memiliki roda pada mobilnya. Akibatnya, Leclerc dan Hamilton akan start masing-masing dari posisi ketiga dan keempat.

McLaren juga menghadapi dinamika strategis, ketika Oscar Piastri menerima penalti grid tiga tempat karena menghambat Liam Lawson. Keadaan tersebut membuka peluang bagi Mercedes untuk memanfaatkan start yang lebih menguntungkan dalam upaya mengejar ketertinggalan poin.

Hamilton, yang juga tertinggal 59 poin di belakang Antonelli, menilai tim perlu bekerja sebagai satu kesatuan. “(Piastri’s penalty) puts us in (with a) fighting chance, hopefully, with George,” katanya. Ia menambahkan, “That’s one Mercedes up front, so hopefully that gives us a chance to work as a team to try and topple them.”

Ia pun menegaskan besarnya selisih. “We’re at a point in the year where 59 points is a huge – huge – deficit to recover from, especially when Mercedes continue to be the leaders in speed.”

Persaingan Minggu di Monza kini berubah bentuk: Gasly di pole dengan modal historis dan eksekusi yang presisi, sementara Russell menatap peluang besar untuk memperkecil jarak, meski harus melewati tantangan yang sama-sama nyata di depan mata.