Olahraga

Nottingham Forest 0-0 Tottenham: Meski mahal, performa Spurs mandek—perlu peningkatan

×

Nottingham Forest 0-0 Tottenham: Meski mahal, performa Spurs mandek—perlu peningkatan

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi: Nottingham Forest 0-0 Tottenham: Expensive but misfiring Spurs still need to improve

jurnalistik.co.id – Nottingham Forest menahan Tottenham Hotspur dengan skor 0-0 di City Ground, namun hasil itu juga menandai mandeknya mesin serang Spurs di awal musim Premier League. Roberto de Zerbi akhirnya membawa timnya pulang dengan poin pertama, lewat pertandingan yang lebih hidup di level performa dibanding hasil yang mereka tuai.

Spurs tidak kalah dalam cara bermain—mereka bahkan tampil sebagai pihak yang lebih dominan—tetapi tetap gagal mencatatkan gol. Rentetan itu membuat mereka tak pernah mencetak gol dalam tiga laga pembuka liga, untuk pertama kalinya sejak 1974-75.

Kegagalan itu datang setelah kekalahan dari Brentford dan Newcastle. Dengan kondisi tersebut, De Zerbi kembali menegaskan perlunya proses agar skuad yang dibangun lewat belanja musim panas bisa benar-benar menyatu.

Di laga melawan Forest, Tottenham lebih banyak menguasai momen ketimbang sekadar bertahan. Meski demikian, peluang yang seharusnya menjadi pembuka justru tidak berbuah, termasuk momen yang awalnya mengarah pada gol Neco Williams di babak kedua, sebelum keputusan VAR membatalkannya karena pelanggaran handball.

De Zerbi menilai satu poin di stadion ini tidaklah mudah, tetapi timnya tetap menatap kekurangan yang sama: ketajaman di sepertiga akhir dan ketenangan saat mengambil keputusan. “We are disappointed for the result but for the performance very happy,” ujar De Zerbi, merujuk pada kekecewaan atas skor, sekaligus apresiasi untuk cara tim bermain.

Pelatih asal Italia itu juga menyebut bahwa kerja bersama timnya baru dimulai sejak pekan lalu. “Considering we started to work together last Thursday for the first day,” tambahnya, sebelum menekankan bahwa kebutuhan terbesar adalah peningkatan menyeluruh dalam setiap aspek sepak bola.

Menurut De Zerbi, Spurs harus memperbaiki organisasi saat menyerang maupun bertahan. Ia menilai pertahanan mereka justru berjalan baik, sambil berharap permainan dengan bola bisa diterjemahkan lebih efektif di momen-momen penentuan.

Ia menegaskan, “We have to improve in every part of football, organisation with and without the ball. Even today I thought we defended very well.” De Zerbi lalu menambahkan, “We have to work because I think we played very well with the ball, we found the solution. I think we can be much better in the final third.”

Belanja besar musim panas Spurs menjadi latar penting dalam evaluasi laga ini. De Zerbi mengakui kekecewaan, tetapi tetap memilih perspektif panjang, terutama karena mereka merekrut 10 pemain senior dan masih mencari identitas permainan yang stabil.

Sepanjang musim ini, Tottenham bahkan harus menghadapi fakta bahwa mereka gagal mencetak gol di tiga pertandingan Premier League secara beruntun untuk pertama kalinya sejak November 2021. Rekor tersebut juga terasa kontras dengan konteks sebelumnya, ketika Forest sempat menang 3-0 atas Spurs di Tottenham Hotspur Stadium pada bulan Maret lalu.

Setelah hasil itu, Spurs menghabiskan lebih dari £300 juta untuk pemain baru. Belanja musim panas mereka juga tercatat sebagai rekor pengeluaran Premier League, mencapai £3,49 miliar.

Dalam laga di City Ground, pemain baru yang memulai ialah Sandro Tonali, Jon Paul Van Hecke, Savio, dan Omar Marmoush. De Zerbi terdengar tenang setelah kembali memperoleh hasil tanpa gol, meski ia tetap menyasar bagian akhir serangan yang dinilainya belum tajam.

Dalam keterangannya, ia menepis cara pandang cepat ala “Football Manager”. “We bought very, very good players but you can’t just build the team with the names like in Football Manager,” kata De Zerbi. Ia menyebut timnya memerlukan waktu untuk membangun hubungan di dalam pertandingan, bukan sekadar menyusun nama di kertas.

Kritik De Zerbi juga diarahkan pada kualitas keputusan di momen krusial. Ia menilai kasus Marmoush sebagai contoh saat laga memasuki babak kedua: peluang muncul ketika Andy Robertson overlap, sementara Mohammed Kudus sudah menunggu di area far-post untuk kemungkinan umpan.

De Zerbi menilai harus ada perubahan pada cara menuntaskan serangan. “I think we played well, in the last third we have to improve, we have to take better decisions, maybe keep calmer when we are close to doing something important,” ujarnya.

Ia menambahkan penjelasan yang lebih spesifik tentang peluang ketika Marmoush melepaskan tembakan: “The chance when Marmoush shot, we had Robertson overlapping. If we take the right decision and if we play with Robertson on the second post there is Kudus to score.”

Meski kecewa pada hasil akhir, De Zerbi tetap menggarisbawahi hal-hal positif dari struktur permainan yang mereka usung. “I am very happy with the spirit, with the organisation, their style of play is very clear, long ball and second ball, even the second ball we won many duels. They are good players.”

Baginya, poin yang didapat di City Ground adalah indikator mental yang baik, meski tak cukup untuk memuaskan target menang. “Taking a point in this stadium is not so easy. We are not happy because we didn’t win but this is the right spirit and the right way to move on in this moment.”

Hasil imbang 0-0 ini juga menambah angka statistik yang memperlihatkan pola Tottenham. Laga di Forest menjadi hasil seri kedelapan Tottenham di liga pada tahun ini—yang menjadi yang terbanyak sepanjang setahun sejak 2020—serta mereka untuk pertama kali sejak April 2022 gagal melepaskan shot on target dalam pertandingan liga utama, ketika saat itu mereka berhadapan dengan Brentford di bawah Antonio Conte.

Mesin serang Spurs sebenarnya tidak sepenuhnya mati. Artikel tersebut mencatat Spurs melepaskan 38 tembakan di liga dengan expected goals (xG) sebesar 3.3. Namun, kualitas eksekusi dan pilihan akhir tetap belum mencapai standar yang mereka butuhkan.

Danny Murphy, mantan pemain tengah, sejalan dengan pandangan De Zerbi mengenai kekurangan yang terjadi ketika Tottenham sudah masuk ke zona baik. Murphy mengatakan, “When Spurs did get in really good areas, they just rushed it and shot when they maybe should’ve passed.”

Ia menambahkan masalah yang sama pada keputusan saat mendekati kotak penalti. “They made the wrong choice on pullbacks or crosses when they’re getting in wide areas, taking men on one too many times when they’ve already got the space,” ujar Murphy.

Murphy juga menilai Spurs kehilangan ketenangan yang biasanya hadir dari pemain-pemain berkelas. “They were just missing that little bit of calmness and composure that you expect from top quality players,” katanya, sebelum menyinggung aspek chemistry antar pemain yang masih berkembang.

Menurut Murphy, waktu diperlukan agar beberapa pemain menemukan keterpaduan. “It takes time for some players [to find chemistry]. You could argue that Marmoush and Savio know each other anyway and bright footballers quickly learn each other’s runs and movements,” jelasnya.

Ia membandingkan kebutuhan adaptasi dari perspektif posisi, khususnya ketika peran berubah dari lini tengah ke lini depan. “From a midfielder to a forward perspective, you’re not always sure what they’re going to do. Whereas if you played with someone for a while, it comes more naturally. So those relationships will build.”

Selain evaluasi hasil, laga ini juga diwarnai kembalinya Mykhailo Mudryk ke Premier League. Ia masuk sebagai pemain pengganti dan menjadi penampilan liga pertamanya sejak terakhir kali tampil sebagai pemain pengganti di babak kedua pada laga 1-1 melawan Arsenal pada November 2024.

Mudryk tiba pada deadline day dengan status pinjaman awal dari Chelsea untuk mencoba menghidupkan kembali kariernya setelah menjalani larangan empat tahun akibat tes positif zat terlarang meldonium pada 2024—meski ia menyangkal mengonsumsi zat itu dengan sengaja.

De Zerbi menyebut Mudryk membutuhkan waktu dan kerja untuk beradaptasi. “He needs time and he needs work, we have in that position Mathys Tel – big potential – but also Tel takes too many wrong decisions,” ujar De Zerbi, sebelum menegaskan, “Two big players with potential.”

Ia juga menjelaskan pergantian pemain pada babak kedua, ketika Savio dan Destiny Udogie ditarik keluar setelah sekitar satu jam. Keputusan itu dilakukan dalam rencana pergantian ganda yang dipengaruhi saran medis.

“Before the game the plan for Savio and Udogie was around 60 minutes. I’m not happy but football is like this, Savio not in the best physical condition to play 90 mins, he’s a crucial player for us,” kata De Zerbi. De Zerbi menambahkan bahwa Destiny juga pemain kunci dan perubahan cepat dari bangku cadangan tetap menuntut adaptasi instan.

“Destiny is another crucial player. Kudus and Robertson played well but to start one game like today is not so easy to come inside from the bench and adapt immediately,” lanjutnya. Ia menutup dengan kalimat, “I’m not happy when we have the plan but it’s not my business, the management of players after injuries.”

Bagi Tottenham, hasil 0-0 di City Ground memang menghadirkan jeda dari tren negatif tanpa gol, tetapi belum mengakhiri kebutuhan untuk perbaikan di momen paling menentukan. Dengan catatan statistik yang menekan dan keputusan-keputusan yang dinilai kurang tepat, peluang untuk kembali menemukan ritme serangan mereka kini bergantung pada proses yang De Zerbi minta untuk terus dijalankan—dengan sabar, tetapi juga lebih tajam di sepertiga akhir.