jurnalistik.co.id – Dalam pengasuhan anak, pilihan sikap orangtua kerap berada di dua kutub yang berlawanan. Ada yang cenderung sangat tegas dengan aturan ketat, sementara sebagian lain lebih longgar demi menjaga kenyamanan dan kebebasan anak. Di antara keduanya, para ahli menilai ada pendekatan yang berada di tengah-tengah dan disebut sebagai pola asuh otoritatif atau authoritative parenting.
Apa itu pola asuh otoritatif
Konsep pola asuh otoritatif pertama kali diperkenalkan oleh psikolog perkembangan Diana Baumrind pada 1970-an. Saat itu, Baumrind membagi pola pengasuhan menjadi empat kategori utama, yaitu otoriter, permisif, otoritatif, dan mengabaikan.
Dalam penjelasannya, orangtua otoritatif digambarkan sebagai sosok yang tegas, tetapi tidak mengendalikan anak secara berlebihan dan tidak membatasi mereka secara kaku. Disiplin yang diterapkan juga bukan disiplin yang menghukum, melainkan disiplin yang suportif. Tujuan utamanya adalah membantu anak tumbuh menjadi pribadi yang tegas, bertanggung jawab secara sosial, mampu mengatur diri sendiri, dan kooperatif.
Psikolog klinis Jeff Nalin menegaskan bahwa orangtua otoritatif memahami pentingnya aturan dan batasan, tetapi tidak menerapkannya secara berlebihan. “Mereka mendorong anak-anak untuk mengekspresikan diri dan ikut mencari solusi atas masalah, tetapi tidak membebani mereka dengan terlalu banyak aturan atau ekspektasi yang tidak realistis,” ujar Jeff.
Karena itu, pola asuh ini berbeda dari pola asuh otoriter yang cenderung menekankan kepatuhan dan kontrol. Dalam pola asuh otoritatif, aturan tetap ada, tetapi dibarengi komunikasi dua arah, empati, dan dukungan emosional. Di sinilah letak keseimbangannya: anak tetap tahu batas, namun tetap merasa didengar dan dihargai.
Menanamkan tanggung jawab tanpa tekanan berlebihan
Pendekatan yang menyeimbangkan aturan dan kehangatan ini juga sejalan dengan temuan penulis dan jurnalis Jennifer Breheny Wallace. Dalam artikelnya untuk CNBC, Jennifer menceritakan pengalamannya setelah menghabiskan tujuh tahun mewawancarai ratusan siswa berprestasi beserta keluarganya.
Dari pengamatannya, terlalu fokus pada pencapaian justru bisa melahirkan tekanan yang tidak sehat pada anak. Banyak anak yang ditemuinya merasa nilai, peringkat, dan prestasi menjadi tolok ukur utama harga diri mereka. Bahkan, sebagian di antaranya mulai mempertanyakan apakah kasih sayang orangtua bergantung pada keberhasilan yang mereka raih.
Karena itu, Jennifer menyarankan agar orangtua membantu anak membangun identitas yang tidak semata-mata bertumpu pada prestasi. Menurutnya, anak perlu punya ruang untuk memahami dirinya sendiri di luar angka, peringkat, atau ukuran eksternal lain yang sering dijadikan patokan.
“Ketika anak menemukan cara untuk berkontribusi yang tidak bergantung pada nilai, peringkat, atau ukuran eksternal lainnya, mereka membangun pemahaman yang lebih kokoh tentang siapa diri mereka dan peran besar apa yang bisa mereka mainkan di dunia,” tulis Jennifer.
Membantu anak merasa dibutuhkan
Salah satu cara yang disarankan Jennifer adalah membantu anak melihat kebutuhan orang-orang di sekitarnya. Dengan begitu, anak tidak hanya memusatkan perhatian pada pencapaian pribadi, tetapi juga belajar bahwa dirinya bisa memberi arti bagi lingkungan sekitar.
Gagasan ini sejalan dengan pola asuh otoritatif yang menekankan tanggung jawab tanpa menekan anak secara berlebihan. Anak tetap diarahkan untuk disiplin dan paham aturan, tetapi prosesnya dibuat suportif agar mereka bisa tumbuh dengan rasa aman. Dari situ, anak belajar bahwa tanggung jawab bukan beban, melainkan bagian dari kedewasaan yang bisa dijalani bersama dukungan orangtua.
Pola asuh semacam ini juga memberi ruang bagi anak untuk mengekspresikan diri dan ikut memikirkan solusi ketika menghadapi masalah. Orangtua tidak perlu menjadi pengendali penuh, tetapi juga tidak melepas semuanya begitu saja. Justru lewat keseimbangan itulah anak belajar mengelola diri, memahami batasan, dan tetap merasa memiliki hubungan yang hangat dengan keluarganya.
Pada akhirnya, pola asuh otoritatif dianggap menempati posisi yang ideal karena tidak jatuh pada dua ekstrem yang sama-sama bermasalah. Ia tidak terlalu keras, tetapi juga tidak terlalu longgar. Aturan tetap hadir, komunikasi tetap dibuka, dan dukungan emosional tetap dijaga. Dengan cara itu, anak didorong untuk bertanggung jawab, kooperatif, serta tumbuh tanpa tekanan yang berlebihan.







