Pendidikan

Risiko Menuruti Semua Permintaan Anak: Psikolog Jelaskan Dampaknya

2
×

Risiko Menuruti Semua Permintaan Anak: Psikolog Jelaskan Dampaknya

Sebarkan artikel ini
Bahaya Menuruti Semua Permintaan Anak, Psikolog Ungkap Dampaknya Lifestyle 6 Juni 2026
Ilustrasi: Bahaya Menuruti Semua Permintaan Anak, Psikolog Ungkap Dampaknya

jurnalistik.co.id – Banyak orangtua merasa sulit menolak permintaan anak, apalagi ketika anak menginginkan sesuatu yang sedang populer di kalangan teman-temannya. Tidak sedikit pula yang memilih langsung mengabulkan agar tidak memicu rengekan, tangisan, atau rasa kasihan.

Namun, menurut psikolog anak dan keluarga Vera Itabiliana Hadiwidjojo, kebiasaan selalu menuruti keinginan anak dapat berdampak pada perkembangan psikologis mereka dalam jangka panjang. Vera menekankan bahwa anak perlu belajar memahami batasan dan mengelola keinginan sejak dini.

Jika setiap keinginan selalu dipenuhi, anak berisiko tumbuh tanpa kemampuan mengendalikan diri dengan baik. Pada kondisi seperti ini, proses belajar untuk menilai apa yang seharusnya didapat sekarang dan kapan harus menunggu dapat menjadi kurang terlatih.

Vera juga menyampaikan bahwa anak dapat mengalami kesulitan dalam mengatur keinginan mereka. “Anak dapat kesulitan belajar mengelola keinginan dan menunda kepuasan,” ujar Vera kepada Kompas.com.

Salah satu keterampilan yang ditekankan Vera adalah kemampuan menunda kepuasan atau delayed gratification. Kemampuan ini membantu anak memahami bahwa tidak semua keinginan bisa langsung terpenuhi sesuai harapan.

Melalui kebiasaan menunggu dan memahami batasan tersebut, anak belajar mengendalikan emosi, bersabar, serta mempertimbangkan prioritas. Ketika proses ini berjalan, anak juga terbiasa melihat bahwa kebutuhan tidak selalu identik dengan keinginan yang muncul saat itu.

Sebaliknya, ketika semua permintaan selalu dikabulkan, anak bisa terbiasa mendapatkan sesuatu secara instan. Akibatnya, mereka berpotensi mengalami kesulitan saat menghadapi penolakan atau situasi yang tidak sesuai dengan yang diharapkan.

Vera menilai kemampuan mengelola kekecewaan tersebut penting untuk kehidupan anak di berbagai lingkungan. Mulai dari lingkungan sekolah hingga pergaulan sosial, anak akan terus bertemu dengan momen ketika tidak semua yang diinginkan bisa segera terjadi.

Selain kesulitan mengendalikan keinginan, Vera juga mengingatkan risiko lain yang perlu diperhatikan. Anak dapat mengembangkan pola pikir bahwa kebahagiaan dan kepuasan selalu berkaitan dengan kepemilikan barang.

Dalam pandangan Vera, kondisi ini dapat membuat anak menjadi lebih konsumtif dan mudah terpengaruh oleh tren di sekitarnya. Ketika melihat teman memiliki barang tertentu atau menemukan produk yang sedang viral di media sosial, anak akan cenderung merasa perlu memilikinya juga agar tidak tertinggal.

Di masa berikutnya, kebiasaan tersebut dapat membuat anak lebih mudah terkena tekanan sosial. Mereka juga bisa mengalami kesulitan saat harus mengambil keputusan berdasarkan kebutuhan yang sebenarnya, karena ukuran “pantas” yang tertanam menjadi bergeser pada barang yang sedang menjadi perhatian.

Vera menambahkan dampak lain yang juga patut diwaspadai, yaitu terbentuknya rasa percaya diri yang bergantung pada kepemilikan barang. Ketika penilaian diri terlalu terikat pada apa yang dimiliki, anak akan lebih rentan merasa kurang berharga jika tidak memperoleh sesuatu yang diinginkan.

Dengan demikian, menurut Vera, menuruti semua permintaan tanpa batas dapat menghambat proses belajar anak dalam mengelola keinginan, menunda kepuasan, serta menghadapi penolakan. Di sisi lain, pendekatan yang memberi ruang bagi anak untuk memahami batasan menjadi bagian penting dari pembentukan kemampuan psikologis mereka sejak awal.

Vera juga menegaskan, ketika orang dewasa selalu menghindari penolakan, anak tidak cukup terlatih untuk menilai situasi dan menyesuaikan diri saat sesuatu tak langsung terjadi. Dalam jangka waktu yang lebih panjang, kemampuan ini memengaruhi cara anak merespons tuntutan dan perubahan.

Lebih lanjut, ia mengingatkan bahwa kebiasaan memenuhi permintaan secara terus-menerus dapat membuat anak kesulitan menghadapi momen ketika harus menerima “tidak” atau menunda hasil. Di saat seperti itu, anak perlu belajar mengelola rasa kecewa agar tidak selalu menilai kepuasan hanya dari terpenuhinya keinginan.

Dengan memberi ruang bagi anak untuk memahami batasan, anak diharapkan terbentuk kebiasaan untuk mengendalikan keinginan, melatih kesabaran, serta mempertimbangkan apa yang benar-benar dibutuhkan. Pada akhirnya, pendekatan seperti ini membantu anak siap menghadapi situasi yang tidak selalu selaras dengan harapan mereka, termasuk ketika pengaruh tren dan tekanan sosial muncul.