jurnalistik.co.id – Riset baru menyoroti bahwa pilihan jurusan kuliah dapat berpengaruh langsung pada kondisi keuangan lulusan selama masa hidup. Temuan ini sekaligus mendorong calon mahasiswa untuk menimbang manfaat finansial dengan lebih hati-hati sebelum mendaftar.
Menurut analisis oleh Institute for Fiscal Studies (IFS), lulusan yang mengambil jurusan kedokteran berpotensi memperoleh hingga ÂŁ400.000 lebih banyak sepanjang masa dibandingkan mereka yang tidak berkuliah. Di saat yang sama, beberapa bidang lain juga menunjukkan perbedaan hasil yang cukup lebar antar-subjek.
IFS juga menyebut bahwa ekonomi dapat memberikan penghasilan yang signifikan lebih tinggi untuk lulusan. Namun, riset tersebut menilai ada sejumlah mata kuliah—termasuk creative arts, philosophy, dan languages—yang memberikan hasil finansial sedikit atau bahkan negatif jika dibandingkan dengan pendapatan seseorang yang memiliki kemampuan serupa tetapi tidak memiliki gelar universitas.
“Tidak semua gelar sama,” demikian penekanan yang muncul dalam pembahasan terkait kebijakan pendidikan tinggi. Perbedaan hasil ini menjadi alasan munculnya sorotan terhadap kualitas serta nilai finansial berbagai program studi.
Rata-rata pengembalian finansial dan sisi lain yang berisiko
Secara rata-rata, IFS menyatakan lulusan memperoleh sekitar ÂŁ100.000 lebih banyak selama masa hidup dibandingkan rekan yang tidak berkuliah, bahkan setelah memperhitungkan pajak serta pembayaran pinjaman pelajar. Meski demikian, riset yang sama menunjukkan tidak semua lulusan mengalami peningkatan.
Data tersebut menyebut bahwa satu perempat lulusan dapat berakhir secara finansial lebih buruk sepanjang hidup akibat memutuskan kuliah. IFS juga memperkirakan satu dari sepuluh lulusan laki-laki berpotensi mengalami penurunan lebih dari ÂŁ90.000 dibanding kondisi yang seharusnya terjadi bila mereka tidak kuliah.
Untuk siswa yang melanjutkan pendidikan setelah usia 16 tahun, tetapi memiliki nilai GCSE yang relatif rendah, analisis mencerminkan bahwa mereka dapat mengharapkan pendapatan take-home seumur hidup rata-rata ÂŁ53.000 lebih tinggi dibanding rekan dengan nilai serupa yang tidak kuliah. Namun, pada kelompok laki-laki lulusan dengan pencapaian awal yang rendah, sekitar empat dari 10 orang diperkirakan justru mengalami kondisi finansial yang lebih buruk dibanding jika mereka tidak kuliah.
Siapa yang diteliti dan kerangka data
Penelitian ini menilai pengembalian finansial jangka panjang dari memulai program sarjana penuh waktu di universitas UK sebelum usia 21 tahun. Analisis disusun berdasarkan kohort siswa yang berdomisili di Inggris, lahir pada pertengahan 1980-an, dan mengikuti ujian GCSE pada tahun 2002.
Untuk data yang lebih mutakhir mengenai luaran lulusan, Departemen Pendidikan (Department for Education/DfE) telah mempublikasikan informasi pada tahun pajak 2022–2023. Pemerintah menyatakan telah menyiapkan rencana untuk membatasi pertumbuhan beberapa kursus pada beberapa penyedia, khususnya bila terdapat “poor returns for students” secara konsisten.
DfE juga mengatakan akan mencapping jumlah peserta pada program dengan pengembalian terburuk. Selain itu, departemen tersebut akan berkonsultasi untuk penerapan persyaratan bahasa Inggris minimum bagi calon mahasiswa yang hendak mengakses pembiayaan studi.
Kutipan pejabat: memilih dengan sadar, bukan sekadar otomatis
Menanggapi laporan IFS, Menteri untuk Skills Jacqui Smith menekankan pentingnya keputusan yang dibuat calon mahasiswa. Ia mengatakan, “Choose carefully,” dan menambahkan, “Don’t walk into a degree by default,”.
Jacqui Smith juga menyatakan, “Going to university and getting a degree is one of the most transformational things a young person can do. But it is not a universal guarantee of success and not all degrees are equal.” Menurutnya, selain variasi berdasarkan jurusan, masih ada terlalu banyak kursus yang difranchised dan berkualitas buruk yang tidak menawarkan kesepakatan yang baik bagi anak muda, seolah menjual impian lalu meninggalkan mahasiswa tanpa dukungan memadai.
Dalam responsnya terhadap laporan IFS, Nick Harrison, Chief Executive Sutton Trust—sebuah organisasi amal untuk mobilitas sosial—mengatakan bahwa kuliah memang bukan jaminan “financial success”. Namun, ia menegaskan bahwa universitas tetap menjadi “most reliable route to upward mobility”.
Nick Harrison menambahkan, “Most graduates continue to see big financial benefits over their lifetimes, and for young people from lower-income backgrounds those gains are often greatest.” Meski begitu, ia menyebut laporan itu memunculkan pertanyaan yang “uncomfortable” mengenai pilihan karier yang tersedia bagi anak muda.
Ia bertanya, “If we are telling young people not to go to university, what exactly are we telling them to do instead?” Ia juga menyoroti bahwa meski ada banyak kritik terhadap apa yang disebut “low-value degrees”, masih terdapat kekurangan serius terhadap alternatif yang berkualitas tinggi. Ia menambahkan, “Apprenticeships and technical pathways can offer great prospects for progression and success, but there are simply not enough of them available to be a viable alternative for lots of young people.”
Peran pendidikan yang tidak semata-mata uang
Sementara itu, Vivienne Stern, Chief Executive Universities UK, menilai penting untuk menonjolkan bahwa sebagian pilihan jurusan tidak selalu dimotivasi oleh uang. Ia menekankan, “We should highlight that some degree choices such as the arts, were not motivated by money”.
Menurut Vivienne Stern, subjek-subjek seperti seni tetap berperan karena “these subjects also feed the creative industries, which are a huge economic driver for the UK.” Dalam era teknologi, ia menambahkan, “In an age of AI, we’ll value the understanding of how human beings think and act more, not less, in the future.”
Dengan demikian, diskusi yang muncul dari temuan IFS tidak hanya membahas besaran keuntungan finansial, tetapi juga menyentuh bagaimana calon mahasiswa menilai tujuan mereka sendiri serta kualitas program yang tersedia. DfE pun menempatkan langkah kebijakan melalui pencapping kursus dengan pengembalian terburuk serta konsultasi mengenai persyaratan bahasa Inggris minimum untuk calon mahasiswa.
Riset ini pada akhirnya memberi gambaran bahwa manfaat kuliah di rata-rata dapat besar, namun tidak merata. Bagi sebagian lulusan, risikonya nyata—terutama pada kelompok tertentu—sehingga pertimbangan yang lebih cermat sebelum memilih jurusan menjadi bagian penting dari keputusan pendidikan.












