Peristiwa

Pakar: Jalan Jakarta Mudah Ambles Dinilai Tak Seharusnya Terjadi pada Kota Global

×

Pakar: Jalan Jakarta Mudah Ambles Dinilai Tak Seharusnya Terjadi pada Kota Global

Sebarkan artikel ini
Mengapa Jalan Jakarta Mudah Ambles? News 21 Juni 2026
Ilustrasi: Mengapa Jalan Jakarta Mudah Ambles?

jurnalistik.co.id – Guru Besar Program Studi Perencanaan Wilayah dan Kota Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta, Bobi Setiawan, menilai persoalan jalan ambles di Jakarta adalah hal yang seharusnya tidak terjadi. Menurutnya, untuk menjadi Kota Global, jalan ambles tidak semestinya dibiarkan muncul di ibu kota.

Ketika dihubungi Kompas.com pada Minggu (21/6/2026), Bobi menegaskan kondisi seperti ini tidak boleh luput dari pengawasan. “Tidak bisa ditolerir kebangetan, hal yang sangat jelas kelihatan tapi terlewat di monev (monitoring dan evaluasi),” ujarnya.

Penyebab bisa berbeda di tiap wilayah

Bobi menjelaskan bahwa penyebab jalan ambles di setiap daerah tidak selalu sama. Untuk wilayah pesisir atau jalan yang membentang di sepanjang pesisir area Pantura, Jawa Barat, jalan dapat ambles karena penurunan tanah serta peningkatan air laut yang berlangsung sepanjang tahun.

Sementara itu, kondisi di tengah kota berbeda. Pada contoh di Lenteng Agung, Jakarta Selatan, Bobi mengaitkannya dengan pembangunan infrastruktur yang masif serta adanya gorong-gorong.

Ia menyebut, “Di tengah kota mungkin karena adanya gorong-gorong atau infrastruktur kota lama yang belum teridentifikasikan,”. Pernyataan tersebut menempatkan perhatian pada elemen infrastruktur yang berada di bawah permukaan, bukan sekadar tampilan kerusakan di lapisan jalan.

Gorong-gorong tua dapat membuat tanah tak lagi padat

Menurut Bobi, gorong-gorong yang dapat menyebabkan jalan ambles adalah yang usianya sudah tua. Dalam kondisi tersebut, material besi bisa keropos sehingga kemampuan menahan dan menyalurkan air tidak lagi berjalan optimal.

Jika gorong-gorong sudah keropos, air dapat merembes ke tanah di sekitarnya. Akibatnya, tanah di bawah dan sekitar struktur jalan menjadi tidak lagi padat seperti semula.

Ketika tanah kehilangan kepadatannya, aspal akan menghadapi perubahan dukungan dari lapisan bawah. Bobi menjelaskan bahwa efek lanjutannya adalah tanah di bawah aspal akan tergerus, lalu terbentuk rongga kosong.

Rongga tersebut membuat jalan perlahan ambles. Perubahan itu tidak selalu terjadi seketika, namun dapat berkembang sampai permukaan jalan ikut turun secara bertahap.

Infrastruktur masif juga bisa mengubah struktur tanah

Bobi juga mengaitkan ambles di area tengah kota dengan pembangunan infrastruktur yang masif. Ia mencontohkan pembangunan gedung-gedung pencakar langit yang berpotensi membuat permukaan tanah semakin turun.

Jika permukaan tanah terus mengalami penurunan, maka jalan yang sudah dibangun akan ikut mengalami penurunan. Dengan demikian, struktur dan kondisi jalan dapat berubah dan berpotensi menyebabkan ambles.

Selain menurunkan permukaan tanah, proses pembangunan tersebut juga dapat memengaruhi kestabilan lapisan pendukung di bawah jalan. Pada akhirnya, perubahan kondisi tanah dan struktur infrastruktur membuat jalan tidak lagi berada pada kondisi tumpuan yang sama seperti saat awal dibangun.

Hujan lebat memperbesar peluang munculnya rongga

Curah hujan yang tinggi disebut juga dapat menjadi penyebab jalan ambles di Jakarta. Jumlah air hujan yang banyak membuat tanah di bawah aspal melunak.

Ketika tanah di bawah aspal melunak, kondisi itu berpotensi menciptakan rongga. Rongga yang terbentuk kemudian membuat lapisan pendukung jalan lambat laun tidak mampu menopang kendaraan yang melintas di atasnya.

Kasus di Lenteng Agung

Sebelumnya, Jalan Raya Lenteng Agung, Jakarta Selatan, arah Depok, Jawa Barat, sempat mengalami ambles pada Kamis (28/5/2026) malam sekitar pukul 22.30 WIB. Peristiwa ini menunjukkan bahwa kerusakan permukaan jalan di wilayah perkotaan dapat terjadi dan berkembang melalui faktor-faktor yang bekerja di bawah permukaan.

Dalam pandangan Bobi, rangkaian sebab tersebut mulai dari kondisi elemen bawah tanah seperti gorong-gorong tua, perubahan struktur tanah akibat pembangunan masif, hingga pengaruh hujan yang dapat melunakkan tanah. Karena itu, monitoring dan evaluasi menjadi bagian penting agar persoalan yang “sangat jelas kelihatan” tidak terlewat.