Pendidikan

Setelah 4 Tahun Menanti, Kata Pertama “Mama” Akhirnya Terucap dan Bikin Orang Tua Meleleh

×

Setelah 4 Tahun Menanti, Kata Pertama “Mama” Akhirnya Terucap dan Bikin Orang Tua Meleleh

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi: Tangis Haru Setelah 4 Tahun Menunggu, Kata "Mama" Pertama Akhirnya Terucap

jurnalistik.co.id – Penantian panjang seorang ayah dan ibu akhirnya berujung pada momen yang selama ini hanya mereka bayangkan: kata pertama dari buah hati yang mengalami keterlambatan bicara.

Rasa cemas itu datang setiap hari, bahkan terasa di menit-menit kecil. Bagi Yusuf (30), warga Cilincing, Jakarta Utara, kegelisahan tersebut makin berat ketika perkembangan komunikasi putra sulungnya, Artan, tak menunjukkan tanda yang ia harapkan.

Yusuf mulai menyadari ada yang tidak beres saat Artan memasuki usia dua tahun. Di usia itu, teman-teman sebayanya sudah mampu mengucapkan satu hingga dua kata, sementara Artan belum bersuara sama sekali.

Bagi pasangan Yusuf dan istrinya, kondisi tersebut membuat mereka berusaha menafsirkan situasi dengan minim pengalaman. Mereka memilih menunggu kata-kata pertama keluar tanpa membawa Artan ke dokter pada tahap awal.

Kata “Mama” yang memecah penantian

Penantian itu akhirnya berubah menjadi momen haru ketika kata pertama berhasil terucap. Yusuf mengatakan, “Baru pada usia empat tahun dia bisa mengucapkan kata ‘Mama’. Saat itu istri saya sampai menangis karena akhirnya dia bersuara,”

Namun, kata “Mama” tidak otomatis membawa Artan langsung pada perkembangan komunikasi yang pesat. Di usianya yang telah melewati dua tahun, Artan masih lebih banyak mengandalkan bahasa isyarat untuk menyampaikan keinginan.

Ketika menginginkan sesuatu, ia akan menarik tangan orangtuanya lalu menunjuk barang yang diinginkan. Kebiasaan ini menjadi cara utama Artan berkomunikasi karena belum mampu mengungkapkannya lewat kata-kata.

Selain sulit berbicara, respons Artan terhadap komunikasi juga cenderung lambat. Yusuf menuturkan, Artan kerap tidak menoleh saat namanya dipanggil, sehingga proses “memanggil” perhatian terasa berjalan tidak secepat yang mereka harapkan.

Momen berikutnya saat “papa” muncul

Perubahan berikutnya datang setelah Artan melewati usia lima tahun. Pada fase itu, Yusuf melihat ada kemajuan yang tetap mereka nantikan selama ini, meski berlangsung bertahap.

Yusuf mengenang, “Sekitar umur lima tahun baru manggil ‘papa’. Itu momen yang sangat mengharukan buat saya dan istri,”. Dalam cerita Yusuf, satu kata tambahan itu terasa seperti tanda bahwa komunikasi Artan perlahan menemukan jalannya.

Meski demikian, perjalanan yang mereka lalui tidak berhenti pada rasa lega sesaat. Mereka masih memikirkan pola respons Artan yang sebelumnya lambat serta keterlambatan dalam menyusun kata-kata yang seharusnya mulai berkembang lebih awal.

Baru ke psikolog, dan temuan dari pemeriksaan

Setelah Artan baru mampu mengucapkan satu hingga dua kata di usia lima tahun, Yusuf dan istrinya memutuskan membawa putra mereka ke psikolog. Dari pemeriksaan yang dilakukan, Yusuf menyebut hasilnya menunjukkan speech delay dipengaruhi paparan screen time yang berlebihan.

Yusuf mengakui ia tidak membayangkan dampak dari kebiasaan mereka akan menjadi sedalam itu. Ia menjelaskan bahwa sejak menikah dan tinggal mandiri, istrinya harus mengurus seluruh pekerjaan rumah sekaligus merawat anak seorang diri.

Agar Artan tidak rewel ketika pekerjaan rumah diselesaikan, Yusuf kerap memberikan ponsel kepada anak. Menurut pengakuannya, strategi yang pada awalnya dianggap membantu justru membawa konsekuensi yang tidak mereka sadari.

Yusuf menegaskan, “Kami tidak menyangka dampaknya akan separah ini. Intinya, penyebab utamanya adalah kecanduan gawai sejak dini,”. Ia memandang keterlambatan bicara yang dialami Artan sebagai hasil dari paparan perangkat sejak awal yang berlangsung terlalu lama.

Kisah Yusuf dan istrinya memperlihatkan bagaimana penantian bisa berubah dari harapan yang sederhana menjadi pergulatan panjang yang menuntut keputusan baru. Ketika kata pertama akhirnya terucap, rasa haru hadir bersama pertanyaan tentang bagaimana memastikan tumbuh kembang komunikasi anak berjalan optimal setelahnya.

Di momen-momen setelah “Mama” muncul, Yusuf melihat bahwa perkembangan bukan hanya soal satu kata yang tiba-tiba keluar. Respons terhadap komunikasi, cara Artan menyampaikan kebutuhan, serta kecepatan menangkap panggilan menjadi bagian dari gambaran yang kemudian mendorong mereka mencari bantuan profesional.

Meski peristiwa yang paling diingat adalah dua kata yang akhirnya terucap—“Mama” dan “papa”—cerita ini juga menyoroti proses dari awal penundaan hingga pemeriksaan. Dari pengalaman tersebut, Yusuf dan istrinya belajar bahwa pola screen time dan kebiasaan penggunaan gawai dapat memengaruhi cara anak merespons dunia sekitarnya, termasuk kemampuan berbicara.