jurnalistik.co.id – Musisi Danilla Riyadi menuturkan bahwa kedekatannya dengan primbon Jawa ternyata sudah dimulai jauh sebelum ia memahami istilah dan maknanya secara utuh.
Menurut Danilla, ketertarikan itu tidak muncul dari dorongan untuk meramal masa depan. Ia justru tumbuh dari kebiasaan mendengar petuah sehari-hari yang kerap disampaikan sang ibu.
Danilla mengaku, sang ibu serta mendiang neneknya merupakan sosok yang gemar mempelajari primbon. Dalam keluarga, berbagai nasihat yang berkaitan dengan hari kelahiran kerap hadir sebagai bagian dari cara mereka menuturkan nilai dan pesan.
Ia mencontohkan ingatan masa kecilnya ketika ia sering mendengar petuah mengenai hari lahirnya. Dalam diskusi “Mengenal Diri Lewat Zodiak Jawa dan Primbon” di Museum Radya Pustaka, Solo, Jumat (3/7/2026), Danilla menyampaikan kesan yang ia bawa sejak kecil.
“Aku lahir hari Senin. Kata ibuku, Senin itu artinya bunga,” ujar Danilla dalam sesi tersebut.
Di masa kanak-kanak, Danilla juga memiliki permainan yang dekat dengan alam. Ia gemar bermain masak-masakan, dengan memanfaatkan daun dan bunga yang ia petik dari halaman.
Namun, kebiasaan itu tidak dibiarkan terus berjalan. Danilla menceritakan bahwa sang ibu kerap menghentikannya ketika ia mulai memetik bunga.
“Dulu waktu kecil aku sering banget main pakai daun sama bunga. Terus ibuku bilang, ‘Dek, jangan. Kamu kan lahirnya hari Senin, jangan merusak bunga. Harusnya kamu sayang bunga, jangan dipetik,’” kenangnya.
Danilla menjelaskan bahwa saat itu ia belum benar-benar memahami alasan yang melatarbelakangi larangan tersebut. Baginya, nasihat itu terasa seperti aturan yang datang tanpa penjelasan yang bisa langsung ia cerna.
Meski begitu, pesan yang ia dengar dari sang ibu tetap tinggal sebagai bagian dari memori masa kecil. Seiring waktu, ia kemudian menilai kembali larangan itu dengan sudut pandang yang lebih dewasa.
Ia mengatakan, perubahan cara pandangnya terjadi ketika ia mulai mencari keterkaitan logis dari nasihat tersebut. Danilla kemudian melihat bahwa larangan tidak berdiri sendiri, melainkan memiliki maksud yang bisa diterjemahkan ulang melalui pemikirannya.
“Semakin aku besar, ternyata, oh iya, kalau memang bunganya belum siap mati, memang tidak usah dipetik. Kalau dibalikin ke logikaku, jadi masuk akal buatku,” katanya.
Berita Terkait
- 6 Tahun Tertahan, Ijazah Dio di SMK Karya Bhakti Brebes Diputihkan karena Tunggakan Rp 3.600.000
- Sekolah Rakyat Medan Tuntas 100 Persen, AHY Tekankan: Investasi untuk Memutus Rantai Kemiskinan
- Wali Murid SDN 3 Plantataran Kendal Tolak Rencana Regrouping dengan SDN 2, Khawatir Psikologis Anak dan Isu Intimidasi
Ia menambahkan bahwa dari pengalaman tersebut, ia memahami ada pesan yang tersimpan dalam banyak petuah tradisi Jawa. Bagi Danilla, nasihat-nasihat dalam primbon dapat dibaca sebagai cara untuk mengingatkan manusia agar menghargai alam dan kehidupan.
Baginya, yang disampaikan keluarga bukan semata-mata aturan yang harus dipercaya tanpa pertimbangan. Sebaliknya, ia melihat anjuran-anjuran dalam primbon sebagai kumpulan pengalaman yang diwariskan dari generasi ke generasi.
Danilla menilai, orang tua hidup lebih dulu dan karenanya memiliki pengalaman yang ingin dibagikan kepada anak-anak. Ia menaruh makna bahwa warisan itu dapat menjadi pengingat yang menarik, meski tidak harus diterima sebagai kebenaran mutlak.
“Benar kata Pak Totok tadi, ini kan catatan berdasarkan pengalaman. Orangtua hidup lebih dulu dari kita, jadi mereka seperti berbagi pengalaman. Buatku, itu jadi pengingat yang menarik,” ujarnya.
Dalam kesempatan yang sama, Danilla juga menyinggung bahwa primbon Jawa dan zodiak kerap dianggap sama oleh banyak orang. Meski demikian, ia menyebut bahwa filolog memberikan penjelasan mengenai perbedaan keduanya.
Ia menekankan bahwa pembahasan soal perbedaan tersebut menjadi bagian dari pemahaman yang lebih luas, terutama ketika seseorang ingin mengenali primbon secara lebih jernih dan tidak menyamakan semuanya begitu saja.
Primbon sebagai bagian dari warisan budaya
Bagi Danilla, ketertarikan pada primbon tidak berhenti pada pengalaman pribadi. Ia juga memandang primbon sebagai warisan budaya yang layak dipelajari dan dikenali.
“Sebagai orang Indonesia, aku merasa primbon itu warisan. Informasi yang sangat otentik, makanya aku ingin tahu,” katanya.
Ia mengaitkan pandangannya dengan penjelasan yang ia terima dalam diskusi tersebut, termasuk dari Totok Yasmiran sebagai filolog Museum Radya Pustaka. Danilla menyampaikan bahwa perspektif yang ia dengar memperkuat posisinya untuk memahami primbon sebagai bagian dari identitas budaya.
Lewat pengalaman sejak kecil hingga cara pandangnya yang semakin matang, Danilla merasa ada dua hal yang bisa diambil: pesan nilai yang dibawa dari larangan sederhana sang ibu, serta cara membaca primbon sebagai catatan budaya yang berangkat dari pengalaman.
Dengan pendekatan semacam itu, ia menempatkan primbon bukan sekadar sebagai alat ramal, melainkan sebagai ruang untuk belajar cara menghargai alam, memahami kebiasaan warisan, dan menafsirkan nasihat dengan kepala yang lebih dewasa.








