Daerah

Pedagang Joglo Jakbar berharap proyek galian segera rampung supaya pembeli kembali

×

Pedagang Joglo Jakbar berharap proyek galian segera rampung supaya pembeli kembali

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi: Pedagang Berharap Proyek Galian di Joglo Jakbar Cepat Rampung agar Pembeli Kembali

jurnalistik.co.id – Pedagang warung sembako di Jalan Muchtar Raya, Joglo, Kembangan, Jakarta Barat, mengeluhkan penurunan penjualan sejak proyek galian mulai dikerjakan di depan lokasi usaha mereka. Menurut mereka, gangguan akses membuat aliran pembeli menyempit dan waktu singgah konsumen menjadi berkurang.

Galian yang dilakukan membentang dari Jalan Raya Joglo hingga Jalan Muchtar Raya. Di sekitar area pekerjaan, kondisi lalu lintas terutama di perempatan lampu merah terlihat tidak tertib, sehingga perjalanan kendaraan dari dan menuju koridor sekitar ikut terganggu.

Warga dan pengendara yang melintas dari arah Ciledug menuju Kembangan maupun Kebon Jeruk, serta sebaliknya, harus bersabar karena sebagian badan jalan digunakan untuk pekerjaan galian. Akibatnya, kendaraan yang hendak berhenti atau melintasi sekitar kios menjadi lebih sulit mencapai titik-titik tertentu di sepanjang jalan tersebut.

Dalam situasi seperti itu, pedagang menilai dampak yang paling terasa datang dari berkurangnya pembeli yang sebelumnya melintas sambil berhenti. Ninok (30), pemilik warung sembako, mengatakan proyek tersebut berpengaruh langsung pada usahanya karena akses yang selama ini menjadi andalan tidak lagi semulus sebelum pengerjaan dimulai.

Ninok menjelaskan, selama ini sebagian besar pelanggan adalah pengendara roda dua yang melintas dan singgah untuk membeli minuman atau makanan ringan. Sejak proyek dimulai, ia mengaku kehilangan banyak pelanggan dari kalangan pengguna jalan, terutama karena sepeda motor kini makin jarang mampir.

“Sangat, sangat menurun (penjualan) orang yang jalan naik motor itu kan jadi enggak bisa ke sini,” kata Ninok saat ditemui, Rabu (29/7/2026).

Perubahan pola pembeli itu, menurut Ninok, membuat penjualan lebih banyak ditopang warga sekitar yang berada di bagian belakang lokasi warung. Dengan terganggunya keterjangkauan untuk pengendara yang melintas, pelanggan yang bisa datang cenderung terbatas pada mereka yang dekat dengan titik usaha.

Ia menambahkan, “Jadi sekarang yang beli konsumennya paling orang-orang belakang, warga yang di belakang,” ungkapnya. Pedagang berharap pekerjaan dapat segera selesai agar akses kembali normal dan pembeli yang sebelumnya datang dari arus kendaraan dapat kembali.

Keluhan serupa disampaikan Nur (20), pedagang warung sembako lainnya di lokasi yang sama. Menurut Nur, akses menuju warung yang ia kelola ikut terputus karena bagian saluran yang sedang digali menyebabkan pelanggan kesulitan mencapai titik jualannya.

Nur menyebut bahkan ayahnya harus menyiapkan pijakan sementara agar konsumen tetap bisa masuk ke warung. Langkah itu dilakukan untuk mengantisipasi kondisi di lokasi yang membuat jalur masuk terbatas selama pekerjaan berlangsung.

“Dampaknya itu ya jadi semakin sepi konsumen,” kata Nur. Ia menilai keramaian usaha sulit kembali stabil selama akses masih terganggu, terutama ketika pengunjung yang datang membutuhkan lintasan yang jelas untuk sampai ke kios.

Dalam pemberitaan di lokasi, pekerjaan galian tersebut disebut dikerjakan oleh Suku Dinas Sumber Daya Air (Sudin SDA) Jakarta Barat. Pedagang berharap proyek galian berjalan cepat dan bisa dituntaskan, sehingga hambatan yang membuat pembeli menjauh dapat berkurang dan aktivitas jual beli di sepanjang Jalan Muchtar Raya kembali lancar.

Bagi para pedagang, persoalan utama bukan semata waktu pengerjaan, melainkan kemudahan mencapai kios. Ketika sebagian badan jalan dipakai untuk pekerjaan dan jalur akses terputus, pembeli lebih memilih tempat yang lebih mudah dijangkau, sedangkan pedagang harus beradaptasi dengan cara yang terbatas untuk mempertahankan kedatangan konsumen.

Ketika arus kendaraan tidak leluasa dan titik singgah di depan kios menjadi sulit dijangkau, pedagang mengaku transaksi yang biasanya terjadi cepat saat orang melintas justru berkurang. Pembeli cenderung memilih berhenti di lokasi lain yang lebih mudah diakses, sehingga warung mereka hanya didatangi dari jarak yang lebih dekat.

Para pedagang berharap pengaturan di area pekerjaan bisa membuat jalur kembali jelas, baik untuk pejalan kaki maupun pengguna kendaraan yang ingin mendekati lapak. Dengan akses yang lebih lancar, mereka yakin pola kunjungan yang sempat terganggu dapat pulih dan penjualan berangsur stabil seperti sebelum proyek mulai dikerjakan.