Daerah

Taman Kyai Langgeng Magelang Sepi, Setelah 5 Jam Pedagang Hanya Laku 1 Celana Rp30.000

×

Taman Kyai Langgeng Magelang Sepi, Setelah 5 Jam Pedagang Hanya Laku 1 Celana Rp30.000

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi: Taman Kyai Langgeng Magelang Kini Sepi, Pedagang Jualan 5 Jam Hanya Laku Satu Celana

jurnalistik.co.id – Lapak Taman Kyai Langgeng Ecopark di Magelang terasa lengang pada Kamis (16/7/2026). Sejumlah pedagang menunggu kedatangan pengunjung, namun hasil penjualan tidak kunjung menggembirakan.

Mulyani, pedagang pakaian di area Taman Kyai Langgeng (TKL) Ecopark, mengaku sudah berjualan lebih dari lima jam pada hari tersebut. Pada akhirnya, hanya satu barang yang laku terjual.

Menurut Mulyani, seorang remaja membeli celana bermotif gajah dengan harga Rp 30.000. Ia menyampaikan penjualan itu terjadi setelah jam operasional berjalan cukup lama.

“Buka sejak jam 10 tadi, baru laku celana ini,” kata Mulyani, Kamis (16/7/2026). Perempuan berusia 50 tahun itu juga menambahkan bahwa keuntungan yang diperoleh tidak sebanding dengan waktu menunggu.

“Cuma habis untuk bensin, itu aja (tangki sepeda motor) enggak penuh,” imbuhnya. Ia menggambarkan kondisi lapaknya yang tidak ramai, sehingga transaksi jarang terjadi selama jam-jam berjualan.

Mulyani merupakan salah satu pedagang yang berjualan di Show Room Mudalrejo, kompleks TKL Ecopark. Ia mengaku telah lama menggantungkan penghasilan dari berdagang, dan sejak awal beroperasi hingga kini lokasi usahanya mengalami perubahan.

Ia menyebut, Mulyani sudah berdagang di obyek wisata milik Pemerintah Kota Magelang sejak tahun 2000. Saat itu, lapaknya berada di dekat area parkir mobil dan bus sebelum akhirnya dipindahkan.

Pada 29 Februari 2012, pedagang kemudian direlokasi ke Show Room. Sejak pindah tempat, Mulyani terus menjalankan aktivitas berdagang di area yang sama.

Dulu, ia mengatakan omzet dari penjualan bisa mencapai jutaan rupiah. Namun, kondisi berbeda saat ini membuat penghasilannya jauh menurun dan cenderung tidak menentu.

“Sekarang enggak pasti penghasilannya. Paling banyak Rp 100-300 ribuan (per hari),” katanya. Ia menilai perubahan tersebut terasa dari hari ke hari, terutama ketika pengunjung yang datang tidak seperti yang diharapkan.

Penurunan sejak pandemi

Surono, Ketua Kelompok Sadar Wisata Taman Kyai Langgeng, juga turut menggambarkan dampak yang memengaruhi aktivitas lapak di kawasan tersebut. Ia sempat menjalankan usaha berjualan cenderamata di Show Room, sebelum akhirnya menghentikan usahanya.

Surono mengatakan, ia berhenti berjualan pada 2021. Menurutnya, pandemi Covid-19 memberikan pengaruh besar terhadap tingkat kunjungan ke lapak-lapak pedagang.

“Setelah Covid (kunjungan) menurun. Barang dagangan enggak laku,” ucap Surono. Pernyataan itu menegaskan hubungan antara sepinya kunjungan dan sulitnya barang berpindah tangan di lapangan.

Dalam penjelasannya, Surono menyebut Showroom memiliki lima blok lapak. Pembagian tersebut membuat area pedagang terbagi dalam beberapa bagian, namun pada praktiknya tetap mengikuti naik-turunnya arus pengunjung.

Ketika kunjungan menurun, pedagang di berbagai blok menghadapi tantangan yang sama, yakni keterbatasan transaksi selama waktu berjualan. Kondisi tersebut terlihat dari pengalaman Mulyani pada Kamis (16/7/2026) yang hanya mampu menjual satu celana.

Waktu menunggu dan hasil yang tidak sebanding

Hari itu, Mulyani memulai aktivitas sejak pukul 10. Namun, baru ada pembeli pada waktu setelah beberapa jam berlalu, sehingga ia harus menunggu lebih lama dengan kondisi lapak yang tidak ramai.

Penjualan yang ia ceritakan menjadi cermin betapa tipisnya peluang transaksi pada periode tersebut. Meski satu barang laku, penghasilan yang didapat dinilai hanya cukup untuk menutup biaya, bukan untuk menambah pemasukan.

“Cuma habis untuk bensin,” ujarnya, menggambarkan bahwa hasil penjualan masih berputar di kebutuhan operasional harian. Ia juga menambahkan tangki sepeda motornya tidak penuh, menandai betapa terbatasnya pendapatan dibandingkan biaya yang dikeluarkan.

Di tengah situasi itu, pengalaman Mulyani menunjukkan bagaimana pedagang yang sudah lama beroperasi tetap merasakan perubahan kualitas ekonomi usahanya. Ia pernah berada pada fase omzet yang lebih baik, tetapi kini harus menghadapi penghasilan yang berada pada kisaran yang ia sebutkan sendiri.

Relokasi dan perjalanan usaha

Relokasi dari dekat area parkir ke Show Room juga menjadi bagian dari cerita panjang Mulyani. Ia mengaitkan perjalanannya dari tahun 2000 hingga pemindahan pada 29 Februari 2012 sebagai rangkaian usaha yang dijalaninya di Taman Kyai Langgeng.

Meski tempat berjualan berpindah, tantangan utama yang ia hadapi saat ini adalah konsistensi pengunjung. Dalam kondisi kunjungan yang tidak stabil, penjualan tidak bisa diprediksi, dan penghasilan pun menjadi tidak pasti.

Melalui pengakuan Mulyani dan keterangan Surono, terlihat bahwa persoalan sepinya lapak tidak hanya dirasakan pada satu hari. Perubahan yang terjadi—termasuk yang muncul sejak pandemi—membuat pedagang harus menata ulang harapan ketika arus pembeli tidak datang sesuai waktu.

Dengan Show Room yang terbagi menjadi lima blok lapak, setiap ruang usaha pada akhirnya tetap dipengaruhi oleh jumlah kunjungan. Pada Kamis (16/7/2026), Mulyani merasakan dampaknya langsung ketika satu celana bermotif gajah menjadi satu-satunya hasil penjualan selama lebih dari lima jam.