jurnalistik.co.id – Senin (27/7/2026), para murid SDN 001 Birang Filial mulai mengikuti kegiatan belajar di sekolah induk yang jaraknya lebih dari 40 kilometer. Perubahan itu terjadi karena di Kelurahan Gunung Tabur, Kabupaten Berau, belum tersedia gedung sekolah permanen.
Sebelum menggunakan sekolah induk, siswa sempat menumpang di rumah warga. Ketika rumah tersebut hendak dipakai kembali oleh pemiliknya, proses belajar juga sempat berlangsung di tenda darurat yang terbuat dari terpal.
Untuk mengatasi jarak yang harus ditempuh, Pemerintah Kabupaten Berau kemudian menyiapkan bus antar jemput. Dua bus mengangkut sekitar 50 anak setiap kali jadwal berangkat.
Para siswa berangkat sekitar pukul 07.00 Wita dan menempuh perjalanan sekitar 1 jam menuju sekolah induk di Kecamatan Gunung Tabur. Dalam praktiknya, waktu tempuh itu membawa keluhan dari sebagian orang tua.
Perwakilan orang tua murid, Fadli (44), mengatakan banyak anak belum terbiasa dengan perjalanan menggunakan bus. Ia menyebut keluhan mulai muncul selama masa belajar.
“Mereka memang tidak terbiasa naik mobil, apalagi bus. Kemarin banyak yang mengeluh kelelahan, pusing, bahkan mabuk darat karena jaraknya cukup jauh,” kata Fadli dihubungi dari Balikpapan pada Selasa (28/7/2026).
Menurut Fadli, bus baru kembali ke kampung sekitar pukul 13.30 Wita. Ia menilai setelah kembali ke siang hari, kondisi anak sudah berada pada titik kelelahan.
“Kalau siang mereka sudah capek sekali. Jadi memang kurang ideal kalau harus setiap hari seperti ini,” ujarnya.
Jadwal belajar dan respons pemangku kepentingan
Keluhan tersebut kemudian dibahas bersama kepala sekolah dan Dinas Pendidikan Berau hingga Wakil Bupati Berau. Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Berau, Mardiatul Idalisah, saat meninjau sekolah filial SDN 001 Birang membantah adanya narasi bahwa pelajar sudah dua tahun belajar dengan atap terpal.
Berita Terkait
Hasil pembahasan itu membuat proses belajar tatap muka di sekolah induk dihentikan untuk sementara. Keputusan itu diambil agar kondisi siswa lebih terjaga mengingat keluhan kelelahan selama perjalanan.
Selama dua pekan ke depan, siswa akan menjalani belajar dari rumah (BDR) dengan pola yang berbeda dari format belajar di rumah masing-masing. Perubahan pola diterangkan setelah evaluasi oleh pihak sekolah dan dinas.
Fadli menjelaskan bahwa kegiatan tidak dilakukan dengan belajar sendirian di rumah masing-masing. “Dua guru akan datang bergantian setiap dua hari sekali untuk bertatap muka dengan siswa. Sementara guru wali kelas tetap memberikan pembelajaran setiap hari,” ujarnya.
Dengan pola tersebut, siswa berkumpul di rumah guru yang berada di kampung. Pada saat yang sama, pembelajaran tetap berjalan setiap hari melalui guru wali kelas.
Penjelasan dari pihak sekolah
Kepala SDN 001 Birang Filial, Maemunah, menjelaskan bahwa sebelum keputusan ini, pihak sekolah menjadwalkan belajar di sekolah induk hanya pada Senin dan Rabu. Setelah jadwal diterapkan, jarak yang harus ditempuh justru memunculkan keluhan pada sebagian siswa.
Perjalanan harian yang harus ditempuh dengan bus menjadi persoalan utama bagi anak-anak yang belum terbiasa. Karena itu, penghentian tatap muka sementara di sekolah induk memberi ruang penyesuaian melalui BDR dengan pertemuan berkala.
Langkah yang diambil selama dua pekan ke depan diharapkan dapat mengurangi keluhan saat perjalanan, sekaligus memastikan proses belajar tetap berjalan. Sementara itu, pihak berwenang melanjutkan pembahasan terkait kebutuhan fasilitas belajar yang lebih memadai bagi sekolah filial di wilayah tersebut.
Selain itu, selama BDR, pertemuan berkala di rumah guru dimaksudkan agar anak tetap memperoleh arahan langsung tanpa harus menempuh perjalanan pulang-pergi setiap hari.
Menurut evaluasi oleh sekolah dan Dinas Pendidikan, pola ini disusun setelah keluhan kelelahan muncul selama perjalanan menggunakan bus.












