jurnalistik.co.id – KIEV, Ukraina — Kolonel Dmytro Kozyura dijatuhi hukuman penjara seumur hidup setelah dinyatakan bersalah melakukan pengintaiannya untuk layanan keamanan Rusia, FSB. Keputusan itu diumumkan jaksa penuntut umum Ukraina setelah pengadilan memutuskan perkara di bawah rezim hukum darurat.
Menurut jaksa penuntut umum, Kozyura dinilai bersalah atas tindak pengkhianatan tingkat tinggi selama masa darurat militer. Ia juga disebut melanggar ketentuan terkait penanganan ilegal senjata, amunisi, atau bahan peledak.
Dalam persidangan, Kozyura sebelumnya menjabat sebagai kepala staf pusat anti-teror Badan Keamanan Ukraina (SBU). Peran tersebut membuatnya memiliki akses terhadap rahasia negara dan tugas koordinasi dalam upaya melawan terorisme.
Jaksa menyatakan, Kozyura sepakat membagikan informasi yang “constituting state secrets” atau yang merupakan rahasia negara demi imbalan finansial. Putusan itu, menurut jaksa, layak mendapat hukuman paling berat.
Jaksa juga menyinggung operasi yang diberi kode “rat”. Berdasarkan informasi SBU, Kozyura menggunakan sebuah tempat persembunyian (safehouse) di Kyiv untuk berkomunikasi dengan penghubungnya dari pihak Rusia yang menginginkan akses terhadap informasi rahasia Ukraina terkait militer dan kepemimpinan negara.
Kozyura ditangkap pada Februari 2025. Setelah penangkapannya, SBU merilis sebuah gambar yang menampilkan Kozyura bersama kepala intelijen Ukraina, Vasyl Malyuk, yang memimpin penyelidikan.
Dalam keterangan lembaga tersebut, Kozyura sempat direkrut oleh FSB di Wina pada 2018. Namun, menurut SBU, jeda beberapa tahun terjadi sebelum para pengendalinya kembali menjalin kontak pada Desember 2024.
Setelah kontak itu dimulai lagi, Kozyura diminta untuk mengumpulkan dan membagikan informasi tentang penempatan serta pergerakan kekuatan bersenjata Rusia. Ia juga diminta menyampaikan informasi mengenai persenjataan, infrastruktur, serta kepemimpinan politik dan militer Ukraina.
Aktivitas yang disebut SBU mencakup pengintaiannya terhadap pos komando SBU. Kozyura kemudian “systematically” atau secara sistematis membagikan dampak dari serangan Rusia, termasuk jumlah personel militer dan warga sipil yang terluka akibat serangan tersebut.
Jaksa penuntut umum menyebut bahwa Kozyura berada dalam “constant communication” dengan para pengendali dari Rusia. Komunikasi itu mencakup pertukaran dokumen yang diberi label “secret”, serta penyampaian informasi yang relevan dengan kebutuhan intelijen pihak lawan.
Pada proses penangkapan, SBU menyatakan bahwa pejabat mereka “monitored every step of the agent around the clock” atau memantau setiap langkah Kozyura selama 24 jam. Lembaga tersebut menyebut Kozyura berkomunikasi dengan seorang operator Rusia dari safehouse menggunakan telepon seluler terpisah serta router Wi-Fi yang digunakan secara khusus.
Menurut SBU, pihak Rusia yang bertindak sebagai penghubung Kozyura diidentifikasi bernama Yuriy Shatalov. Perannya disebut sebagai pihak yang mengoordinasikan jaringan para agen.
Di tengah penyelidikan, Ukraina juga menyampaikan bahwa sebelum Kozyura akhirnya ditangkap, mereka menggunakan Kozyura untuk “flood Russian forces with a massive amount of disinformation” atau membanjiri pasukan Rusia dengan disinformasi dalam jumlah besar. Pada saat yang sama, Ukraina berupaya mencegah Kozyura memperoleh intelijen yang dianggap penting.
Jaksa penuntut umum menambahkan bahwa Kozyura, sebagai perwira karier di SBU, memiliki akses terhadap rahasia negara dan bertanggung jawab mengoordinasikan perang melawan terorisme. Hal itu kemudian dijadikan dasar pembingkaian bahwa tindakannya berbahaya bagi keamanan nasional.
Ruslan Kravchenko, jaksa penuntut umum, menegaskan dalam pernyataannya: “Anyone who wears Ukrainian epaulets and begins working for the FSB becomes an enemy of Ukraine.” Ia juga menyatakan, “Only the harshest punishment is appropriate for such individuals.”
Jaksa juga mengaitkan kasus ini dengan upaya Kyiv yang lebih luas untuk membongkar jaringan agen Rusia di wilayah Ukraina. Sejak dimulainya invasi skala penuh Moskow pada Februari 2022, Kyiv mengumumkan berbagai operasi yang diarahkan untuk mengekspos keberadaan agen-agen Rusia di dalam negeri.
Dalam konteks itu, penjatuhan hukuman seumur hidup kepada Kozyura diposisikan sebagai bagian dari respons negara terhadap aktivitas intelijen dan pengkhianatan yang dinilai terjadi secara sistematis. Putusan tersebut sekaligus menutup proses hukum yang menilai tindakan Kozyura sebagai pengkhianatan tingkat tinggi di bawah hukum darurat.












