jurnalistik.co.id – Presiden Polandia Karol Nawrocki mencabut penghargaan negara tertinggi yang pernah diberikan kepada Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky. Pencabutan itu terkait keputusan Kyiv menamai satuan militer dengan rujukan kepada pejuang Perang Dunia II yang kontroversial.
Penghargaan yang dicabut adalah Order of the White Eagle, yang sebelumnya diberikan Zelensky pada 2023 oleh mantan Presiden Polandia Andrzej Duda. Di balik langkah tersebut, ada kebijakan Ukraina yang menggunakan nama Unit Pemberontak Ukraina (Ukrainian Insurgent Army/UPA) untuk satuan militer.
Menurut Nawrocki, keputusan Kyiv pada akhir bulan lalu untuk memberi nama unit itu dengan merujuk kepada UPA memicu gelombang protes dari pihak Warsawa. Ia menyebut keputusan tersebut “outrageous”, “incomprehensible” dan “deeply disappointing”.
Dalam pernyataan yang ia sampaikan lewat video di situs resmi kepresidenannya, Nawrocki juga menegaskan bahwa sengketa diplomatik ini tidak akan memengaruhi dukungan Polandia kepada Ukraina dalam menghadapi Rusia. Ia menyatakan langkah itu tidak mengubah posisi Polandia terhadap bantuan yang selama ini diberikan.
Di kubu Ukraina, responsnya keras. Menteri Luar Negeri Ukraina Andrii Sybiha mengecam langkah Polandia dan menggambarkannya sebagai “a strategic mistake” dan “disrespectful”.
Sybiha juga mengatakan ia akan mengembalikan penghargaan dari Polandia yang pernah diterimanya pada 2022 sebagai bentuk protes atas keputusan tersebut. Ia menambahkan: “No president of another country will dictate our history to us”.
Perbedaan pandangan soal UPA menjadi inti sengketa ini. Banyak orang Ukraina memandang UPA—yang beroperasi pada dekade 1940-an hingga 1950-an—sebagai figur kepahlawanan yang memperjuangkan kemerdekaan Ukraina dari Uni Soviet, sekaligus melawan Jerman Nazi dan otoritas Polandia pada masa itu.
Bagi sebagian warga Ukraina, gelar “Heroes of the Ukrainian Insurgent Army” dipandang sebagai penghormatan besar. Dalam pandangan ini, UPA bukan sekadar organisasi bersenjata historis, melainkan simbol perjuangan bangsa.
Namun, Polandia menyampaikan tuduhan yang berbeda. Warsawa menilai UPA bertanggung jawab atas genosida terhadap etnis Polandia di Volhynia—kini dikenal sebagai Volyn di Ukraina—pada periode 1943–45.
Karol Nawrocki menyatakan bahwa “For the overwhelming majority of Polish society, the UPA remains, above all, a formation responsible for the brutal crimes committed against citizens of the Republic of Poland during World War II,”. Ia menegaskan keputusan otoritas Ukraina untuk memuliakan UPA bukan hanya “outrageous”, tetapi juga “incomprehensible” dan “deeply disappointing”.
Nawrocki menambahkan bahwa sikap itu “It hurts not only our historical memory. It also undermines the trust built up over the years and in recent months”. Ia menautkan penilaian tersebut dengan dinamika hubungan Polandia-Ukraina, khususnya setelah Rusia melancarkan invasi skala penuh pada 2022.
Ia menyoroti bahwa Polandia menerima ratusan ribu pengungsi Ukraina pasca 2022, dan menggambarkan respons masyarakat Polandia sebagai tindakan pembuka hati. Dalam video tersebut ia mengatakan: “Poles opened their borders, their homes, and their hearts to millions of Ukrainians”.
Nawrocki juga mengaitkan isu sejarah dengan prinsip integrasi Eropa. Ia menyatakan: “Ukraine’s path toward European structures also requires a willingness to honestly confront the difficult chapters of its own history”. Ia melanjutkan, “A united Europe was built on the rejection of totalitarianism and the cult of violence. These principles must apply to everyone”.
Dalam bagian penutup pandangannya, Nawrocki menegaskan: “For those who do not understand this, there can be no place in the European Union, and Poland will certainly not allow it.”
Sementara itu, dinamika ketegangan tetap menjadi perhatian internasional. Perdana Menteri Polandia Donald Tusk berupaya meredam suasana yang makin memanas antara Kyiv dan Warsawa. Lewat media sosial pada Jumat, ia mengatakan pertikaian itu “delights” Vladimir Putin dan menyerukan agar Zelensky dan Nawrocki “calm emotions, not to stoke tensions”.
Bagi Ukraina, UPA diposisikan sebagai simbol resistensi dan perjuangan kemerdekaan. Walau demikian, pihak Warsawa menekankan jumlah korban etnis Polandia dalam peristiwa Volhynia, termasuk pernyataan bahwa sekitar 100.000 etnis Polandia tewas dalam rangkaian pembantaian tersebut.
Konflik narasi ini juga terlihat dalam simbol yang digunakan hingga kini. Bendera UPA berwarna merah dan hitam kerap dipakai oleh prajurit Ukraina di garis depan saat ini.
Di tengah kontroversi itu, Zelensky sebelumnya menyatakan bahwa ia akan menggunakan nama UPA untuk satuan militer dengan tujuan “with the aim of restoring the historical traditions of the national army”. Namun, Zelensky tidak memberikan komentar langsung mengenai barisan isu terbaru tersebut.
Dengan pencabutan Order of the White Eagle, polemik antara Kyiv dan Warsawa kembali mengemuka—di saat Ukraina juga tengah mengejar status anggota Uni Eropa. Ukraina disebut menghadiri fase awal perundingan keanggotaan minggu ini di Luxembourg.
Langkah Polandia terhadap Zelensky, menurut pihak Ukraina, dipandang sebagai serangan terhadap martabat historis yang telah diperjuangkan Kyiv. Sedangkan bagi Warsawa, penguatan simbol UPA dianggap tidak sejalan dengan cara Eropa mengelola memori sejarah, sehingga mereka menempatkan keputusan pencabutan sebagai respons yang tidak bisa ditawar.












