Internasional

Serangan kilang minyak Moskow membuat perang Rusia dengan Ukraina terasa lebih dekat

×

Serangan kilang minyak Moskow membuat perang Rusia dengan Ukraina terasa lebih dekat

Sebarkan artikel ini
Steve Rosenberg: Moscow oil refinery attack brings Russia's war with Ukraine closer to home
Ilustrasi: Moscow oil refinery attack brings Russia's war with Ukraine closer to home

jurnalistik.co.id – Kamis pagi di Moskow terasa berbeda dari biasanya. Di tenggara kota, sebuah kilang minyak dilaporkan menjadi sasaran serangan drone Ukraina, dan dampaknya mengubah warna langit sekaligus kebiasaan orang-orang di sekitarnya.

Asap tebal membubung ke udara sejak serangan terjadi, membuat langit menjadi gelap. Di kejauhan, pemandangan itu tampak seperti selubung hitam raksasa yang menggantung di atas garis cakrawala Moskow.

Meski awan asap terlihat dramatis, respons warga dekat fasilitas itu justru beragam dan—bagi sebagian orang—terlihat nyaris normal. Seorang pemancing duduk di tepi kolam, menatap air sambil tetap memancing, seolah tidak ada yang terlalu luar biasa.

Di taman bermain seberang, anak-anak tetap bersenang-senang di ayunan. Sementara itu, warga lain tetap bolak-balik ke supermarket, menunaikan aktivitas harian seperti hari biasa.

“Bagi sekian lama, perang Ukraina terasa jauh dari ibu kota,” tulis Steve Rosenberg dalam pengamatannya. Namun, semakin garis depan merayap mendekat, upaya untuk tidak menganggapnya nyata menjadi makin sulit dipertahankan.

Selama satu setengah tahun terakhir, warga Moskow berulang kali terpapar kabar tentang tindakan kekerasan yang menyentuh wilayah ibu kota. Ada berita tentang pembunuhan jenderal-jenderal militer di Moskow, serta serangan drone yang menargetkan kota itu.

Dalam konteks itu, serangan hari Kamis digambarkan sebagai salah satu serangan udara terbesar ke wilayah Moskow sejak Rusia melancarkan invasi penuh ke Ukraina. Selain kilang minyak, pusat perbelanjaan dan bangunan tempat tinggal disebut ikut terdampak.

Gubernur wilayah Moskow menyatakan bahwa seorang gadis berusia delapan tahun tewas dalam kebakaran yang dipicu salah satu serangan drone. Slava, seorang warga yang tinggal di blok apartemen berhadapan dengan kilang, mengatakan ia tidak sepenuhnya terkejut, tetapi juga tidak mengharapkan skala serangan sebesar itu.

Slava mengungkapkan: “I’m not totally surprised by what happened,” dan menambahkan, “But I didn’t expect such a big attack.” Ia juga bercerita bahwa ia mendengar ledakan dan melihat banyak asap dari jendela apartemennya, sesuatu yang ia gambarkan sebagai pemandangan yang biasanya hanya terlihat di film: “It’s the kind of thing you normally see in the movies. I saw it from my apartment window.”

Namun, tidak semua orang menilai keadaan dengan cara yang sama. Nadezhda, warga setempat lainnya, menyampaikan pandangan yang lebih bertumpu pada rasa terkejut dan sulit menerima kelanjutan perang. Ia mengatakan perlu waktu empat tahun untuk memenangkan Perang Dunia II, walau para prajurit saat itu kekurangan makanan dan air—lalu membandingkannya dengan kondisi saat ini.

Nadezhda berkata: “It took us four years to win World War Two, even though our soldiers had little food and water,” lalu menegaskan, “Today we have all the resources we need. But this war goes on. I’m shocked.”

Rosenberg kemudian menyoroti pertanyaan yang sulit dijawab bagi warga seperti Nadezhda: bagaimana otoritas Rusia merespons orang-orang yang berusaha memahami mengapa apa yang disebut Kremlin sebagai “special military operation” berlangsung begitu lama dan bagaimana perang bisa akhirnya “mendekat” ke kota mereka.

Pejabat Rusia secara rutin menuduh Barat memperpanjang perang di Ukraina, dan menyalahkan pemimpin Eropa serta NATO yang mendukung Kyiv. Akan tetapi, pada hari Kamis, Presiden Vladimir Putin tidak menyebut serangan drone itu dalam pernyataannya, dan siaran buletin di sejumlah saluran televisi Rusia hanya menyinggungnya secara minim.

Ketika surat kabar Rusia memuat laporan pada hari berikutnya, Rosenberg melihat adanya benang merah yang berupaya menyampaikan pesan yang serupa bagi audiens domestik. Pesan itu dapat diringkas sebagai: “However bad it is for us, Ukraine’s suffering more”.

Komsomolskaya Pravda, media yang digambarkan sangat pro-Kremlin, menyatakan: “Our attacks are doing far more damage to Ukraine than Ukraine is doing to us”. Moskovsky Komsomolets menulis: “Our strikes to demilitarise Ukraine are far more powerful and effective than Ukrainian attacks,” sementara Rossiyskaya Gazeta mengulang narasi dengan menyebut serangan Rusia lebih kuat daripada yang harus dihadapi warga Rusia: “Our attacks on defence enterprises working for the Ukrainian army are much more powerful than those which Russians, unfortunately, are having to deal with.”

Keterangan serupa juga muncul di Kommersant, yang menilai serangan pada infrastruktur Ukraina terkait kompleks militer-industri “lebih efektif” dan menghasilkan “lebih banyak hasil”: “Our strikes on Ukrainian infrastructure linked to the military-industrial complex are far more effective and produce more results.”

Rosenberg juga menuliskan bahwa pada waktu serangan terjadi, Putin tengah menjadi tuan rumah KTT Rusia-ASEAN di Kazan dan tidak menyinggung insiden tersebut. Saat akhirnya Kremlin merespons, pesan yang dibawa juru bicara Dmitry Peskov relatif senada: “You should look for more footage coming out of various cities in Ukraine,” katanya, disertai pernyataan bahwa “Footage showing the results of strikes carried out by our armed forces is impressive. These strikes will continue.”

Tidak terlihat tanda bahwa serangan drone Ukraina ke kota-kota Rusia membuat Putin mengubah arah. Dari pidato dan pernyataan terbaru, pemimpin Kremlin dipandang tetap bertekad melanjutkan serangan terhadap Ukraina, yakin bahwa dalam perang bertahan Rusia akan menang.

Di sisi lain, ada indikasi bahwa serangan jarak jauh—terutama ke fasilitas minyak Rusia—meningkatkan tekanan terhadap ekonomi. Sejumlah laporan menyebut kekurangan bensin dan adanya pembatasan, sementara harga di pom bensin terus naik.

Dalam “normal baru” yang sedang terbentuk, Moskow juga bersiap menghadapi serangan drone berikutnya. Moskovsky Komsomolets memprediksi: “The Ukrainian attack on the Moscow region on 18 June won’t be the last attack, or even one of the last.”

Seorang wanita menyampaikan sikap pasrah yang merangkum rasa kendali yang hilang atas situasi tersebut. Ia mengatakan saat menatap gumpalan asap: “There’s nothing we can do about this,” dan menambahkan, “It’s our government that must decide what to do. All we can do is watch.”

Kebakaran di kilang Kapotnya juga disebut terlihat oleh pengendara di Moscow ring road, menegaskan bahwa dampak serangan tidak berhenti pada satu lokasi, melainkan menjangkau mobilitas warga di ruang publik kota.