jurnalistik.co.id – Setiap 24 Oktober, Indonesia memperingati Hari Dokter Nasional. Pada momen itu, angka tenaga kesehatan kerap menjadi sorotan, termasuk data Kementerian Kesehatan yang menyebut kini ada 217.198 dokter di seluruh Indonesia.
Di balik jumlah tersebut, ada satu kisah yang menandai tonggak sejarah sekaligus memperlihatkan sisi pahit dari diskriminasi kolonial. Tokoh yang dimaksud adalah Mas Asmaoen, pria asal Surakarta yang lahir pada 1880.
Dalam catatan sejarah pendidikan kedokteran masa kolonial, Mas Asmaoen disebut sebagai orang Indonesia pertama yang meraih status dokter setelah menuntut ilmu di Belanda. Namun, keberhasilan akademis ternyata tidak otomatis membuka jalan yang sama baiknya saat ia kembali ke tanah air.
Perjalanan pendidikan yang dibuka untuk lulusan STOVIA
Perjalanan Mas Asmaoen berawal dari School tot Opleiding van Inlandsche Artsen (STOVIA), sebuah sekolah dokter untuk bumiputra di Hindia Belanda. Lulusannya dikenal dengan gelar dokter Jawa, yang pada masa itu menjadi jalur awal bagi sejumlah pemuda untuk melanjutkan pendidikan lebih tinggi.
Pada 1904, Menteri Urusan Daerah Jajahan Dirk Fock membuka kesempatan bagi lulusan STOVIA untuk melanjutkan studi kedokteran di Belanda. Tujuannya adalah memperoleh gelar yang dianggap setara dengan pendidikan kedokteran yang dimiliki orang Eropa.
Kesempatan tersebut tidak diikuti oleh banyak orang. Ada tiga nama yang berhasil berangkat, yaitu Abdul Rivai, Mas Boenjamin, serta Mas Asmaoen, dan ketiganya melanjutkan studi di Universitas Amsterdam.
Menurut Harry A. Poeze dalam buku berjudul Di Negeri Penjajah: Orang Indonesia di Negeri Belanda, 1600-1950 (2008), dua rekan Mas Asmaoen tercatat menyelesaikan studi mereka pada 1908. Namun, dari ketiganya, Mas Asmaoen merupakan yang lebih dulu lulus, sehingga ia disebut sebagai orang Indonesia pertama bergelar dokter.
Selepas pendidikan itu, rekan-rekannya lulus belakangan karena kesibukan masing-masing, sementara Mas Asmaoen melangkah lebih cepat ke tahap berikutnya. Perbedaan waktu kelulusan itulah yang kemudian mengunci posisinya dalam catatan sejarah.
Pernah diangkat dalam lingkungan militer kolonial
Berita Terkait
Setelah mendapatkan status dokter, Asmaoen sempat bekerja selama beberapa bulan di Institute of Naval and Tropical Medicine di Hamburg, Jerman. Pengalaman tersebut menjadi bagian dari tahap awal kariernya sebelum memasuki peran yang lebih formal.
Berikutnya, ia diangkat menjadi perwira kesehatan dalam Koninklijk Nederlandsch-Indisch Leger (KNIL), atau Tentara Kerajaan Hindia Belanda. Pengangkatan itu menempatkannya sebagai orang Indonesia pertama yang menduduki posisi tersebut.
Meski telah memegang gelar kedokteran dan jabatan militer, ia tetap menghadapi batas sosial yang dibangun oleh sistem kolonial. Dalam kerangka yang membedakan masyarakat berdasarkan asal-usul dan warna kulit, pencapaian personal tidak otomatis menghapus jarak.
Poeze menjelaskan bahwa karier Mas Asmaoen dalam KNIL kandas karena para perwira Belanda menolak memperlakukannya sebagai rekan yang setara. Dengan kata lain, diskriminasi tidak berhenti di meja pendidikan atau sertifikasi profesi.
Dipindahkan, tetapi diskriminasi dan kesulitan penyesuaian tetap berlanjut
Setelah hambatan itu, Mas Asmaoen kemudian dipindahkan ke Irian. Namun, masa jabatan tersebut tidak berjalan panjang, karena ia jatuh sakit.
Sakit yang ia alami akhirnya membuatnya kembali ke Belanda untuk menetap di sana. Dalam narasi Poeze, bukan hanya urusan pekerjaan yang menjadi persoalan, tetapi juga proses penyesuaian ketika ia kembali setelah lama tinggal di Eropa.
Di Hindia Belanda, hubungan sosial banyak ditentukan oleh warna kulit, sehingga posisi seseorang mudah terkunci oleh klasifikasi kolonial. Pengalaman Mas Asmaoen berbeda dengan saat ia berada di Belanda, ketika orang Indonesia dapat didekati dan diperlakukan sebagai pribadi.
Kesenjangan inilah yang membuat ia sulit menyesuaikan diri, sekaligus memperlihatkan betapa sistem sosial dapat membentuk nasib seseorang. Keberadaan gelar dan peran formal tidak cukup untuk meruntuhkan tembok diskriminasi.
Pada akhirnya, Mas Asmaoen meninggal pada 1916. Kisahnya menjadi pengingat bahwa keberhasilan belajar dan capaian profesi tidak selalu sejalan dengan penerimaan sosial di ruang yang lebih luas.
Seluruh rangkaian peristiwa—dari STOVIA, kesempatan yang dibuka pada 1904 oleh Dirk Fock, studi di Universitas Amsterdam, hingga pengangkatan dalam KNIL—membentuk satu garis besar yang sama. Di ujungnya, diskriminasi kolonial tetap menentukan arah hidupnya, bahkan setelah ia lebih dulu mencapai kelulusan pada 1908.












