jurnalistik.co.id – Dalam hitungan jam, langit di sebagian Eropa akan bergeser dari terang menjadi gelap sementara, saat Bulan melintas di depan Matahari dan menimbulkan bayangan yang melintasi benua. Bagi sebagian orang, momen itu terasa seperti kejadian sekali seumur hidup.
Bagi yang lain, gerhana total justru menjadi kebiasaan yang sulit dilepas. Mark Griffiths, misalnya, mengubah hasrat tersebut menjadi perjalanan panjang yang hampir menyerupai ritual, lengkap dengan perlengkapan khusus untuk merekam detail kegelapan yang datang.
Ia memulai perburuan ini dengan berbekal dua kamera berkelas tinggi, sebuah teleskop khusus, serta drone. Dalam dua hari, Mark mengemudi dari Cheshire menuju Galicia, salah satu lokasi terbaik untuk menyaksikan gerhana total, sambil berhenti di Prancis untuk mengambil gambar-gambar langit.
Hobi yang kini tampak seperti “ketagihan” itu berawal enam tahun lalu. Saat itu Mark pergi ke Shetland untuk melihat aurora utara, tetapi cuacanya sangat suram hingga ia mengatakan, “didn’t see anything”. Namun, pengalaman yang mengecewakan tidak menghentikannya; ia justru merasa tidak bisa berhenti mengejar fenomena langit.
Sejak saat itu, Mark sering merekam aurora utara, dan ia juga memimpin rombongan wisata ke lokasi yang sama. Ia mengaku pergi ke Islandia kira-kira sebulan sekali, sekaligus memotret berbagai kejadian seperti aurora, gerhana, dan bioluminesensi. Kini, gerhana matahari total menjadi yang pertama baginya.
“I kept wanting more,” ujarnya. Bagi para penggemar seperti dirinya, Eropa akan menyaksikan gerhana total pertamanya dalam lebih dari 25 tahun, yang ia ibaratkan dengan kalimat, “like what the World Cup is to football”. Ketika ditanya soal perasaannya, ia lebih terang-terangan: “I’ll be honest, it’s like an addiction now,” dan ia menceritakan bahwa ia baru menyelesaikan perjalanan panjang maraton dari Inggris, menyeberangi Prancis, lalu masuk ke Spanyol. Mark hanya sempat berhenti untuk memotret langit malam dan beristirahat beberapa jam di Bordeaux, karena “I’m quite sleep deprived.”
Secara jalur, gerhana total dimulai dari ujung Siberia, lalu membelok mengitari Samudra Arktik, sebelum melintasi beberapa wilayah di Greenland dan Islandia. Setelah itu, bayangan total bergerak melintasi hamparan Samudra Atlantik bagian utara, mendekat ke Spanyol utara, hingga berakhir di wilayah Mediterania. Sementara itu, bagian Eropa lain hanya akan melihat gerhana parsial.
Meskipun totalitas hanya diperkirakan bertahan beberapa menit, perburuan gerhana tetap menarik orang-orang untuk menyeberang benua. Samantha Phillips-Brown dan suaminya, Gregory, memilih terbang ke Islandia dan menyewa sebuah van kemah agar bisa berkendara menuju area yang lebih terpencil. Ini menjadi perjalanan kedua mereka untuk menyaksikan gerhana matahari; kejutan yang mereka rasakan pada gerhana pertama—yang terjadi pada 2023 di dekat tempat tinggal mereka di upstate New York—mendorong mereka untuk mengatur perjalanan ini jauh-jauh hari.
Berita Terkait
Mereka sudah memesan tiket dan van lebih dari setahun sebelumnya. Samantha mengingat pengalaman pertamanya dengan nada kagum: “It was such a phenomenal experience to see the Sun start going dark and hear, suddenly, the birds stop chirping,” dan ia menyebutnya, “It’s just a very strange experience.” Bagi Gregory, momen itu juga memunculkan renungan tentang para pemukam awal Islandia lebih dari satu milenium lalu, ketika penjelasan ilmiah belum ada. Ia membayangkan rasa takut yang mungkin muncul: “They really didn’t know what was happening, didn’t know how long it was going to last… it must have been quite terrifying for them, in a way.”
Menjelang hari gerhana, pasangan itu mengisi waktu dengan berkendara menyusuri wilayah timur Islandia untuk kegiatan hiking dan berkemah. Jalur totalitas melintasi Islandia bagian barat, dan mereka berharap menemukan lokasi di Semenanjung Westfjords untuk menyaksikannya. Mereka juga mendengar kabar tentang kemungkinan penutupan jalan guna mencegah terlalu banyak orang membanjiri area tertentu, sehingga mereka berniat tiba lebih awal beberapa hari sebelum peristiwa.
Samantha, yang oleh suaminya dijuluki sebagai “obsessive travel planner”, aktif mengikuti grup Facebook dan laman media sosial yang dipakai pemburu gerhana untuk berbagi informasi dan saran. Ia juga memperkirakan animo yang kuat mengingat jumlah kacamata gerhana yang ia lihat di Islandia. “They’re really trying to prepare everybody,” katanya, dan sambil merujuk pada pergerakan menuju bagian barat, ia menambahkan, “What I expect, as we start inching westward, is we’re going to see more and more of them.”
Di sisi lain, Andrew Wills justru menargetkan pulau yang lebih hangat untuk menyaksikan gerhana total: Majorca. Ia bepergian bersama istrinya dan ayahnya yang berusia 90 tahun. Mereka pernah menyaksikan gerhana total Eropa terakhir pada 1999 saat berdiri di atas St Agnes Beacon di Cornwall bersama ayah dan anak, dan Andrew mengingat hari itu berawan.
“We didn’t see the shadow rushing across the sea towards us, though we did see the dawn appearing and it getting closer very quickly,” ceritanya. “It was awe-inspiring.” Untuk Majorca, ia berharap cuaca lebih cerah, dan ia sudah memesan sebuah vila dekat kota Andraitx di bagian barat pulau. Andrew menyiapkan satu titik di sekitar lokasi tersebut yang ia harapkan memberi pandangan bagus ke arah laut.
Karena posisi mereka berada di jalur totalitas, gerhana kemungkinan akan terlihat rendah di ufuk. “We’re going to take a couple of camping chairs with us, so Dad can sit if we can get there an hour or so before,” katanya. Ia juga menyebut bahwa pulau Majorca dan Menorca akan menjadi tempat terakhir di daratan yang dapat dilihat sebelum Matahari terbenam dan bayangan menghilang.
Minat Andrew pada fenomena gerhana sudah muncul sejak lama, tepatnya ketika ia melihat gerhana pertamanya dari St Agnes bertahun-tahun silam. Menurutnya, ada keajaiban kosmik yang luar biasa di tata surya, sebagaimana ia jelaskan: “We live on a planet where we have this amazing coincidence. Where the Sun is 400 times bigger than the moon but the moon is 400 times closer.” Ia menambahkan, “And so when the moon passes in front of the Sun and between Earth, it casts this perfect shadow.”
Pengalaman itu membuatnya memandang kehidupan secara lebih ringkih, sejalan dengan cara yang pernah disampaikan oleh astronom Carl Sagan lewat foto “Pale Blue Dot”. “We are tiny little specks in a huge vast area of nothingness,” tutur Andrew. “We’re amazingly lucky to be alive.”












