Daerah

Hanya 32% Air Minum Rumah Tangga di Pekalongan Layak, Pemkot Uji 420 Sampel

×

Hanya 32% Air Minum Rumah Tangga di Pekalongan Layak, Pemkot Uji 420 Sampel

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi: Kualitas Air Minum Rumah Tangga Cuma 32 Persen, Pemkot Pekalongan Cek 420 Sampel

jurnalistik.co.id – Pemerintah Kota Pekalongan, Jawa Tengah, memperkuat pengawasan kesehatan lingkungan menyusul temuan bahwa mutu air minum rumah tangga yang memenuhi syarat aman konsumsi masih rendah. Pemeriksaan tahun ini dilakukan lebih luas agar kondisi di tingkat rumah tangga dapat dipetakan secara langsung.

Dalam data tahun sebelumnya, sekitar 32 persen rumah tangga memiliki kualitas air minum yang memenuhi syarat aman dikonsumsi. Artinya, sekitar 68 persen rumah tangga lainnya belum memenuhi standar kualitas air minum yang dipersyaratkan.

Rendahnya persentase tersebut mendorong Dinas Kesehatan Kota Pekalongan menjalankan surveilans kualitas lingkungan. Pemerintah memandang, pengendalian yang tepat membutuhkan data yang akurat dari kondisi nyata di masyarakat.

Surveilans menyasar air, udara dalam rumah, dan pangan

Surveilans tidak hanya memeriksa air minum. Petugas juga menilai kualitas udara di dalam rumah serta memeriksa pangan yang dikonsumsi keluarga.

Sanitarian Muda Dinas Kesehatan Kota Pekalongan, Maysaroh, menjelaskan bahwa program pengawasan disusun sebagai dasar pengendalian penyakit berbasis lingkungan. Ia menuturkan bahwa pemerintah perlu mengetahui kondisi lingkungan rumah tangga sebelum menentukan langkah penanganan.

“Persentase kualitas air minum rumah tangga yang memenuhi syarat aman dikonsumsi di tahun lalu memang baru sekitar 32 persen. Karena itu, kami memperkuat surveilans untuk mengetahui kondisi kesehatan lingkungan masyarakat,” terang Maysaroh, Jumat (7/8/2026).

Menurut Maysaroh, kualitas lingkungan yang buruk dapat menjadi salah satu pemicu penyakit berbasis lingkungan. Karena itu, surveilans dilakukan dengan cakupan yang lebih menyeluruh dibanding pemeriksaan air saja.

Ia menambahkan, pemeriksaan mencakup parameter kondisi udara di dalam rumah, antara lain pencahayaan, suhu, kelembaban, laju udara, serta sejumlah parameter lainnya. Selain aspek lingkungan, surveilans juga mencakup pangan yang dikonsumsi keluarga.

“Ya, sebagai dasar pengendalian penyakit yang dapat ditimbulkan dari faktor-faktor tersebut,” kata Maysaroh.

420 rumah tangga jadi sasaran, dipilih secara acak

Tahun ini, sebanyak 420 rumah tangga menjadi sasaran pemeriksaan di seluruh wilayah Kota Pekalongan. Petugas membagi kegiatan melalui seluruh puskesmas yang berada di wilayah kerja kota tersebut.

Maysaroh menyampaikan bahwa setiap puskesmas menargetkan pemeriksaan terhadap 30 rumah tangga. Pemilihan rumah sampel dilakukan secara acak menggunakan aplikasi khusus.

“Dengan metode acak melalui aplikasi, seluruh rumah tangga memiliki peluang yang sama untuk terpilih menjadi sampel,” ujarnya.

Untuk bagian air minum, pemeriksaan dilakukan guna memastikan sumber air yang digunakan masyarakat memenuhi persyaratan kesehatan. Dengan demikian, pengawasan diarahkan pada kesesuaian sumber yang benar-benar dipakai rumah tangga, bukan sekadar asumsi berdasarkan jenis sumber air.

Dukungan pendanaan BOK tidak merata, namun kegiatan tetap berjalan

Pendampingan kegiatan juga melibatkan pihak Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Tengah. Programmer Penyehatan Air dan Sanitasi Dasar Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Tengah, Atik Sarifatun, menyebutkan bahwa dari 14 puskesmas yang ada di Kota Pekalongan, hanya empat yang mendapatkan dukungan pendanaan Bantuan Operasional Kesehatan (BOK) dari pemerintah pusat.

Atik menegaskan, meski dukungan BOK tidak merata, Pemkot Pekalongan mengalokasikan anggaran melalui APBD agar puskesmas lainnya tetap dapat melakukan surveilans. Dengan skema tersebut, pemeriksaan diharapkan tidak terhambat oleh perbedaan dukungan pendanaan.

“Target kami tentu kualitas air minum yang memenuhi syarat terus meningkat, baik dari aspek bakteriologis, fisik maupun kimia,” kata Atik saat melakukan pendampingan kegiatan di Puskesmas Buaran, Kota Pekalongan.

Atik juga mengaitkan upaya peningkatan kualitas air minum dengan hasil pemantauan tahun sebelumnya. Ia mengatakan, kualitas air minum yang berasal dari jaringan PDAM cenderung lebih baik dibandingkan sejumlah sumber air lainnya.

Data jadi dasar pengendalian, bukan sekadar pencatatan

Melalui surveilans yang mencakup air, udara di dalam rumah, serta pangan, pemerintah mencoba menyusun gambaran kesehatan lingkungan yang lebih menyeluruh. Informasi dari pemeriksaan menjadi pijakan untuk menilai kebutuhan intervensi serta menentukan langkah tindak lanjut.

Dengan pembaruan data dari 420 rumah tangga yang dipilih secara acak, Pemkot Pekalongan berupaya memastikan program pengendalian penyakit berbasis lingkungan dapat diarahkan secara lebih tepat sasaran. Pemeriksaan yang berjalan di seluruh puskesmas juga diharapkan memperkecil kesenjangan cakupan di tingkat layanan kesehatan.

Dalam konteks yang sama, pengawasan terhadap kualitas air minum menjadi langkah penting karena air merupakan bagian yang langsung dikonsumsi oleh rumah tangga. Ketika sekitar 68 persen rumah tangga belum memenuhi standar kualitas air minum, intervensi dan perbaikan kualitas menjadi semakin mendesak.

Pemerintah Kota Pekalongan menempatkan surveilans sebagai bagian dari upaya peningkatan kualitas lingkungan hidup yang berdampak pada kesehatan masyarakat. Dengan target peningkatan yang menilai aspek bakteriologis, fisik, dan kimia, kegiatan ini diarahkan agar kualitas air minum yang aman dapat terus bertambah.