Pendidikan

Obat pelangsing mengubah cara orang berhubungan dengan alkohol

×

Obat pelangsing mengubah cara orang berhubungan dengan alkohol

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi: How weight-loss medication is changing relationships with alcohol

jurnalistik.co.id – Lisa Rees mulai menjalani obat penurun berat badan pada bulan April. Ia menargetkan penurunan beberapa kilogram, tetapi efek lain yang ia anggap sebagai “best benefit” justru muncul dari kebiasaannya mengonsumsi alkohol.

Menurut pengakuannya, ketika obat mulai bekerja, porsi makannya ikut mengecil. Pada saat yang sama, ia merasakan minumnya ikut menyusut secara nyata, sampai-sampai setelah beberapa gelas, ia berkata bahwa tubuhnya “just physically cannot drink another drop”.

Sebelum mulai terapi, Lisa terbiasa minum dua botol anggur setiap kali keluar. Namun perubahan itu membuatnya, setelah meneguk beberapa gelas, merasa seolah tidak ada lagi ruang di tubuhnya untuk melanjutkan.

Fenomena serupa sedang menarik perhatian karena sejumlah penelitian menyoroti kaitan obat penurun berat badan dengan pola konsumsi alkohol. Pada sebagian orang, dorongan untuk minum bisa mereda, sementara pada yang lain muncul keluhan seperti mual atau rasa tidak nyaman saat tetap minum.

Semaglutide, tirzepatide, dan hubungan dengan dorongan di otak

Obat-obatan penurun berat badan yang banyak dibahas—termasuk merek seperti Wegovy, Mounjaro, dan Ozempic—mengandung semaglutide atau tirzepatide. Keduanya meniru hormon alami bernama GLP-1.

Hormon tiruan ini bekerja dengan menahan rasa lapar dan membantu tubuh merasa kenyang lebih lama. Dalam beberapa riset awal, mekanisme tersebut diduga turut memengaruhi respons “reward” di otak, sehingga craving terhadap zat tertentu bisa ikut berkurang, termasuk alkohol dan nikotin.

Dr Christian Hendershot dari University of South Carolina mengatakan hasil awal mengarah pada potensi penurunan keinginan minum. Ia memublikasikan studi skala kecil pada 2025, di mana partisipan dengan alcohol use disorder melaporkan craving alkohol yang lebih rendah saat menggunakan Ozempic.

Alcohol use disorder, yang juga disebut “alcoholism”, menurut NHS merujuk pada pola minum yang dinilai berbahaya. Studi lain dari University of Colorado Anschutz, yang terbit pekan lalu, juga mengaitkan obat GLP-1 dalam bentuk pil dengan lebih sedikit hari minum berat pada orang dengan alcohol use disorder ringan hingga sedang.

Meski begitu, dampaknya tidak selalu seragam. Ada pengguna yang merasa hasrat minumnya hilang, ada pula yang mengalami rasa mual atau cepat merasa terlalu penuh ketika tetap minum.

Perbedaan respons ini juga tampak dari kecepatan efek yang dirasakan. Sebagian orang mengaku lebih cepat kehilangan kendali, sementara yang lain tidak merasakan perubahan berarti pada hubungan mereka dengan alkohol.

Dari kebiasaan minum hingga perubahan relasi sosial

Bagi Lisa, perubahan itu terlihat dari angka yang ia sebut sendiri. Sebelum menggunakan Wegovy, ia mengatakan meminum antara enam sampai delapan botol anggur setiap pekan saat berkumpul dengan teman.

Ia sempat bertanya pada dirinya sendiri apakah jumlah itu sudah terlalu tinggi dan apakah bisa berdampak pada kesehatannya. Panduan NHS menyebut orang sebaiknya tidak minum lebih dari 14 units per minggu secara teratur, yang kira-kira setara dengan enam gelas anggur ukuran sedang atau enam pints.

Dalam jangka panjang, konsumsi berlebihan diketahui bisa berujung pada kerusakan hati, tekanan darah tinggi, serta risiko kanker yang meningkat. Lisa juga menyatakan bahwa setelah mulai obat, konsumsi alkoholnya turun lebih dari setengah.

Di sebuah festival beberapa waktu lalu, ia minum tiga gelas anggur selama sembilan jam. Ia membandingkannya dengan kebiasaan sebelumnya, ketika ia akan menghabiskan dua botol anggur ditambah beberapa campuran vodka.

Lisa menuturkan bahwa alkohol sudah lama menjadi bagian besar dari kehidupan sosialnya. Ketika ia pernah berhenti minum selama beberapa minggu pada akhir 2010-an, ia menyadari temannya berhenti mengajaknya ke acara-acara sosial.

Kali ini, ia tetap mengaku menantikan suasana minum anggur. Tetapi setelah hanya beberapa gelas, ia merasa tidak sanggup lagi secara fisik untuk melanjutkan.

“I still feel involved in things because I’m still drinking but drinking a lot less,” kata Lisa. Ungkapannya menunjukkan bahwa keterlibatan sosialnya tidak sepenuhnya hilang, hanya volume yang berubah.

Warren Thomas, 45 tahun, dari Colchester, juga merasakan dampaknya cukup cepat. Ia sebelumnya menikmati bir bersama keluarganya setelah bekerja, sekaligus memiliki satu atau dua sesi minum berat dengan teman-teman setiap bulan.

Ketika ia membicarakan rencana mulai Mounjaro dengan teman-temannya, mereka memperingatkan bahwa obat tersebut bisa memengaruhi seberapa banyak ia minum. Warren mengatakan efek itu mulai terasa dalam waktu 24 jam sejak dosis pertamanya pada pertengahan Juni.

Ia menyatakan, “I just don’t want to drink.” Ia menambahkan, “I’ve just got no appetite for it.” Saat menghadiri acara ulang tahun temannya bulan lalu, ia merasa “light-headed and a little bit giddy” setelah dua bir.

Ia juga mengatakan, “My tolerance level to drinking is now zero.” Ia menggambarkan bahwa kapasitas tubuh untuk melanjutkan minum seakan berhenti, sehingga dorongan untuk tetap minum semakin tidak muncul.

Dalam panduan British National Formulary—rujukan untuk pemberian obat bagi dokter dan apoteker—tidak ada arahan formal yang membahas apakah orang yang memakai obat penurun berat badan perlu menghentikan alkohol. Prof Russell Hearn, dokter umum sekaligus profesor pengobatan di King’s College London, menyampaikan bahwa ia tidak melihat adanya nasihat spesifik, tetapi tetap memberikan pertimbangan hati-hati kepada pasien.

“Alcohol has a lot of calories in it and if your goal is to lose weight, drinking less will definitely help you with that alongside changing your diet while you’re on a GLP-1,” tuturnya. Pesan itu menekankan hubungan alkohol dengan kalori dan tujuan penurunan berat badan.

Bagi Lisa dan Warren, berkurangnya konsumsi alkohol terasa seperti tambahan yang disambut baik. Namun pengalaman tidak selalu sejalan, terutama bagi mereka yang merasa alkohol sangat menentukan dinamika pergaulan.

Faye Goodwin, 20 tahun, misalnya, mengatakan bahwa perubahan ini justru mengganggu kehidupan sosialnya. Saat ia minum, ia merasa mual dalam waktu yang sangat cepat, sampai kadang muntah atau mengalami asam lambung yang memburuk.

Faye, yang menghubungi BBC Your Voice, mengatakan ia memakai Mounjaro sejak usia 18 tahun. Ia mengaku tidak benar-benar mengetahui seperti apa rasanya minum alkohol tanpa efek dari obat penurun berat badan.

Ia sempat memberi jeda pada suntikannya selama sebulan. Dalam periode itu, ia mengatakan bisa minum tanpa mengalami mual yang sama.

Bagi Faye, pada usia yang ia jalani sekarang, alkohol menjadi bagian penting dari kehidupan sosial. Ia juga menuturkan bahwa ia kadang menunda jadwal suntik satu hari bila bertepatan dengan rencana keluar malam, karena dampak obat terhadap alkohol menurutnya paling kuat pada hari-hari satu atau dua hari setelah penyuntikan.

Ketika dosisnya sudah diambil pada hari yang sama dengan rencana bertemu, ia juga mengaku beberapa kali menolak undangan. Saat ia akhirnya minum, jumlahnya biasanya jauh lebih sedikit dibanding orang lain di sekitarnya.

Faye merasa kondisi ini memengaruhi kemampuannya membangun dan mempertahankan persahabatan. Ia juga menganggap hal itu menyulitkan dirinya saat kuliah di Cambridge, ketika banyak acara kampus berkaitan dengan aktivitas minum.

Ia mengatakan, “It was difficult to enjoy it knowing I’d have to sit there sober while everyone else has a good time drinking, and oftentimes if I have tried to drink even a glass of wine or something I can’t finish it because of the overwhelming nausea.”

Dalam gambaran yang lebih luas, studi observasional pada populasi umum mengindikasikan bahwa orang cenderung minum lebih sedikit secara keseluruhan saat menggunakan obat penurun berat badan. Namun, uji klinis yang dilakukan sejauh ini banyak menargetkan orang dengan alcohol use disorder, bukan mereka yang minum sesekali.

Hendershot menyatakan, “Data is accumulating very quickly.” Ia menambahkan bahwa beberapa fasilitas di AS sudah meresepkan obat tersebut secara “off-label” untuk orang dengan alcohol use disorder.

Meski demikian, Dr Joseph Schacht menilai diperlukan studi yang lebih besar dengan lebih banyak peserta serta periode yang lebih panjang. Ia mengatakan hal itu dibutuhkan sebelum obat dapat disetujui regulator untuk terapi alcohol use disorder.

Masih ada pertanyaan penting tentang keamanan penggunaan obat ini pada orang yang tidak memiliki obesitas maupun diabetes. Dr Darren Quelch, yang meneliti kecanduan di University of South Wales, juga menilai perlu dipahami apakah terapi ini mampu menjawab kebutuhan kecanduan dalam jangka panjang, sekaligus mempertimbangkan keterjangkauan.

Quelch juga menyebut ada sejumlah efek samping, termasuk pankreatitis yang jarang tetapi dapat berakibat serius. Peneliti lainnya pun sedang melihat kemungkinan bahwa obat GLP-1 dapat dipakai untuk terapi kecanduan lain, termasuk merokok dan opioid.

Warren menyampaikan bahwa memulai suntikan penurun berat badan membuatnya enggan ikut sesi minum bersama teman-teman. Ia berkata, “I don’t really want to do it… I’ve just got no real desire for drinking.”

Meski ia sendiri sebelumnya tidak menganggap kebiasaan minumnya bermasalah, ia mengaku tetap merasakan perubahan yang menyenangkan. “To cut it out completely has been very refreshing, without really trying,” tuturnya.