jurnalistik.co.id – Hawaii sedang bersiaga menghadapi kemungkinan serangan langsung badai tropis yang berpotensi menjadi badai kategori 1, Lala, dan ini bisa menjadi yang pertama sejak 1992.
Menurut prakiraan, Lala kini membawa kecepatan angin sekitar 75 mph (120 km/jam) dan pada Sabtu kemarin mengalami penguatan hingga mencapai kekuatan badai.
Dalam skenario terburuk, hujan yang turun dapat mencapai hingga 25 inci (63 cm) di Big Island, disertai gelombang badai (storm surge) setinggi sekitar 3 kaki.
Untuk Big Island, pemerintah menerbitkan peringatan badai (hurricane warning). Sementara itu, Maui County, Oahu, Kauai, dan Niihau berada di bawah status peringatan badai tropis (tropical storm warnings).
Pejabat setempat meminta warga menyiapkan diri menghadapi kondisi yang bisa bersifat “life-threatening”, termasuk risiko banjir dan tanah longsor akibat lumpur.
Rute pergerakan Lala diperkirakan akan menentukan dampaknya sejak akhir pekan ini. Badai diprediksi akan mendarat atau melintas sangat dekat ujung selatan Big Island pada Sabtu, sebelum kemudian bergerak ke arah barat.
Catatan historis menunjukkan kejadian badai yang mendarat di Big Island terakhir kali terjadi 155 tahun lalu, sementara Hawaii terakhir kali disapu langsung oleh badai hurikan pada 1992 melalui badai Iniki.
Hari-hari di akhir pekan ini juga berpotensi menjadi masa yang paling penuh tantangan. Saat Lala melanjutkan pergerakan ke barat, badai mungkin melemah menjadi badai tropis, dengan pusatnya melewati sedikit di bawah kepulauan lainnya.
Perkiraan kondisi berbahaya dan respons pejabat
Gubernur Josh Green mengingatkan warga agar bersiap menghadapi “an incredible amount of water”. Ia menyampaikan peringatan serupa melalui unggahan di X yang menyebut, “Damaging winds, heavy rain, flash flooding and dangerous surf are possible across the state through the weekend.”
Perintah siaga itu menekankan bahwa kombinasi angin merusak, hujan lebat, banjir bandang, serta gelombang berbahaya dapat terjadi di seluruh wilayah negara bagian selama akhir pekan.
Pihak National Weather Service (NWS) menyoroti area di Big Island bagian tenggara dengan prakiraan yang lebih ketat. NWS menyebut “Major rainfall flooding may prompt many evacuations and rescues,” serta menambahkan bahwa sungai dan anak sungainya “may rapidly overflow their banks in multiple places”.
Warga pun berulangkali didesak menyiapkan langkah-langkah sejak awal. Di papan pesan lokal seperti Facebook, terlihat aktivitas warga mengisi karung pasir untuk melindungi rumah sekaligus bertukar informasi mengenai apakah toko masih beroperasi pada jam-jam awal Sabtu.
Berita Terkait
Hawaii County’s Civil Defense Agency menyatakan tempat penampungan tersedia di setiap wilayah di Big Island. Lewat unggahan di X, lembaga tersebut menulis, “At this time, you should have completed your storm-ready preparations and focusing on your Sheltering Plan,” agar warga mengutamakan rencana perlindungan (Sheltering Plan).
Dampak pada penerbangan
Ketidakpastian cuaca berdampak langsung pada layanan penerbangan. Sejumlah penerbangan dibatalkan, termasuk di bandara terbesar Big Island, Ellison Onizuka Kona International.
Berdasarkan data flightaware.com, sekitar 40% penerbangan di Ellison Onizuka Kona International ditahan (grounded). Di bandara utama lainnya, Hilo International, sekitar 80% penerbangan juga dibatalkan.
Penundaan dan pembatalan penerbangan tersebut mencerminkan upaya operator dan otoritas untuk menyesuaikan jadwal dengan risiko angin kencang serta hujan lebat.
Jejak badai terakhir dan konteks musim badai
Iniki pada 1992 merupakan hurikan kategori empat yang terakhir kali menghantam Hawaii. Badai tersebut menimbulkan enam kematian dan kerugian sekitar $3 miliar setelah mendarat di pesisir selatan Kauai.
Dalam beberapa tahun terakhir, musim badai di Amerika Serikat relatif lebih tenang. Badai besar terakhir tercatat adalah Hurricane Milton kategori tiga yang menerjang Florida pada Oktober 2024.
National Oceanic and Atmospheric Administration (NOAA) menyebut 2026 berpotensi menjadi tahun dengan frekuensi badai yang rendah lagi di AS, dengan prediksi peluang 55% untuk musim yang berada di bawah normal.
Suhu lautan dan pengaruh El Niño
Di luar dinamika badai di wilayah AS, kondisi laut juga menjadi latar yang ikut memengaruhi cuaca. Layanan pemantauan iklim Uni Eropa melaporkan bahwa pekan lalu lautan dunia mencapai suhu tertinggi yang pernah tercatat untuk bulan Juli.
Suhu rekor itu didorong sebagian oleh berkembangnya kondisi El Niño di Pasifik. Selain itu, Juli tersebut juga menjadi bulan Juli dengan pemanasan global terbesar kedua secara bersama (joint second-warmest), dengan suhu sekitar 1,47C di atas perkiraan rata-rata pra-industri menurut Copernicus Climate Change Service.
Dengan kombinasi peringatan cuaca, potensi hujan ekstrem, serta risiko gelombang badai, Lala menjadi perhatian utama bagi warga Hawaii dalam beberapa hari ke depan.












