jurnalistik.co.id – Perusahaan alas kaki asal Amerika, Converse, menarik sebuah iklan setelah menuai kecaman di media sosial. Keputusan itu diambil setelah banyak pengguna menilai foto promosi yang beredar memiliki kemiripan dengan simbol dan adegan yang sangat menyinggung.
Menurut laporan BBC, Converse mengakui bahwa pihaknya “got this wrong” dalam unggahan tersebut. Dalam pernyataan maafnya, perusahaan menyebut foto yang dimaksud seharusnya tidak terjadi dan berjanji melakukan perbaikan.
Foto yang menjadi pemicu kritik diposting melalui akun Instagram resmi Converse. Sejumlah warganet kemudian menilai tata cahaya pada gambar tampak seperti memunculkan siluet tudung putih yang merujuk pada Ku Klux Klan (KKK).
Di luar soal pencahayaan, ada pula kritik yang menyoroti elemen lain dalam gambar. Sepasang sepatu yang terlihat menggantung pada foto tersebut dikaitkan oleh sebagian pengguna dengan gambaran korban gantung dalam tindakan kekerasan rasial.
Respons publik memicu lonjakan perdebatan di platform daring. Latar persoalan yang sama—yakni kemiripan visual yang dianggap mengarah pada citra KKK dan kekerasan—membuat banyak pihak merasa konten promosi tersebut tidak sensitif.
Converse menyampaikan permohonan maaf pertama kali pada Jumat. Dalam keterangannya, perusahaan menyatakan foto itu sudah dihapus dari kanal media sosial mereka dan mereka bekerja untuk menghapusnya di tempat lain.
“This should not have happened and we will do better,” demikian bunyi pernyataan Converse. Di bagian lain, perusahaan menulis, “We’re sorry. We understand why this image is deeply upsetting and recognize that we got this wrong”.
Penarikan iklan tersebut terkait kampanye yang mempromosikan Chuck 70 X trainer. Kampanye itu diluncurkan secara internasional pada 27 Agustus.
Berita Terkait
Dalam materi promosi, Converse menampilkan penyanyi Korea Selatan Karina dari grup K-pop Aespa. Karina dikisahkan menjadi wajah kampanye melalui serangkaian iklan untuk produk yang sama.
Perusahaan juga menyebutkan bahwa tindakan koreksi telah dilakukan setelah munculnya reaksi luas dari publik. Langkah penghapusan konten diarahkan untuk memastikan materi yang dianggap bermasalah tidak terus beredar.
Converse dikenal sebagai merek sepatu yang berdiri di Massachusetts pada awal 1900-an. Popularitasnya melonjak sejak sepatu model Chuck Taylor mulai diperkenalkan di lapangan basket Amerika Serikat pada tahun 1917.
Seiring perkembangan pasar, Converse kemudian menjadi merek global yang berada di bawah naungan Nike sejak 2003. Meski demikian, insiden di media sosial menunjukkan bahwa pemilihan visual dalam materi iklan tetap menjadi perhatian sensitif bagi publik.
Kasus ini juga menegaskan bagaimana interpretasi visual dapat berbeda-beda saat konten menyebar cepat di internet. Dalam situasi seperti itu, perusahaan biasanya dituntut segera merespons agar tidak memperluas kesalahpahaman yang sudah terlanjur terbentuk.
Dengan menarik iklan dan meminta maaf, Converse menempatkan penekanan pada pengakuan bahwa unggahan tersebut dinilai sangat mengganggu oleh sebagian audiens. Perusahaan menyatakan akan melakukan evaluasi atas kesalahan yang terjadi, sembari berusaha menghapus materi yang sama di sejumlah lokasi lain.
Setelah unggahan promosi menyebar, sorotan publik tidak berhenti pada satu sudut pandang saja. Banyak orang menilai gabungan elemen visual di dalam materi iklan—mulai dari efek pencahayaan hingga penempatan detail pada gambar—berpotensi ditafsirkan sebagai rujukan pada organisasi kebencian, sehingga memunculkan respons emosional yang cepat.
Bagi Converse, respons yang kemudian dilakukan diarahkan untuk menghentikan perluasan materi yang dinilai tidak pantas. Perusahaan menyatakan bahwa foto tersebut sudah dikeluarkan dari kanal media sosial mereka, serta berupaya melakukan penarikan serupa di tempat lain agar versi yang dianggap mengganggu tidak terus beredar dalam arus yang sama.
Langkah penarikan iklan dan permintaan maaf juga menjadi penegasan bahwa pemilihan visual dalam kampanye tidak hanya soal estetika produk. Dalam kasus ini, ketidaksesuaian antara maksud kreatif dan interpretasi audiens berubah menjadi perdebatan luas, sehingga perusahaan menekankan evaluasi atas kesalahan serta komitmen untuk memperbaiki proses ke depannya.












