jurnalistik.co.id – Gempa bermagnitudo 7,7 mengguncang Nusa Tenggara Timur pada Sabtu pagi. Getarannya juga dirasakan hingga wilayah Bima dan Dompu, Nusa Tenggara Barat, sehingga warga pesisir melakukan evakuasi ke dataran yang lebih tinggi.
Peristiwa terjadi sekitar pukul 06.00 Wita. Dalam laporannya, otoritas kebencanaan setempat menyebutkan gempa tersebut menimbulkan dampak di sejumlah bangunan di area yang paling dekat dengan pusat guncangan.
Kepala Bidang Kedaruratan dan Logistik Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Bima, M Nurul Huda, mengatakan gempa berdampak pada kondisi bangunan di wilayah Bima. Berdasarkan pendataan sementara, kerusakan terlihat pada bagian dinding beberapa fasilitas dan rumah warga.
Ia menyebutkan Kantor Camat Lambitu mengalami kerusakan pada bagian dinding. “Sementara Kantor Camat Lambitu retak pada bagian dinding,” kata M Nurul Huda saat dikonfirmasi, Sabtu.
Selain keretakan pada dinding, beberapa elemen bangunan lain juga dilaporkan mengalami kerusakan. Sejumlah pagar rumah warga dilaporkan ambruk, sedangkan dinding rumah mengalami retak.
Nurul Huda menambahkan, meskipun laporan kerusakan masih bersifat awal, gempa juga disertai potensi risiko lain. Ia menyatakan peristiwa tersebut berpotensi memicu tsunami, sehingga warga perlu bersiap dan mengikuti arahan penanggulangan bencana.
Menurutnya, wilayah pesisir yang berpotensi terdampak antara lain Pulau Sangiang, Pulau Gili, Kota Bima, serta area utara Kabupaten Dompu. Pada sejumlah lokasi tersebut, warga memilih melakukan evakuasi mandiri menuju tempat yang lebih tinggi.
“Banyak warga yang lakukan evakuasi ke dataran tinggi. Tim kami tetap memberikan pemahaman dan himbauan sesuai himbauan dari BPBD NTB,” ujarnya.
Hingga saat laporan awal dihimpun, penanganan difokuskan pada pemantauan situasi dan pendataan dampak. Petugas juga terus memastikan pesan keselamatan tersampaikan agar masyarakat tidak berada di area yang berisiko.
Berita Terkait
Di Dompu, Kepala BPBD Dompu, Wan Muhtajun, membenarkan gempa turut dirasakan oleh warga di wilayah tersebut. Namun, pihaknya menyampaikan bahwa pihaknya masih melakukan pemantauan dan pendataan terkait kemungkinan kerusakan pada rumah maupun fasilitas umum.
Wan mengatakan proses itu masih berlangsung. “Masih dimonitor, belum ada laporan,” katanya.
Informasi dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) turut menjadi acuan dalam penentuan langkah kewaspadaan. BMKG memperbarui parameter gempa yang semula tercatat bermagnitudo 7,0 menjadi magnitudo 7,7.
Pusat gempa berada di laut, sekitar 30 kilometer timur laut Mbay, Kabupaten Nagekeo, NTT. Kedalaman gempa tercatat 15 kilometer, sedangkan dampak guncangannya terpantau terasa hingga kawasan pesisir di Bima dan Dompu.
BMKG juga mengeluarkan peringatan dini tsunami dan merekomendasikan evakuasi bagi masyarakat di wilayah yang berpotensi terdampak. Warga di kawasan pesisir diminta untuk mengikuti arahan pemerintah daerah serta terus memantau informasi resmi BMKG terkait perkembangan peringatan dini.
Seiring langkah evakuasi berlangsung, perhatian diarahkan pada keselamatan warga, terutama yang berada di area pesisir. Otoritas kebencanaan menyatakan pemantauan tetap dilakukan untuk memastikan tidak ada dampak lanjutan, sekaligus mendata kerusakan yang mungkin muncul akibat gempa.
Hingga pendataan awal, sejumlah laporan kerusakan yang disebutkan berasal dari area Bima, sementara di Dompu masih dalam tahap monitoring. Pihak terkait terus mengoordinasikan respons agar masyarakat memahami pentingnya evakuasi dan mengikuti informasi resmi yang diperbarui dari BMKG.
Pada tahap awal setelah guncangan, komunikasi keselamatan juga terus ditegaskan kepada warga yang berada di sekitar pesisir. Upaya itu dilakukan agar masyarakat memahami alasan evakuasi serta tidak kembali sebelum ada informasi resmi yang menegaskan kondisi lebih aman.
Selain mengecek kemungkinan risiko lanjutan, petugas juga mengarahkan pendataan pada bangunan yang dilaporkan paling dekat dengan pusat guncangan. Dari hasil verifikasi awal, kerusakan yang muncul lebih banyak berupa retakan pada dinding dan elemen bangunan tertentu, sambil menunggu pembaruan data dari proses pemantauan yang masih berjalan di berbagai lokasi.












