Peristiwa

Kapal Bersandar di Serasan Natuna, Pasar Dadakan Langsung Ramai

×

Kapal Bersandar di Serasan Natuna, Pasar Dadakan Langsung Ramai

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi: Kapal Datang, Pasar Dadakan pun Tergelar di Serasan Natuna

jurnalistik.co.id – Dermaga Serasan di Kepulauan Natuna, Kepulauan Riau, mendadak hidup setiap kali sebuah kapal datang dan bersandar. Di momen itu, warga setempat menggelar pasar dadakan yang aktivitas jual belinya mengikuti jadwal sandar kapal.

Berbeda dari pasar harian di wilayah daratan, pasar di Serasan tidak beroperasi setiap hari. Kondisinya mengikuti kepastian jadwal kapal yang datang ke wilayah tersebut, sehingga waktu dan frekuensinya bisa berubah.

Pada Sabtu (15/8/2026), keramaian terlihat sejak awal kedatangan kapal. Pedagang memanfaatkan waktu itu untuk menawarkan kebutuhan yang umumnya dibutuhkan penumpang kapal.

Salah satu pedagang, Suci Ratna Dewi (20), mengatakan peluang dari pasar dadakan muncul karena warga terbiasa membaca jadwal kedatangan kapal. Ia menyebut bahwa ketika kapal masuk, kesempatan untuk berjualan langsung terbuka.

Suci menjelaskan, “Tiap ada kapal masuk aja jualan di sini. Biasanya seminggu ada dua kali atau tiga kali kapal masuk ke sini,” ucapnya di Dermaga Serasan.

Ia juga memaparkan cara menentukan jam mulai berjualan. Para pedagang, katanya, memantau jadwal sandar kapal secara saksama agar dapat menyiapkan dagangan sesuai waktu kedatangan.

“Tahu jamnya dari jadwal kapal. Sehari bisa tiga, empat, sampai lima kapal. Kalau kapal masuk malam, ya kita jualan malam juga,” tambah Suci.

Dalam praktiknya, berjualan bisa berlangsung dari pagi, siang, hingga malam, menyesuaikan pola kedatangan. Semakin padat jadwal kapal, semakin panjang pula rentang waktu kegiatan perdagangan di dermaga.

Barang yang dijajakan Suci merupakan kebutuhan dasar bagi para penumpang. Ia menawarkan es buah, air mineral, nasi bungkusan, hingga aneka kue yang bisa langsung dikonsumsi.

Soal harga, Suci menyatakan tarifnya dibuat terjangkau, mulai dari Rp 1.000 hingga Rp 20.000. Dengan kisaran itu, pembeli tetap bisa menyesuaikan pilihan sesuai kebutuhan saat perjalanan.

Menekuni usaha ini selama tiga tahun, Suci mengaku pendapatan yang diperoleh dapat menjadi penopang ekonomi rumah tangga. Dalam satu sesi kedatangan kapal yang ramai, ia menyebut potensi hasilnya cukup besar.

Suci menuturkan, “Keuntungannya sekitar Rp 1 juta sampai Rp 2 juta bisa. Kalau lagi ramai bisa Rp 3 juta per kapal,” ujarnya.

Menurutnya, keramaian di dermaga ikut menentukan besar pendapatan tiap kunjungan kapal. Jika dalam satu hari terdapat tiga kapal yang bersandar dalam kondisi ramai, perputaran uang yang masuk ke aktivitas pedagang lokal dapat memberi dampak signifikan bagi kehidupan warga.

Faktor lain yang turut membuat pasar dadakan ini terasa bergulir secara alami adalah tidak adanya biaya sewa lapak. Pengelola dermaga, kata Suci, tidak memungut pembayaran bagi warga yang ingin berjualan.

“Semuanya orang kampung di sini jualan di sini. Enggak dikenakan biaya, gratis,” pungkas Suci.

Dari pengalaman para pedagang, keberadaan pasar dadakan di Serasan menunjukkan bagaimana ritme transportasi laut dapat membentuk roda ekonomi skala kampung. Saat kapal datang, aktivitas warga bergerak; saat jadwal berubah, mereka pun menyesuaikan waktu berjualan sesuai kedatangan berikutnya.

Di momen seperti itu, pasar dadakan bukan sekadar tempat transaksi, melainkan ruang untuk memanfaatkan informasi jadwal kapal menjadi kesempatan kerja dan penghasilan yang nyata. Keramaian dermaga yang singkat pun mampu menyalurkan kebutuhan penumpang sekaligus membuka peluang bagi pedagang lokal.

Para pedagang biasanya tidak langsung berangkat dari rumah tanpa persiapan. Mereka menyiapkan dagangan lebih dulu agar saat kapal merapat, proses tawar-menawar dapat berjalan cepat dan pembeli tidak perlu menunggu.

Bagi warga, mekanisme pasar dadakan ini juga membuat kesempatan ekonomi lebih merata karena setiap orang yang ikut berjualan bergantung pada momentum kedatangan kapal. Saat keramaian terbentuk, perputaran kebutuhan penumpang berlangsung lancar, sementara biaya tambahan yang tidak ada membantu pedagang menjaga harga tetap bersaing.