Peristiwa

Mahasiswa Newport pulih mengejutkan setelah overdosis parasetamol tanpa sadar

×

Mahasiswa Newport pulih mengejutkan setelah overdosis parasetamol tanpa sadar

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi: Paracetamol overdose Newport student makes miraculous recovery

jurnalistik.co.id – Riley Lubas, mahasiswa berusia 20 tahun dari Newport, mengalami pemulihan yang mengejutkan setelah kondisi kesehatannya hampir berakhir fatal akibat overdosis parasetamol yang terjadi tanpa ia sadari.

Menurut cerita yang disampaikan bersama orang tuanya, Chris Lubas dan Kate Lubas, kejadian bermula saat Riley jatuh sakit flu/masuk angin di awal tahun kuliah pada Maret 2025. Ia saat itu masih menjalani tahun pertama di universitas dan memilih obat bebas untuk mengatasi gejalanya.

Riley sedang menempuh studi creative media di University of Bath ketika musim dingin/flu datang lebih dulu. Ia menggambarkan sakitnya sebagai keluhan yang baginya terasa biasa saja, yaitu “pretty non-eventful”.

Dalam upaya meredakan gejala, Riley mengonsumsi dua obat tanpa resep. Ia tidak menyadari bahwa keduanya ternyata mengandung parasetamol. “People get freshers flu or colds all the time in first year, so I got two medicines,” ujarnya, “I didn’t realise at the time that both had paracetamol in them.”

Dari nyeri perut hingga gagal organ

Perubahan drastis datang ketika Riley mulai merasakan nyeri pada bagian perut. Saat gejala tersebut muncul, ia memutuskan untuk segera menelepon meminta bantuan medis. Pemeriksaan di Royal United Hospital di Bath kemudian menunjukkan bahwa fungsi hatinya tengah mengalami tekanan serius.

Orang tuanya—Chris (40) dan Kate (39)—bergegas dari Newport untuk menemui putra mereka. Chris mengatakan bahwa tim dokter pada awalnya sempat khawatir kondisi itu berkaitan dengan hepatitis, namun mereka juga tidak bisa memberi kepastian cepat.

Beberapa jam kemudian, Chris menerima telepon dari staf ICU agar mereka segera datang. “Hours later, at half one in the morning, I got a call from the ICU staff at the hospital saying we had to get there immediately,” katanya. Ia menambahkan, “All they could say at the time was they were doing everything they could.”

Chris kemudian menggambarkan saat kondisi Riley memburuk dengan sangat cepat. Menurutnya, “By 6pm that night, he was sedated and on life support and dialysis and in multiple organ failure.” Ia juga menjelaskan bahwa saat itulah staf akhirnya bisa memberi gambaran yang lebih jelas mengenai seberapa parah keadaan Riley.

Dalam fase kritis, Riley mengalami kemunduran sampai berada pada kondisi bingung dan mengalami halusinasi. Chris menyebut bahwa pihak rumah sakit sempat memperhatikan cairan di otaknya “concerned”, sementara paru-paru dan ginjal Riley juga berhenti berfungsi.

Orang tuanya juga menekankan betapa mereka tidak menyangka kejadian bisa berjalan secepat itu. “We were so distressed and had no idea how this could have happened so quickly,” ujar Chris.

Kondisi Riley akhirnya menjadi begitu serius hingga ia harus dipindahkan ke King’s College Hospital di London, yang memiliki ICU spesialis. Di sana, tim medis menanyakan riwayat konsumsi obat yang ia ambil. Keluarga kemudian memeriksa kembali dua produk yang telah diminum dan menyimpulkan apa yang terjadi.

Chris mengatakan bahwa penelusuran penyebab tersebut membantu mereka memahami masalah yang sebenarnya. “It didn’t necessarily help with a solution, but it was good to know the cause at last.”

Ia juga menceritakan bahwa Riley membeli obat atas dasar anggapan umum. “people get freshers flu or colds all the time in the first year,” kata Chris, merujuk pada cara Riley memandang penyakitnya saat itu.

Perawatan intensif dan pemulihan bertahap

Saat Riley menunggu kemungkinan transplantasi hati, dokter mulai melihat adanya perbaikan. Pada awalnya, keluarga diberitahu kerusakan yang terjadi mungkin tidak bisa dipulihkan “irreversible”. Namun, Chris menyebut, dokter “spotted some improvement in the liver”.

Dalam beberapa hari berikutnya, Riley terus menunjukkan tanda membaik. Chris menjelaskan bahwa setelah pemantauan selama “a couple of days”, kondisi Riley berlanjut membaik sampai akhirnya ia dilepas dari dialisis dan bantuan hidup tidak lama kemudian—hanya “just a week later”.

Tahap pemulihan tidak hanya berarti keluar dari fase kritis. Riley juga harus mempelajari kembali kemampuan dasarnya, termasuk cara berjalan dan cara berbicara. Proses ini memerlukan waktu yang panjang dan melewati beberapa fasilitas perawatan intensif.

Chris menyatakan bahwa Riley menghabiskan total enam minggu di King’s College Hospital sebelum akhirnya dipindahkan ke ICU di Newport. Ia menyebut bahwa Riley telah menjalani trakeostomi, sehingga ia “needed to learn how to speak again,” dan karena banyak organ yang sempat berhenti, Riley juga “had to relearn walking too”.

Chris merangkum rasa lega keluarganya melalui kalimat yang menunjukkan betapa beratnya perjalanan tersebut. “But just seeing him up and alive again was unbelievable.”

Riley sendiri mengatakan tidak ada jawaban tunggal yang secara spesifik menjelaskan mengapa ia bisa pulih, tetapi dokter menduga faktor kesehatan dan usia turut berperan. Chris menyebut ada “no exact answer” yang menerangkan keseluruhan proses pemulihannya.

Kembali bekerja dan menggalang dukungan

Kini, Riley telah pulih sepenuhnya dan kembali bekerja sebagai bartender di sebuah pub. Ia turut menyampaikan bahwa keseluruhan proses berjalan sangat cepat, bahkan bagi dirinya sendiri.

Riley mengatakan, “mad how quickly it all escalated”. Ia menjelaskan bahwa karena ia sudah merasa sakit sejak awal, ketika nyeri perut muncul, ia mengira itu sekadar gangguan lambung biasa. “Because I was already sick, when my stomach hurt I just assumed I’d caught a stomach bug, so I didn’t notice the pain in my liver specifically.”

Ia mengakhiri penjelasannya dengan rasa syukur. “I’m just so grateful that I was able to come out the other end alright.”

Bersamaan dengan pemulihan putranya, Chris dan Kate juga mengambil langkah untuk mengingatkan orang lain agar lebih berhati-hati. Mereka melakukan pendakian sejauh 31 miles (50km) melintasi Gower Peninsula guna menggalang dana untuk King’s College ICU sekaligus meningkatkan kesadaran tentang risiko overdosis parasetamol.

Dalam konteks kesehatan masyarakat, cerita Riley juga menyoroti mengapa rekomendasi membaca label obat sangat penting. Badan profesional di Wales yang disebut dalam laporan tersebut menekankan agar orang “read the label carefully” dan mencari saran dokter umum sebelum minum obat.

Di Inggris, NHS menjelaskan bahwa overdosis parasetamol dapat menyebabkan kerusakan serius pada hati dan ginjal. Gejala awal sering mencakup mual atau muntah, serta nyeri/ketidaknyamanan di perut.

Selain itu, statistik yang disebut menunjukkan besarnya skala konsumsi parasetamol. Dalam laporan itu disebut bahwa di Inggris diperkirakan 6.300 ton parasetamol dijual setiap tahun, dan data terbaru Office for National Statistics menunjukkan terdapat 27 kematian terdaftar di Wales pada 2024 yang mencantumkan parasetamol pada sertifikat kematian.

Dr. Will Mackintosh, dokter umum sekaligus ketua RCGP Cymru Wales, mengatakan overdosis parasetamol yang tidak disengaja pada anak muda termasuk “a fairly rare occurrence”, meski tetap ada risiko kecil apabila seseorang secara tidak sengaja mengonsumsi dua produk yang sama-sama mengandung parasetamol pada waktu yang bersamaan.

Ia juga menyinggung tekanan terhadap kaum muda yang bekerja dan kuliah. Menurutnya, tekanan semacam itu bisa mendorong orang mengambil obat bebas sebanyak mungkin dengan tujuan “keep going when they’re ill”.

Mackintosh menekankan pula pentingnya istirahat. Ia menilai, untuk penyakit yang bersifat infeksi virus meski tidak selalu dianggap serius, tetap dibutuhkan waktu istirahat. Ia menambahkan bahwa istirahat kadang “downplayed” karena orang cenderung ingin pulih secepat mungkin tanpa memberi tubuh waktu untuk berjalan melalui pemulihan alami.

Ia menuturkan bahwa apotek komunitas cenderung sangat berhati-hati saat menjual jumlah obat yang besar, sehingga sering kali ada pembatasan pembelian. Ia juga mengatakan bahwa dokter umum semakin menyadari risiko overdosis parasetamol pada pasien yang lebih tua, khususnya mereka yang memiliki berat badan rendah.

“When these things happen, the symptoms can be very severe and the risks are high, so we want to minimise this to as few cases as possible,” kata Mackintosh. Ia pun mengimbau agar masyarakat membaca label dengan teliti dan mencari saran dari apoteker atau dokter umum, termasuk merujuk informasi di situs NHS.