jurnalistik.co.id – Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) mulai menyiapkan langkah penanganan menyusul gempa bumi berkekuatan magnitudo 7,7 yang mengguncang wilayah tersebut pada Sabtu, 15 Agustus 2026. Pemerintah kemudian mengarahkan penguatan respons kebencanaan di tingkat provinsi dan sejumlah kabupaten.
Dalam keterangannya pada Minggu, 16 Agustus 2026, Plt Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB Berton SP Panjaitan menyebut bahwa proses penetapan status tanggap darurat sedang berlangsung. Hal itu dilakukan sebagai respons atas eskalasi bencana yang terjadi setelah gempa.
“Merespons eskalasi bencana, Pemerintah Provinsi NTT tengah memproses surat keputusan untuk menetapkan status tanggap darurat selama 14 hari ke depan,” ujar Berton dalam keterangannya. Ia menjelaskan bahwa penetapan tersebut menyasar masa respons awal di wilayah provinsi.
Berton menuturkan, selain tingkat provinsi, sejumlah kabupaten di NTT juga menjalankan kebijakan tanggap darurat bencana. Periode penetapannya berbeda-beda sesuai keputusan yang telah dikeluarkan masing-masing daerah.
Pertama, Kabupaten Manggarai menetapkan status Tanggap Darurat Bencana selama 90 hari. Masa itu berlaku mulai 15 Agustus hingga 13 November 2026.
Kedua, Kabupaten Ngada memberlakukan masa Tanggap Darurat Bencana sekaligus pembentukan Pos Komando selama 30 hari. Langkah tersebut berlaku sejak 15 Agustus hingga 15 September 2026 melalui Keputusan Bupati Nomor 441 dan Nomor 442/KEP/HK/2026.
Selanjutnya, Kabupaten Manggarai Timur menetapkan status Siaga Darurat Bencana hingga 4 September 2026. Ketentuan tersebut mengacu pada Keputusan Bupati Nomor HK/141/Tahun 2026.
Di sisi lain, Berton menyampaikan bahwa tim gabungan bersama Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) masih bersiaga. Upaya yang dilakukan mencakup penyisiran lokasi untuk melakukan pendataan dan verifikasi lanjutan terhadap situasi lapangan.
Berita Terkait
Untuk mendukung layanan medis kedaruratan, sebuah Rumah Sakit Lapangan juga telah didirikan dan beroperasi di Kecamatan Reok, Kabupaten Manggarai. Keberadaan fasilitas tersebut ditujukan agar penanganan kesehatan dapat berjalan di area terdampak.
Terkait akses mobilitas logistik dan evakuasi, Berton menyatakan jalur lintas darat Larantuka–Maumere telah terhubung dan dapat dilalui. Meski demikian, masih ada akses jalan darat yang terputus, khususnya penghubung Ende–Nagekeo.
“Tim penanganan masih berupaya mencari jalur alternatif lain lantaran akses jalan darat penghubung Ende – Nagekeo hingga kini masih terputus akibat gempa,” kata Berton. Upaya pencarian jalur alternatif itu menjadi bagian dari penyesuaian rute selama proses respons dan penanganan korban.
Gempa bumi berkekuatan magnitudo 7,7 pada Sabtu, 15 Agustus 2026 telah menimbulkan korban jiwa. Berdasarkan update BNPB pada pukul 18.48 WIB pada Sabtu malam, jumlah korban meninggal dunia dilaporkan meningkat.
“Berdasarkan data sementara pada Sabtu pukul 18.48 WIB, BNPB merilis total jumlah korban meninggal dunia mencapai 47 orang,” kata Berton dalam keterangannya pada Sabtu. Angka tersebut menjadi rujukan awal dalam pengelolaan situasi darurat, sebelum pendataan lanjutan dilakukan secara menyeluruh.
Dengan diterapkannya status tanggap darurat di tingkat provinsi dan kabupaten, fokus penanganan diarahkan pada layanan darurat, pendataan dampak, serta penguatan dukungan logistik. Pemerintah daerah juga terus menyesuaikan langkah berdasarkan kondisi akses di lapangan, termasuk kendala pada beberapa ruas jalan yang masih terputus.
Pemerintah juga mengatur masa tanggap darurat secara bertahap di berbagai wilayah Nusa Tenggara Timur. Di tingkat provinsi, status tanggap darurat ditetapkan selama 14 hari ke depan sebagai fase respons awal, sementara di sejumlah kabupaten kebijakannya disesuaikan melalui periode yang berbeda, mulai dari 30 hari hingga 90 hari, termasuk penguatan struktur komando ketika diperlukan.
Dalam pelaksanaan respons, tim gabungan terus melakukan langkah-langkah operasional untuk menjaga ketertiban penanganan di lapangan, seperti penyisiran lokasi dan verifikasi lanjutan terhadap kondisi yang terus berkembang. Selain upaya pendataan, layanan kesehatan juga diperkuat dengan keberadaan Rumah Sakit Lapangan di Kecamatan Reok, agar penanganan medis dapat menjangkau area terdampak. Di sisi akses, jalur Larantuka–Maumere disebut sudah terhubung dan dapat dilalui, sementara upaya pencarian jalur alternatif tetap dijalankan karena penghubung Ende–Nagekeo masih terputus. Rujukan angka korban sementara yang disampaikan BNPB pada pukul 18.48 WIB menjadi acuan awal sebelum pendataan berikutnya dilakukan secara menyeluruh.












