jurnalistik.co.id – Di dataran tinggi Krayan, Nunukan, Kalimantan Utara, warga di wilayah perbatasan RI–Malaysia kembali menuntut perbaikan akses jalan yang mereka sebut tak kunjung mendapat perhatian serius.
Ketika musim hujan datang, kondisi jalan yang selama ini menjadi penghubung utama berubah menjadi hamparan lumpur tebal. Akibatnya, wilayah Krayan kerap terasa terisolasi dan aktivitas warga ikut berhenti mengikuti ritme normal.
Warga menggambarkan perjalanan yang biasanya bisa ditempuh dalam hitungan jam, berubah menjadi berhari-hari. Dalam situasi seperti itu, kebutuhan BBM meningkat, ongkos angkut membesar, hingga biaya hidup ikut tertekan.
Perubahan kondisi jalan juga berdampak langsung pada ketersediaan kebutuhan pokok. Harga sembako disebut naik, sementara sejumlah bahan pangan menjadi sulit diperoleh, yang pada akhirnya memunculkan kekhawatiran baru di tengah masyarakat.
Keluhan yang sama, kata warga, sudah berulang dari waktu ke waktu namun belum terlihat jalan keluarnya. Berbagai aksi dan teriakan meminta pemerintah melihat kondisi Krayan dengan serius juga belum diikuti respons nyata dari pihak berwenang.
Aspirasi disuarakan lewat aksi 24 warga
Di tengah situasi yang terus berulang, semangat warga tidak padam. Pada Senin (20/7/2026), 24 orang warga nekat melakukan perjalanan darat menembus kondisi jalan yang berlumpur, lalu kembali menyuarakan permasalahan mereka ke DPRD Provinsi Kaltara.
Koordinator aksi, Yasan Paran, menegaskan warga tidak ingin persoalan infrastruktur perbatasan dibiarkan menjadi urusan yang tak tersentuh. Ia menyampaikan kalimat yang menjadi penegasan utama tuntutan mereka.
“Kami tak ingin mati di negeri sendiri. Setidaknya kita berusaha terus bersuara. Satu saja yang kami minta, yaitu perbaikan jalan Krayan. Masalah sandang, pangan dan papan, biar jadi urusan kami sendiri,” ujar koordinator aksi, Yasan Paran, saat dihubungi, Senin (20/7/2026).
Berita Terkait
Yasan Paran juga menilai slogan pemerintah tentang pembangunan dari pinggiran belum terasa bagi masyarakat di ujung wilayah. Dalam pandangan warga, Krayan seolah terus berada di luar prioritas, meski kondisi jalan berpengaruh pada kebutuhan sandang, pangan, dan papan sehari-hari.
Mobil dan sepeda motor terjebak lumpur saat perjalanan
Pada masa hujan, warga menyebut pemandangan kendaraan menjadi gambaran paling nyata dari beratnya akses menuju dan dari Krayan. Sejumlah mobil gardan ganda dikatakan tertanam lumpur, sehingga para pengemudi dan kenek terpaksa bermalam di hutan.
Selain kendaraan yang sulit bergerak, para pemuda disebut melakukan berbagai upaya agar mobil dapat tetap melaju di jalan utama Krayan. Upaya itu muncul karena rute yang semula singkat kini berubah menjadi perjalanan panjang dan melelahkan.
Untuk menguatkan aspirasi, rombongan warga bergerak dengan beragam cara. Sebagian menggunakan motor trail, sementara yang lain menumpang mobil perusahaan, lalu berjibaku dengan lumpur dalam saat menuju titik tujuan.
Perjalanan mereka dimulai menuju Long Semamu, Kabupaten Malinau. Setelah beristirahat di rumah penduduk, rombongan melanjutkan perjalanan agar aspirasi dapat disampaikan dari Tanjung Selor.
Meski menempuh medan yang sulit, warga tetap melanjutkan perjalanan karena ingin masalah jalan perbatasan segera mendapat perhatian. Mereka menyebut perjalanan menghabiskan waktu dua hari penuh dari rangkaian keberangkatan hingga proses penyampaian aspirasi.
Bagi warga Krayan, tuntutan perbaikan jalan bukan sekadar soal kenyamanan akses. Perbaikan jalan di wilayah perbatasan dianggap menentukan kelancaran distribusi bahan pokok, menahan kenaikan biaya transportasi, serta membantu mengurangi dampak isolasi saat musim hujan.
Dengan aksi yang melibatkan 24 orang dan perjalanan yang memakan waktu, mereka berharap DPRD Provinsi Kaltara dapat mendorong penanganan yang benar-benar menjawab problem jalan Krayan. Harapan warga sederhana: akses yang layak agar kehidupan di perbatasan tidak terus-menerus dibatasi kondisi cuaca dan lumpur yang menelan waktu perjalanan.











