Politik & Parlemen

Gapura Kampung Menjelang 17 Agustus: Tradisi Lama yang Menguatkan Nasionalisme

×

Gapura Kampung Menjelang 17 Agustus: Tradisi Lama yang Menguatkan Nasionalisme

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi: Menghias Gapura Jelang 17-an, Tradisi Panjang dan Nasionalisme Sehari-hari

jurnalistik.co.id – Menjelang 17 Agustus, sejumlah kampung, lingkungan RT, RW, hingga pintu masuk desa menampilkan wajah yang berbeda: gapura bernuansa Merah Putih. Di banyak tempat, ornamen kemerdekaan itu bukan sekadar hiasan musiman, melainkan bagian dari kebiasaan warga yang berulang dari tahun ke tahun.

Di Cidodol, Jakarta Selatan, Yosafat bercerita bahwa kegiatan menghias gapura di lingkungannya sudah berjalan sejak ia masih kecil. Menurutnya, penyelenggaraannya melibatkan struktur warga setempat, yakni RT dan RW.

“Memang sudah ada tradisinya tiap tahun. Itu penyelenggaranya dari pihak RT sama RW,” kata Yosafat saat dihubungi Kompas.com, Rabu (12/8/2026).

Gapura yang menjadi sorotan di wilayahnya berada tepat di sebelah kantor sekretariat RW. Posisi semacam ini membuat gapura ikut berfungsi sebagai titik perhatian saat perayaan berlangsung, karena warga memiliki tempat rujukan yang sama saat hendak berkumpul.

Yosafat juga mengaitkan momen penghiasannya dengan aktivitas lain yang digelar di sekitar lokasi. Di kawasan tersebut, peringatan kemerdekaan diisi berbagai perlombaan, seperti sepeda hias, lari, dan jalan sehat.

“Kayaknya kalo di rumah gue momennya kayak sekalian gitu. Karena titik kumpulnya memang di situ,” ujar dia.

Meski melibatkan RT dan RW, ia menegaskan bahwa tidak ada surat atau instruksi khusus yang menentukan warga harus menghias gapura. Kegiatan lebih banyak bergerak melalui kesepakatan warga dan kerja bersama.

“Tidak ada surat atau instruksi khusus dari RT maupun RW untuk menghias gapura. Kegiatan tersebut lebih banyak dilakukan melalui kesepakatan dan gotong royong warga,” tambah Yosafat dalam penuturannya.

Dari praktik di lapangan, muncul pertanyaan yang sering terdengar: sejak kapan gapura akhirnya menjadi bagian dari perayaan 17 Agustus, dan mengapa yang lebih banyak dihias justru gapura, bukan elemen lain di lingkungan?

Untuk menjawabnya, Singgih Tri Sulistiyono, Guru Besar Ilmu Sejarah Universitas Diponegoro, mengaitkan tradisi menghias gapura dengan posisi bangunan tersebut dalam sejarah masyarakat Nusantara. Ia menjelaskan bahwa gapura telah dikenal di wilayah Nusantara sejak masa Hindu-Buddha.

Menurut Singgih, pada masa itu gapura tidak hanya berperan sebagai penanda arsitektural, melainkan berfungsi sebagai penanda batas wilayah sekaligus batas ruang sosial. Artinya, gapura sejak awal ditempatkan sebagai elemen yang mengatur cara orang memandang dan memasuki suatu ruang.

“Tradisi menghias gapura menjelang 17 Agustus merupakan hasil transformasi budaya yang berlangsung dalam jangka panjang. Gapura telah dikenal di Nusantara sejak masa Hindu-Buddha sebagai penanda batas wilayah dan ruang sosial,” ungkap Singgih kepada Kompas.com, Rabu (12/8/2026).

Dengan kerangka seperti itu, tradisi menghias gapura menjelang peringatan kemerdekaan dapat dipahami sebagai kelanjutan makna lama yang mengalami penyesuaian dalam konteks baru. Gapura tetap berdiri sebagai penanda batas dan ruang sosial, hanya saja kini nuansa yang melekat padanya adalah simbol kemerdekaan.

Di sinilah letak keterkaitan antara kebiasaan warga modern dengan warisan bentuk ruang di masa lampau. Saat 17 Agustus tiba, gapura yang selama ini menjadi batas wilayah dan ruang interaksi warga kembali “diisi” dengan identitas kebangsaan melalui warna dan ornamen Merah Putih.

Karena itu, penghiasan gapura terasa menyatu dengan ritme perayaan di lingkungan. Ia bukan hanya menghadirkan dekorasi di titik masuk atau titik kumpul, tetapi juga memperjelas batas-batas sosial yang membuat warga saling berdekatan dalam momen yang sama.

Dalam banyak kasus, proses yang melibatkan RT dan RW serta kerja gotong royong turut memperkuat keberlanjutan tradisi. Ketiadaan instruksi formal dari otoritas setempat justru menunjukkan bahwa penghiasan gapura ditopang oleh kesadaran kolektif warga sendiri.

Pada akhirnya, praktik ini menegaskan bahwa nasionalisme tidak selalu hadir lewat pernyataan besar. Di lingkungan yang lebih kecil, ia dapat tampak sebagai kebiasaan bersama yang dilakukan berulang, sampai gapura menjadi simbol harian—hadir di antara aktivitas, pertemuan, dan perayaan menjelang 17 Agustus.