Politik & Parlemen

Prabowo-Megawati Tampil Akrab, PDI-P Diuji Jadi Penyeimbang Pemerintah

0
×

Prabowo-Megawati Tampil Akrab, PDI-P Diuji Jadi Penyeimbang Pemerintah

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi: Kemesraan Prabowo-Megawati dan Ujian PDI-P sebagai Penyeimbang Pemerintah

jurnalistik.co.id – Presiden RI Prabowo Subianto dan Presiden ke-5 RI Megawati Soekarnoputri kembali menunjukkan keakraban saat menghadiri upacara peringatan Hari Lahir Pancasila di Gedung Pancasila, Kementerian Luar Negeri, Jakarta Pusat, Senin (1/6/2026).

Usai upacara, Prabowo tampak menggandeng tangan Megawati. Senyum lebar terlihat di wajah kedua tokoh yang pernah berpasangan dalam Pemilihan Presiden 2009 itu. Momen hangat tersebut ikut terekam dalam tayangan langsung dan sejumlah foto yang diunggah Sekretariat Presiden.

Di tengah dinamika politik nasional, kebersamaan keduanya dinilai menjadi simbol persatuan yang ditunjukkan dua tokoh bangsa. Namun, di balik keakraban itu, ada ujian lain yang tetap menyertai, yakni sikap dan posisi politik Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDI-P) sebagai partai yang hingga kini berada di luar pemerintahan.

Di satu sisi, hubungan personal Prabowo dan Megawati tampak semakin erat. Di sisi lain, publik tetap menaruh harapan agar PDI-P menjalankan fungsi check and balances terhadap pemerintah. Situasi ini membuat momen kebersamaan keduanya tidak hanya dibaca sebagai peristiwa seremonial, tetapi juga sebagai penanda arah politik yang terus diperhatikan.

Momen hangat yang terekam kamera

Selain bergandengan tangan, Prabowo dan Megawati juga terlihat menemui siswa sekolah dasar yang membawa bendera Merah Putih. Dalam foto lain, keduanya tampak berada di tengah “lautan” anak-anak yang mengibarkan bendera Indonesia.

Ada pula foto yang memperlihatkan mereka duduk berdampingan di salah satu ruangan Gedung Kementerian Luar Negeri, dengan latar foto para menteri luar negeri terdahulu. Rangkaian foto itu menunjukkan kedekatan yang semakin sering ditunjukkan kedua tokoh dalam berbagai kesempatan kenegaraan maupun pertemuan pribadi.

Hubungan baik Prabowo dan Megawati sebenarnya bukan hal baru. Keduanya pernah berjuang bersama dalam Pilpres 2009, ketika Prabowo menjadi calon wakil presiden yang mendampingi Megawati. Dalam beberapa tahun terakhir, komunikasi keduanya juga terus terjaga.

Sejumlah momen sebelumnya juga memperlihatkan hubungan personal yang hangat. Salah satunya terjadi saat peringatan Hari Lahir Pancasila pada 2 Juni 2025. Kala itu, sebelum upacara dimulai, Prabowo tampak menggandeng tangan Megawati saat keduanya berjalan menuju holding room Gedung Pancasila.

Di dalam ruangan, suasana akrab kembali terlihat ketika Prabowo menyapa Megawati dan Wakil Presiden ke-6 RI Try Sutrisno yang sudah lebih dulu duduk di meja oval. “Bu (Mega), Pak Try,” kata Prabowo sambil menyalami keduanya.

Rangkaian pertemuan itu memperlihatkan bahwa hubungan Prabowo dan Megawati tetap terjaga dalam ruang kenegaraan. Di saat yang sama, PDI-P tetap menghadapi ujian untuk memosisikan diri sebagai penyeimbang pemerintah di tengah hubungan personal dua tokoh yang semakin akrab.

Dalam pembacaan politik, gestur sederhana seperti saling menggandeng tangan kerap memiliki makna yang lebih besar daripada sekadar basa-basi protokoler. Di hadapan publik, keduanya seolah ingin menunjukkan bahwa perbedaan posisi politik tidak harus memutus hubungan personal, apalagi ketika momen yang dihadiri adalah peringatan hari besar kenegaraan. Karena itu, bahasa tubuh Prabowo dan Megawati kali ini ikut menjadi pesan yang mudah ditangkap masyarakat: ada ruang untuk tetap hangat tanpa harus kehilangan sikap politik masing-masing.

Situasi tersebut juga membuat perhatian publik tertuju bukan hanya pada apa yang tampak di depan kamera, tetapi juga pada bagaimana hubungan itu akan diterjemahkan dalam sikap politik ke depan. Keakraban pribadi memang memberi kesan teduh, namun pada saat yang sama publik tetap membutuhkan kejelasan peran setiap pihak. Dalam konteks itu, hubungan yang harmonis justru dinilai akan lebih bermakna bila disertai konsistensi dalam menjalankan fungsi politik yang melekat pada masing-masing tokoh dan partai.

Dengan demikian, momen di Gedung Pancasila bisa dibaca sebagai pertemuan antara simbol persatuan dan realitas politik yang tetap berjalan dinamis. Keakraban yang diperlihatkan Prabowo dan Megawati memberi pesan ketenangan di tengah riuh spekulasi, sementara harapan terhadap sikap politik PDI-P tetap menjadi catatan yang belum selesai. Kombinasi keduanya membuat peristiwa tersebut tidak sekadar menjadi gambar yang hangat, tetapi juga bahan perenungan tentang bagaimana elite politik merawat hubungan tanpa mengaburkan batas tanggung jawab masing-masing.