Hukum & Kriminal

Pakar Toksin Membela dr Icha: Tindakan Medis Dinilai Sesuai Standar, Ia Berkali-kali Meminta Tolong

×

Pakar Toksin Membela dr Icha: Tindakan Medis Dinilai Sesuai Standar, Ia Berkali-kali Meminta Tolong

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi: Pakar Toksin Ungkap dr Icha Berulang Kali Minta Tolong Saat Hadapi Tekanan: Dia Takut Sekali

jurnalistik.co.id – Pakar toksinologi dr Trimaharani menanggapi kasus kematian dr Eliza Princila Utami Pakaenoni, yang akrab disapa dr Icha. Ia menyatakan seluruh tindakan medis yang dilakukan dr Icha saat menangani pasien gigitan ular di Rumah Sakit Leona Kefamenanu dinilai sudah sesuai standar profesi, berdasarkan konsultasi dengannya.

Menurut dr Trimaharani, proses penanganan tidak berangkat dari dugaan kesalahan, melainkan dari keputusan klinis yang ditentukan berdasarkan indikasi di lapangan dan ilmu kedokteran. Ia menilai, pada konteks kasus tersebut, dr Icha tidak mengambil langkah keliru karena seluruh rangkaian keputusan mengikuti advis yang diberikan saat konsultasi.

“Dokter Icha tidak bersalah. Dia sudah berkonsultasi kepada saya dan menjalankan seluruh advis yang saya berikan,” kata dr Trimaharani kepada Kompas.com, Minggu (28/6/2026).

Dr Trimaharani menjelaskan bahwa ia telah menyampaikan informasi mengenai persoalan ini kepada pejabat terkait. Ia mengaku melaporkan langsung persoalan tersebut kepada Gubernur Nusa Tenggara Timur, Melki Laka Lena, melalui sambungan telepon.

Selain komunikasi telepon, dr Trimaharani juga menyebut telah mengirimkan pesan melalui WhatsApp kepada Menteri Kesehatan RI, Budi Gunadi Sadikin. Ia menegaskan, pengiriman pesan tersebut dilakukan agar kasus mendapat perhatian pemerintah.

“Ya, saya yang melaporkan lewat telepon kepada Gubernur NTT dan melalui WhatsApp kepada Menteri Kesehatan,” ujarnya.

Terkait penyampaian dokumen resmi tertulis, dr Trimaharani menyebut hal itu belum bisa dilakukan pada saat yang sama karena bertepatan dengan akhir pekan. Ia menjelaskan, Jumat dan Sabtu dirinya bekerja dari rumah dan juga libur, sehingga baru akan membuat surat setelah hari Senin.

Ia juga menyampaikan rencana penulisan surat tersebut dalam kapasitas organisasi. Menurutnya, hari Senin ia akan membuat surat sebagai Presiden Indonesia Toxinology Society terkait kasus toksin seperti ini.

“Nanti mungkin rumah sakit atau IDI bisa menyampaikan secara tertulis karena Jumat dan Sabtu kami bekerja dari rumah dan libur. Hari Senin saya akan membuat surat sebagai Presiden Indonesia Toxinology Society terkait kasus toksin seperti ini,” katanya.

Di sisi lain, dr Trimaharani menyoroti kondisi psikologis dr Icha yang ia yakini mengalami tekanan sangat berat selama peristiwa berlangsung. Ia menceritakan, pada malam kejadian, dr Icha berulang kali menghubungi dirinya melalui telepon maupun pesan WhatsApp dalam keadaan ketakutan.

Ia menyebut dr Icha meminta bantuannya untuk menjelaskan kondisi medis pasien kepada keluarga pasien serta kepada anggota DPRD yang berada di rumah sakit saat itu. Dari keterangan dr Trimaharani, permintaan tersebut muncul karena pada malam kejadian dr Icha sempat dibentak dan dimarahi.

“Karena malam itu saat kejadian dibentak dan dimarahi, saya yang menjadi tempat konsultasi dr Icha. Dia berkali-kali menelepon saya meminta tolong agar saya menjelaskan kepada keluarga dan DPR. Sampai sekarang saya masih menyimpan WhatsApp dr Icha malam itu,” ungkapnya.

Dengan merujuk pada komunikasi tersebut, dr Trimaharani menilai dr Icha berada dalam tekanan psikologis yang sangat berat. Ia mengaitkan intensitas permohonan tolong yang datang berulang kali dengan situasi tegang yang dialami dr Icha pada saat peristiwa terjadi.

Dr Trimaharani juga menempatkan penjelasan-penjelasan ini sebagai respons atas perhatian publik yang terus berkembang seputar kasus meninggal dr Icha. Ia menegaskan, dari sudut pandang profesionalnya, tindakan medis yang dijalankan dr Icha mengikuti konsultasi dan advis yang telah diberikan.

Kasus ini ramai menjadi sorotan setelah dr Icha meninggal, sementara proses penanganan pasien gigitan ular dilakukan di Rumah Sakit Leona Kefamenanu di Kabupaten Timor Tengah Utara, Nusa Tenggara Timur. Peristiwa itu terjadi pada Jumat (26/6/2026) malam, dan komunikasi dr Trimaharani berlangsung pada malam kejadian tersebut ketika dr Icha, menurut pengakuannya, terus menghubungi dirinya dalam kondisi sangat ketakutan.