Olahraga

Djokovic Menang Lawan Safiullin, Pecahkan Rekor Kemenangan Match Federer di Wimbledon 2026 dan Lanjut Perempatfinal

×

Djokovic Menang Lawan Safiullin, Pecahkan Rekor Kemenangan Match Federer di Wimbledon 2026 dan Lanjut Perempatfinal

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi: Wimbledon 2026 results: Novak Djokovic beats Roman Safiullin to break Roger Federer's match-wins record

jurnalistik.co.id – Novak Djokovic mencatat rekor kemenangan terbanyak di tunggal putra Wimbledon setelah menundukkan petenis kualifikasi Roman Safiullin dan memastikan diri melaju ke perempatfinal.

Juara berkepala 39 tahun itu sebelumnya menyamai capaian Roger Federer lewat kemenangan di babak ketiga pada Jumat, lalu menambah satu langkah lagi pada laga hari Minggu. Dengan kemenangan 7-6 (8-6), 6-3, 3-6, 6-3, Djokovic meraih kemenangan ke-106 di SW19.

Angka tersebut membuat Djokovic memegang rekor all-time untuk jumlah kemenangan pertandingan di Wimbledon, melampaui catatan yang pernah dicatat Federer. Secara keseluruhan, rekor kemenangan terbanyak masih berada di tangan Martina Navratilova dengan 120 kemenangan di era tunggal putri.

Selain mengunci posisi di delapan besar, Djokovic juga membawa ambisi lain yang terkait dengan torehan Federer. Ia kini berburu kesetaraan rekor delapan gelar Wimbledon putra, sekaligus mengejar major ke-25 secara keseluruhan.

Safiullin sesungguhnya datang sebagai ujian yang lebih berliku dari yang dibayangkan banyak pihak. Meski berstatus kualifikator dan menempati peringkat ke-132, petenis Rusia berusia 28 tahun itu mampu memanjangkan perlawanan melampaui ambang tiga jam.

Perjalanan Safiullin menuju laga ini tak singkat. Ia sempat menang dramatis di babak ketiga atas Joao Fonseca, menyertai emosi yang terlihat jelas setelah pertandingan tersebut, terutama dalam konteks pemulihan cedera yang sempat dikhawatirkan tidak akan pulih sepenuhnya dalam waktu dekat.

Dalam pertemuan-pertemuan sebelumnya melawan Djokovic, Safiullin pernah kesulitan, tetapi kali ini ia tetap konsisten. Ia mampu mengambil set pertama untuk memecah pola pertemuan mereka, sebuah capaian yang baru terjadi dalam empat pertemuan level tur melawan mantan petenis nomor satu dunia tersebut.

Djokovic, meski dipandang lebih diunggulkan, tidak melalui laga dengan mudah. Di awal pertandingan, ia sempat menghadapi masalah pada matanya, sebelum kemudian menerima peringatan terkait ujaran yang dapat terdengar.

Situasi itu makin menegangkan saat Djokovic kehilangan servis pada set ketiga. Momen tersebut diikuti insiden saat ia memukul bola ke sisi lapangan yang berseberangan, dan keberuntungan tampak berpihak padanya karena ia terhindar dari konsekuensi lebih berat.

Kendati demikian, dinamika pertandingan berbelok ketika Djokovic kembali menemukan ritme. Setelah Safiullin lebih percaya diri dan menanggapi break servis pertama dengan memenangkan lima dari enam gim berikutnya, Djokovic sempat dipaksa bekerja ekstra untuk menjaga jarak.

Namun, peluang besar itu tidak sepenuhnya berbuah manis bagi Safiullin. Saat berusaha mengunci set di angka 5-3 dengan posisinya sebagai penyaji, ia gagal mengonversi keunggulan dan akhirnya tersungkur di tie-break.

Set kedua memperlihatkan ketahanan Safiullin yang tetap mengimbangi. Ia terus “menempel” hingga Djokovic mendapat celah pada gim keenam, yang kemudian membuka jalan menuju momen-momen penentu berikutnya, termasuk hadirnya peluang break keempat untuk Djokovic.

Tekanan yang terkumpul dari serangkaian laga panjang juga terasa pada Safiullin. Ia sempat memerlukan medical timeout karena masalah pada kaki bagian kiri saat set ketiga berlangsung.

Di tengah kondisi itu, Djokovic tetap tidak kehilangan fokus. Petenis Serbia itu mencatatkan servis pertama hanya 57% dari yang ia lakukan, namun ia memanfaatkan momen setelah Safiullin sempat meraih peluang break keenam ketika skor berada di 4-2.

Insiden setelah itu mendapat sorakan penonton karena reaksi Djokovic dinilai terlalu emosional. Akan tetapi, ia mampu mereset mental dan membalas pada awal set keempat, tepat ketika ritme Safiullin mulai menurun.

Pada set keempat, Djokovic langsung menekan dengan break menuju permainan “love” pada gim kedua. Dari titik itu, Safiullin terlihat kesulitan menjaga tempo, sementara Djokovic memperpanjang tekanan sampai akhirnya memaksa penutup kemenangan.

Djokovic menutup laga dengan reli yang berujung pada momen penting: ia mengangkat bola melewati drop shot menjelang akhir, lalu memastikan kemenangan saat servis pada permainan “love”.

Setelah poin terakhir, Djokovic merayakan kemenangan dengan mendekati Safiullin di net. Tepuk tangan hangat terdengar untuk penampilan Sang kualifikator, yang perjalanan medalnya sampai di sini menjadi penanda bahwa ia mampu mengganggu ekspektasi meski bukan unggulan utama.

Kini Djokovic menunggu lawan berikutnya di perempatfinal. Ia akan menghadapi pemenang dari pertandingan antara Felix Auger-Aliassime, selaku unggulan ketiga asal Kanada, atau Alejandro Davidovich Fokina dari Spanyol.

Di Wimbledon tahun ini, Djokovic sudah melewati empat kemenangan dan tiga di antaranya berakhir dengan pertandingan sampai empat set. Ia tetap berada dalam perburuan sejarah setelah meraih perempatfinal ke-17 di Wimbledon.