jurnalistik.co.id – Sidang inquest mengungkap bahwa mantan pemain Sheffield United, Maddy Cusack, menyimpan rapat persoalan kesehatan mentalnya karena khawatir akan dicap dan diejek. Kekhawatiran itu disampaikan dalam kesaksian yang berhubungan dengan kematiannya pada 2023.
Cusack, 27 tahun, ditemukan meninggal dunia di rumahnya di Horsley, Derbyshire, pada 20 September 2023. Dalam persidangan, keluarganya menggambarkan suasana yang ia alami sebelum wafat sebagai sesuatu yang makin menekan hingga akhirnya ia tidak mampu mengatasinya.
Kecemasan atas stigma dan ketakutan jadi bahan olok-olok
Ayah Cusack, David Cusack, mengatakan putrinya takut distigmatisasi dan diridikuli terkait kondisi mental yang ia alami. Ia menyebut anaknya merasa bila kesehatan mental digunakan sebagai alasan, Cusack tidak akan bertahan di tim.
David Cusack menuturkan hal itu juga memengaruhi pilihan Cusack untuk tidak membuka diagnosa secara spesifik kepada pihak medis. Ia memberi gambaran bahwa putrinya menganggap kondisi tersebut sebagai risiko sosial di lingkungan kerja olahraga.
Ia juga menyampaikan bahwa dokter umum (GP) mencatat Cusack tengah cemas, tidak bisa tidur, dan memiliki pikiran yang mengganggu. Dalam pembahasan soal surat sakit (sick note), Cusack disebut ragu karena tidak ingin dianggap menyandang stigma tertentu.
âI think that was as a result of the contract,â kata David Cusack dalam keterangannya, merujuk pada periode Cusack mulai tak berdaya secara emosional. Namun pada bagian lain, ayahnya menegaskan keyakinan keluarga bahwa putrinya bukan berada pada titik putus asa yang sama dengan gagasan âbunuh diriâ.
David Cusack menyatakan, âWe thought she was depressed, not suicidal.â Ia menambahkan bahwa ketika muncul pertanyaan mengenai komentar Cusack yang disebut âno futureâ, keluarganya kembali pada kesimpulan tersebut.
Perubahan hubungan dengan pelatih dan dampak kontrak
Dalam sidang, David Cusack mengaitkan penurunan semangat Cusack dengan situasi profesional yang ia hadapi. Ia menyebut proses kepulangannya kembali bertemu pelatih yang tidak disukai, serta perubahan dalam kontrak, membuat Cusack kehilangan motivasi.
David Cusack juga membahas sosok Jonathan Morgan, yang disebut sebagai pelatih yang membebani dinamika saat Cusack bermain. Ia mengatakan Cusack tidak pernah menemukan sosok karakter seperti Morgan sebelumnya, termasuk âthe way he dealt with peopleâ.
Ia menggambarkan bahwa Cusack pernah merasa sangat bahagia ketika meninggalkan Leicester pada 2019. Menurutnya, saat itu Cusack menjalani masa bermain part-time untuk Sheffield United sambil bekerja penuh waktu di tim pemasaran klub.
Ayahnya bahkan mengatakan Cusack adalah âthe happiest she had ever beenâ pada Natal sebelum ia meninggal. Kendati demikian, David Cusack menuturkan putrinya kemudian âdismayedâ saat mengetahui Morgan akan bergabung dengan klub pada Februari 2023.
David Cusack turut menyampaikan bahwa Cusack mulai melonggarkan disiplin terhadap pola makan sehat sebelum akhir hayat. Ia menggambarkan perubahan itu bukan karena âletting herself goâ, melainkan sebagai sinyal demotivasi dan penurunan energi yang ia rasakan semakin mendekati waktu wafat.
Stres menggabungkan peran dan beban kerja harian
Ketidaknyamanan Cusack tidak hanya dikaitkan pada relasi dengan pelatih, tetapi juga pada susunan kerja yang berubah. Ia disebut menjadi lebih sulit bagi Cusack untuk menjalankan pekerjaan pemasaran ketika peran bermain berubah.
Dalam persidangan, Morgan yang mewakili dirinya sendiri menanyakan apakah Cusack mengetahui bahwa ia meninggalkan Leicester karena cedera hamstring yang membatasi waktu bermain. Cusack, menurut kesaksian ayahnya, mengatakan ia berpikir putrinya tidak tampil di pertandingan Leicester karena âclash of personalitiesâ.
David Cusack menambahkan bahwa kontrak baru untuk bermain penuh waktu di Sheffield United yang diberikan pada Juni 2023 membuat putrinya kesulitan mengerjakan tugas pemasaran. Ia menyebut pekerjaan pemasaran kemudian menjadi peran paruh waktu dan berujung pada bayaran yang lebih rendah dibanding tahun sebelumnya.
Ayahnya menyatakan, âcontract had been âthe worst thing that could have happenedâ.â Ia menggambarkan hubungan perubahan kontrak itu dengan kesehatan Cusack yang mulai memburuk pada Juli, di mana proses tersebut âstrung out most of the summerâ.
Ia menuturkan Cusack cemas dan khawatir tentang cara menggabungkan dua peran sekaligus. âThe money was less than it was the previous year,â katanya, serta menambahkan bahwa Cusack seolah kehilangan semangat yang ia sebut sebagai âjoie de vivreâ.
David Cusack juga menyebut Cusack dapat bekerja tujuh hari dalam seminggu, dengan latihan dan tugas pemasaran pada hari kerja serta pertandingan pada akhir pekan. Menjelang Agustus, ia menggambarkan Cusack âunwellâ dan âunhappyâ, mengalami kecemasan tentang bagaimana ia menyatukan peran itu serta tidak memiliki waktu luang.
Dukungan klub dan surat sakit yang tidak menyebut diagnosis
Dalam kesaksian berikutnya, inquest mendengar bahwa Sheffield United tidak memberikan psikoterapi atau dukungan lain untuk Cusack. Meski demikian, Cusack disebut memperoleh sick note dari seorang dokter untuk mengambil waktu libur dari pekerjaan.
David Cusack menjelaskan bahwa Cusack diresepkan obat. Ia menegaskan bahwa Cusack tetap merasa menggunakan kesehatan mental sebagai alasan akan membuatnya tersisih dari tim, sehingga ia memilih menyembunyikannya dan menanggung beban tersebut sendiri.
Ia juga menyampaikan kritik bahwa stigma tidak hanya muncul dalam percakapan, tetapi juga dalam struktur organisasi. âIt wouldn’t be the first time an organisation stigmatised someone not well enough to work,â ucapnya dalam persidangan.
Mengenai isi catatan medis, Dr Bhatti menjelaskan bahwa Cusack tidak ingin diagnosis spesifik dicantumkan pada surat sakit. Ia disebut meminta agar catatan tersebut menuliskan âgenerally unwellâ alih-alih detail diagnosis tertentu, karena kekhawatiran akan distigma.
David Cusack menambahkan bahwa klub tidak memberikan dukungan apa pun bagi putrinya. Ia juga menceritakan momen setelah menemukan Cusack dalam kondisi tidak sadarkan diri dan upaya melakukan CPR.
Investigasi klub dan keberlanjutan inquest
Setelah kematian Cusack, keluarga menyatakan keinginan agar pihak yang dianggap bertanggung jawab diminta mempertanggungjawabkan tindakan mereka. David Cusack menyebut ia memilih menyusun keluhan berdasarkan apa yang ia pahami sebagai masalah-masalah yang dialami Cusack, dan menegaskan bahwa Morgan adalah pihak yang menjadi pusat perhatian keluhan tersebut.
Di sisi lain, Sheffield United melakukan investigasi internal yang menurut persidangan berakhir pada Desember 2023. Hasil investigasi itu menyatakan tidak ada bukti pelanggaran.
Sidang inquest masih berlanjut, sementara kesaksian keluarga dan keterangan medis menempatkan stigma, perubahan kontrak, serta dinamika di tempat kerja sebagai rangkaian faktor yang digambarkan memengaruhi kondisi Cusack menjelang akhir hayatnya.











