Bisnis & Ekonomi

Rupiah Melemah, Pedagang Kecil Semarang Tertekan Kenaikan Harga Plastik dan Bahan Baku

0
×

Rupiah Melemah, Pedagang Kecil Semarang Tertekan Kenaikan Harga Plastik dan Bahan Baku

Sebarkan artikel ini
Rupiah Melemah, Pedagang Kecil di Semarang Terimpit Kenaikan Harga Plastik dan Bahan Baku Regional 12 Juni 2026
Ilustrasi: Rupiah Melemah, Pedagang Kecil di Semarang Terimpit Kenaikan Harga Plastik dan Bahan Baku

jurnalistik.co.id – Di Semarang, kenaikan harga yang ditopang pelemahan nilai tukar rupiah membuat pelaku usaha kecil harus menata ulang biaya operasional. Penjual makanan dan jajanan harian merasakan dampaknya langsung, mulai dari kebutuhan kemasan hingga bahan baku utama.

Rusno (56), pedagang buah potong keliling di kawasan Pleburan, Kota Semarang, mengatakan biaya usahanya terus bertambah karena harga kemasan plastik dan harga buah ikut naik. Ia mengaku penurunan mulai terasa sejak harga plastik melonjak.

Rusno menuturkan harga plastik mika yang digunakan untuk mengemas buah potong melonjak lebih dari dua kali lipat. Ia menyampaikan, “Sekarang jualannya rada menurun semenjak plastik mahal. Jadi semuanya barang-barang naik semua. Mika (pembungkus buah) yang dulu Rp 5.000 sekarang jadi Rp 11.000,”

Selain kemasan, Rusno menyebut harga sejumlah jenis buah juga naik. Menurutnya, semangka, melon, dan beberapa buah lainnya mengalami kenaikan masing-masing sekitar Rp 5.000 hingga Rp 10.000 per buah dibanding sebelumnya.

Meskipun biaya produksi meningkat, Rusno memilih tidak menaikkan harga jual buah potong yang selama ini dipasarkan kepada pelanggan setianya. Ia mengatakan ada kekhawatiran jika harga naik, pembeli akan berkurang.

Ia menjelaskan pilihannya dengan mempertimbangkan harga yang berlaku di lapangan, “Teman-teman sudah banyak yang jual Rp 15.000 per mika, tapi saya masih bertahan. Kalau saya naikkan, takut pelanggan tidak beli lagi,” ujarnya. Keputusan untuk bertahan membuat keuntungan yang diperolehnya semakin tipis, sementara daya beli masyarakat yang menurutnya sedang melemah ikut menekan penjualan.

Rusno juga menggambarkan perbedaan hasil penjualan saat hari ramai dan hari biasa. Pada hari ramai, ia masih bisa menjual lebih dari 50 mika buah potong, sedangkan pada hari biasa penjualannya berkisar antara 30 hingga 40 mika.

Ia menambahkan, “Kalau dulu jam tiga sore sudah pulang, dagangan sudah habis. Sekarang sampai magrib, kadang lebih dari magrib baru habis,” kata Rusno. Ia menilai kondisi saat ini menjadi salah satu periode tersulit yang pernah dihadapinya selama berjualan sejak 1998.

Rusno membandingkan situasi sekarang dengan masa-masa sebelumnya. Ia mengatakan, “Dibanding 1998 zaman Pak Harto itu sekarang lebih parah. Dulu waktu Corona tidak separah ini karena harga-harga masih stabil. Sekarang semuanya naik,” ungkapnya. Ia juga menyebut mahalnya plastik dan BBM ikut memicu kenaikan harga bahan baku untuk usahanya.

Keluhan serupa disampaikan Ida, penjual nasi goreng di Semarang. Menurutnya, mahalnya kebutuhan pokok yang menjadi bahan baku membuat usaha ikut tertekan, baik dari sisi biaya maupun stok yang tersedia.

Ida mengaku kondisi tersebut membuatnya merasa tertekan saat berbelanja. Ia mengatakan, “Stres kalau mikirin bahan pokok, jadi emosi kalo pergi ke pasar liat harga minyak, bumbu, mie, semuanya naik.”

Ia kemudian memaparkan perubahan harga yang ia lihat di pasar. “Tadi beli bawang biasanya Rp 28.000 sekarang jadi Rp 32.000. Terus bawang merah sampai Rp 50.000. Plastik semua naik sampai Rp 10.000, garam dari Rp 65.000 jadi Rp 75.000, minyak dua liter Rp 38.000 jadi Rp 42.000,” beber Ida.

Selain harga yang naik, Ida juga mengungkapkan kesulitan mendapatkan bahan baku karena stok di pasar dinilai kerap telah diborong. Ia menilai situasi ini berkaitan dengan program Makan Bergizi Gratis (MBG).

Ida mengatakan penjualan tidak menurun drastis, namun keuntungan yang ia terima tetap sedikit. Ia menambahkan bahwa kondisi stok yang tersisa di pasar ikut menimbulkan kelangkaan dan akhirnya mendorong kenaikan harga bahan pokok.

Ia menjelaskan, “Beli brokoli kalau udah keduluan MBG sekilo bisa Rp 30.000 di pasar. Terus penyedap Totole juga langka di pasar, penjualnya sendiri bilang udah habis didrop buat MBG,”

Dari dua cerita tersebut, terlihat bahwa tekanan biaya tidak hanya bersumber dari kenaikan harga satu komponen, melainkan merembet dari kemasan, bahan baku, hingga ketersediaan di pasar. Bagi pedagang kecil, pilihan untuk bertahan tanpa menaikkan harga juga menjadi strategi yang harus dibayar dengan margin yang semakin menipis ketika daya beli melemah.