Peristiwa

Cegah Api Kembali di TPA Jatibarang Saat Kemarau, Damkar Semarang Siram Tiap Dua Hari

×

Cegah Api Kembali di TPA Jatibarang Saat Kemarau, Damkar Semarang Siram Tiap Dua Hari

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi: Cegah Kebakaran Terulang saat Musim Kemarau, Damkar Semarang Siram TPA Jatibarang Tiap Dua Hari

jurnalistik.co.id – Pemerintah Kota Semarang menyiapkan langkah antisipasi agar kebakaran kembali tidak melanda Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Jatibarang selama musim kemarau 2026. Langkah ini dilakukan menyusul kejadian kebakaran besar yang sempat terjadi di lokasi tersebut dalam beberapa tahun terakhir.

Penanganan khusus itu menjadi bagian dari upaya mitigasi yang lebih terukur, bukan sekadar respons saat api sudah muncul. Dengan kondisi kemarau, potensi panas pada tumpukan sampah dinilai bisa meningkat sehingga perlu pengendalian sejak awal.

Dalam catatan peristiwa sebelumnya, kebakaran besar pernah terjadi pada September 2023. Saat itu, api menghanguskan sekitar lima hektare area timbunan sampah di TPA Jatibarang.

Proses pemadaman pada insiden tersebut juga berlangsung tidak cepat. Api sulit dipadamkan karena membakar bagian dalam tumpukan sampah, sehingga penanganan berlangsung berhari-hari.

Kebakaran serupa kemudian kembali muncul pada musim kemarau tahun berikutnya. Meski tetap berhasil dikendalikan lebih cepat dibanding kejadian pada 2023, peristiwa tersebut memperlihatkan bahwa pengawasan pada periode panas tetap harus diperketat.

Untuk mencegah kebakaran berulang, Dinas Pemadam Kebakaran (Damkar) Kota Semarang mulai menjalankan rangkaian kegiatan sejak pertengahan Juli 2026. Di antaranya adalah penyiraman berkala dan pemasangan pipa injeksi pada titik-titik yang dinilai rawan memunculkan panas.

Penyiraman rutin tiap dua hari

Menurut Kepala Bidang Operasional Damkar Kota Semarang Tantri Pradono, penyiraman dilakukan untuk menjaga suhu timbunan sampah tetap stabil. Aktivitas itu dijalankan dengan ritme tertentu selama musim kemarau agar potensi titik api dapat ditekan sejak dini.

“Mulai tanggal 15 Juli 2026 kita setiap dua hari sekali melakukan penyiraman di TPA Jatibarang mulai pukul 10.00 sampai 13.00 WIB,” kata Tantri kepada Kompas.com, Jumat (24/7/2026).

Tantri menjelaskan, jadwal tersebut dipilih sebagai bagian dari pola pengendalian suhu pada jam-jam tertentu. Dengan waktu penyiraman yang konsisten, diharapkan panas di area timbunan tidak mudah meningkat hingga memicu pembakaran.

Ia menegaskan bahwa penyiraman rutin tidak berhenti setelah beberapa hari. Program itu akan terus dijalankan sepanjang kemarau sebagai mekanisme mitigasi di kawasan TPA Jatibarang.

Pipa injeksi untuk membasahi bagian dalam

Selain penyiraman dari permukaan, Damkar bersama Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Semarang juga memasang pipa injeksi. Pipa itu disiapkan pada area yang berpotensi mengalami kenaikan suhu, sehingga penurunan panas dapat dilakukan lebih merata hingga ke bagian dalam timbunan.

Tantri menyebut proses pemasangan dilakukan bersama pejabat terkait dari Damkar, DLH, serta pihak pengelola TPA. “Kemarin siang kami bersama Pak Kadis, Pak Sekdis, Kepala DLH dan Kepala TPA Jatibarang memasang pipa injek di lokasi yang rawan terhadap timbulnya panas yang bisa menghasilkan api,” ujarnya.

Fungsi utama pipa injeksi adalah mengalirkan air hingga ke bagian dalam timbunan sampah. Cara ini, menurut Tantri, dinilai lebih efektif dibanding hanya menyiram permukaan.

“Fungsi pipa injek itu untuk membasahi di dalam tumpukan sampah agar mengurangi panas,” jelasnya.

Ia menambahkan, pendekatan tersebut ditujukan untuk menekan mekanisme yang berpotensi memicu kebakaran akibat pembakaran sendiri (self combustion). Ketika panas di bagian terdalam dapat diturunkan, risiko terbentuknya titik api di dalam tumpukan dapat diminimalkan.

Karena itu, kombinasi penyiraman berkala dan pemasangan pipa injeksi dipilih sebagai paket pencegahan. Perpaduan kedua langkah diharapkan mampu menjaga kondisi timbunan agar tidak mudah menghasilkan bara atau titik yang kemudian berkembang menjadi api.

Tantri memastikan, implementasi di lapangan akan mengikuti rencana selama musim kemarau. “Iya kita lakukan penyiraman dua hari sekali di TPA selama musim kemarau,” katanya.

Dari sisi kebijakan, pola pengendalian yang dijalankan Pemkot Semarang juga berangkat dari pengalaman penanganan kebakaran pada musim kemarau sebelumnya. Baik kejadian September 2023 maupun kebakaran pada tahun berikutnya menjadi dasar bahwa pengawasan tak bisa menunggu hingga api muncul.

Dengan langkah antisipatif tersebut, pemerintah menargetkan mencegah terulangnya kebakaran besar seperti yang pernah terjadi ketika kondisi panas membuat tumpukan sampah sulit dikendalikan. Upaya itu diharapkan membuat respon lebih ringan karena potensi pemicu sudah ditekan lebih awal.