Hukum & Kriminal

Usus Buntu Pecah pada Anak Samarinda, Keluarga Duga Salah Diagnosis hingga Bernanah dan Infeksi Perut

×

Usus Buntu Pecah pada Anak Samarinda, Keluarga Duga Salah Diagnosis hingga Bernanah dan Infeksi Perut

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi: Anak Samarinda Alami Usus Buntu Pecah Diduga Salah Diagnosis, Bernanah hingga Infeksi Perut

jurnalistik.co.id – Seorang anak berusia enam tahun asal Samarinda, Kalimantan Timur, menjalani operasi bedah terbuka setelah usus buntunya pecah. Keluarga pasien menduga kondisi itu dipicu keterlambatan diagnosis saat anak berulang kali berobat ke fasilitas kesehatan tingkat pertama.

Peristiwa ini bermula dari keluhan sakit perut yang dikeluhkan sejak awal Juli 2026. Anak tersebut merupakan putra Sulung Nugroho, warga Samarinda Utara, yang kemudian mengikuti perkembangan penanganan sejak pemeriksaan pertama.

Kronologi berobat di Puskesmas Lempake

Menurut keluarga, ibu pasien membawa anak ke Puskesmas Lempake pada Selasa (8/7/2026). Pada kunjungan awal itu, dokter menyampaikan bahwa korban mengalami gangguan lambung dan memberikan obat.

Hingga Jumat (11/7/2026), keluhan anak disebut tidak juga membaik. Keluarga kemudian kembali membawa korban ke puskesmas dengan harapan mengetahui penyebab penyakit yang dialami.

Dalam kunjungan lanjutan tersebut, kondisi korban disebut semakin lemah dan tetap mengeluhkan nyeri di bagian perut. Meski begitu, keluarga menyebut diagnosis yang diberikan tetap sama dan korban kembali dipulangkan dengan obat yang sebelumnya juga diberikan.

Setelah rangkaian pemeriksaan di puskesmas, keluarga membawa anak ke instalasi gawat darurat pada Sabtu (12/7/2026). Dari fasilitas tersebut, keluarga memperoleh surat rujukan untuk proses pemeriksaan berikutnya.

Keluarga menyampaikan surat rujukan baru bisa digunakan pada Senin (13/7/2026), karena bertepatan dengan akhir pekan. Pada hari tersebut, korban diperiksa di RS dr. Dirgahayu Samarinda.

Temuan USG dan tindakan operasi

Usai pemeriksaan di rumah sakit, hasil ultrasonografi (USG) menunjukkan korban mengalami apendisitis akut atau usus buntu yang sudah pecah. Tim medis kemudian menilai kondisi anak telah terlambat ditangani karena usus buntu yang pecah, disertai bernanah, serta memicu infeksi pada rongga perut atau peritonitis.

Akibat kondisi tersebut, tim medis melakukan operasi laparatomi, yakni pembedahan terbuka pada rongga perut. Keluarga menyebut tindakan operasi besar itu menjadi bagian dari upaya menangani perburukan yang terjadi sebelum akhirnya diagnosis dinyatakan melalui pemeriksaan rumah sakit.

Perawatan intensif hingga dipulangkan

Setelah operasi, anak dirawat secara intensif di ruang PICU selama sekitar 10 hari. Dalam masa pemulihan tersebut, korban kemudian diizinkan pulang pada 23 Juli 2026.

Sementara itu, keluarga menilai ada dugaan kelalaian dalam proses pelayanan medis yang berlangsung pada tahap awal. Penilaian tersebut berangkat dari rangkaian pemeriksaan yang menurut mereka tidak mampu mengidentifikasi penyakit yang diderita hingga kondisi korban terus memburuk dan akhirnya dirujuk ke rumah sakit.

Keluarga juga menegaskan anak sempat mengalami keluhan sakit perut berulang kali, tetapi pada beberapa pemeriksaan awal justru diperlakukan sebagai gangguan lambung. Setelah pemeriksaan lanjutan dan penanganan di rumah sakit, barulah kondisi usus buntu yang pecah dan disertai infeksi pada rongga perut teridentifikasi.

Dalam penelusuran yang disampaikan keluarga, anak sempat memperoleh obat ketika masih dikira mengalami gangguan lambung. Upaya tersebut, menurut mereka, tidak diikuti dengan penilaian yang mengarah pada penyebab keluhan perut yang diderita sejak awal Juli, sehingga nyeri yang dirasakan korban terus berlanjut.

Setelah rujukan digunakan dan pemeriksaan rumah sakit dilakukan, keluarga menyebut hasil pemindaian menunjukkan usus buntu yang telah pecah disertai infeksi di rongga perut. Kondisi tersebut kemudian dinilai memerlukan tindakan medis segera, sehingga tim medis memilih pembedahan terbuka untuk menangani perburukan yang terjadi sebelum diagnosis lengkap dipastikan.

Pascaoperasi, anak dirawat intensif di ruang PICU selama sekitar sepuluh hari sebelum akhirnya dapat kembali pulang pada 23 Juli 2026. Menurut keluarga, rangkaian layanan sejak kunjungan awal hingga proses pemeriksaan lanjut menjadi dasar dugaan adanya kelalaian pada tahap awal, karena penanganan baru mengarah pada temuan usus buntu setelah korban berada di fasilitas rumah sakit.